Pengkhotbah

Perikop
Roma 12:1

Ringkasan Khotbah

Menurut isinya, Kitab Roma dapat dibagi 2 bagian: (1) Roma 1-11: berisi mengenai pengajaran (doktrin), (2) Roma 12-16: berisi mengenai nasehat/petunjuk praktis. Kita tidak boleh menjadi ekstrim, yang hanya mau belajar mengenai hal-hal yang praktis saja, tidak mau belajar hal yang bersifat doktrin/pengajaran, atau sebaliknya. Sikap ekstrim akan membawa kita kepada kesombongan dan ketidakstabilan rohani kita. Untuk mencapai keseimbangan rohani maka kita harus mau mempelajari keduanya dengan seimbang.

Di bagian nasehat praktis (Roma 12-16), Paulus membukanya dengan “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu…” Dasar semuanya adalah kemurahan Allah. Penjelasan kemurahan Allah berkaitan dengan pembahasan doktrin pada Roma 1-11. Paulus menguraikan dengan jelas mengenai doktrin pembenaran yang mengakui bahwa manusia adalah mahluk yang berdosa.  Tidak ada seorang manusia pun yang mampu memenuhi standard/hukum-hukum yang Allah tetapkan. Di mata Allah semua manusia dalam kondisi bersalah. Untuk bisa diterima oleh TUHAN, manusia memerlukan pembenaran.

Pembenaran itu adalah anugerah TUHAN melalui YESUS KRISTUS yang menjadi manusia, melakukan kehendak Allah dan mati di kayu salib. Dengan percaya, menerima dan mengundang Yesus di dalam hati kita, maka kita pun dibenarkan bukan oleh akibat tindakan kita tetapi oleh iman kepada YESUS. Inilah anugerah, kasih karunia dan kemurahan Allah.

Berdasarkan kemurahan Allah ini, Paulus menasehatkan “supaya kamu mempersembahkan tubuhmu”. Ini adalah tindakan kita sebagai orang yang sudah dibenarkan dan diselamatkan oleh Allah, sebagai yang sudah mendapatkan kemurahan Allah di dalam Yesus. Intinya bahwa kita harus bersedia kehilangan hak atas tubuh kita dan menyerahkan hak tersebut kepada Allah. Roma 11:36: “…segala sesuatu itu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya”. Biarlah Allah yang memegang kendali atas tubuh kita.

Menurut seorang ahli Perjanjian Baru (Barclay), kata tubuh memiliki konotasi sebagai hal-hal yang buruk sedangkan jiwa dianggap hal yang baik. Filsafat ini berkembang menjadi konsep dualisme yang memisahkan antara roh dan tubuh, rohani dan sekuler. Konsep ini masuk juga ke orang Kristen yang memisahkan kegiatan-kegiatan, ada yang untuk Tuhan dan ada yang bukan untuk Tuhan. Paulus ingin meluruskan kesalahan konsep ini, bahwa seluruh kegiatan harus dipersembahkan untuk Tuhan. Baik jasmani dan rohani ini adalah milik TUHAN. Semua pekerjaan dan kegiatan kita adalah untuk kemuliaan TUHAN, bukan untuk diri kita sendiri atau untuk manusia.

Setiap orang yang sudah percaya dan dibenarkan oleh Yesus Kristus harus menjadi hamba Tuhan yang full-timer memuliakan Dia, dengan memberikan yang terbaik dalam hidup kita. Ibadah yang sejati bukan hanya di gereja tetapi di mana pun kita ditempatkan dan kapan pun tetap selalu melakukan yang terbaik dan memuliakan Dia. Ada 3 hal yang disebut Paulus mengenai cara mempersembahkan tubuh kepada Tuhan:

1. Sebagai persembahan yang HIDUP. Kita mempersembahkan keberadaan hidup kita yang masih bisa melakukan hal-hal yang bisa memuliakan YESUS yaitu dengan mempersembahkan bakat dan kemampuan (talenta) kita untuk kemuliaan TUHAN.

2. Sebagai persembahan yang KUDUS. Persembahan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Kita harus terus menjaga dan merawat kekudusan kita.

3. Sebagai persembahan yang BERKENAN DI HADAPAN ALLAH. Persembahan yang menyenangkan TUHAN. Bukan berdasarkan apa yg kita sukai, tapi apa yang TUHAN inginkan.

(BC/01/09)