Ringkasan Khotbah

Ketika Hizkia menjadi raja atas Yehuda, tantangannya adalah raja-raja sebelumnya hidup dalam dosa. Arti Hizkia adalah Yahweh telah menguatkan. Kata menguatkan ini dipakai untuk menunjukkan kekuatan dan keberanian yang diperoleh seseorang dari Tuhan. Kalau Hizkia mau meneruskan kejahatan raja-raja sebelumnya memang tidak perlu kekuatan dari Tuhan. Ayah Hizkia yaitu Ahas berperilaku jahat di hadapan Tuhan (2 Taw 28:22-25). Bagi Hizkia ayahnya memberikan contoh yang sangat buruk, hidup dalam dosa. Dalam 2 Taw 30:10 ketika Hizkia mengirimkan pesan kepada bangsa Israel untuk setia kepada Tuhan, pesuruhnya malah ditertawakan dan diolok-olok. Orang Israel bukannya bersukacita mendengar Firman Tuhan malah mencemooh dan mengejek. Inilah buah dari kejahatan raja-raja yang lampau termasuk Ahas. Demikian juga pada masa pemerintahan raja Zedekia bangsa Yehuda mengejek Yeremia dan Firman Tuhan, yang ujungnya membangkitkan murka Tuhan sehingga tidak ada lagi kesempatan mereka lolos dari pembuangan. Mungkin juga kita mengalami hal-hal seperti itu, mengajak orang datang kepada Tuhan untuk beribadah namun kita malah dicemooh dan diolok-olok.

Hizkia melakukan apa yang benar di mata Tuhan tepat seperti raja Daud (29:2). Benar di sini berarti lurus, layak. Tidak banyak raja yang dikatakan tepat seperti Daud. Raja Asa, raja Amazia dikatakan melakukan apa yang benar, tapi tidak sampai tepat seperti Daud. Dalam 2 Raj 18:5 dikatakan setelah raja Daud yang mendekati Daud hanya Hizkia. Sebelum dan sesudah Hizkia tidak ada yang sama dengannya. Jadi kita bisa mengerti betapa baiknya pembaharuan yang dibawa oleh Hizkia. Untuk melakukan pembaharuan perlu kemauan keras, rela berkorban. Pada waktu Hizkia memulai pembaharuan tentu banyak pejabat yang dulunya adalah pengikut raja Ahas. Bisa dibayangkan banyak pengikut atau pejabat meninggalkan Hizkia, mungkin pendukung ekonomi atau tentara yang kuat. Sanherib raja Asyur datang mengancam dan menghina Hizkia karena Hizkia tidak mau tunduk kepada Asyur dan ikut menyembah berhalanya. Lagi-lagi ini kontras dengan Ahas yang pada waktu diserang kerajaan lain bukannya berlindung kepada Tuhan malah bergantung kepada raja Asyur (2 Raj 14:16-17). Tapi Hizkia menguatkan bangsa Yehuda karena yang menyertai mereka adalah Tuhan (32:7). Aplikasi kita adalah meski banyak kesibukan, ajakan, keinginan dan kebutuhan, kita tetap beribadah di hari minggu.

Untuk mengambil bagian dalam warisan dosa, cukup untuk menjadi manusia, tinggal di dalam daging, dengan sendirinya kita akan terikat oleh dosa. Tetapi untuk menikmati kebenaran Kristus, kita harus menjadi orang percaya karena hanya dengan iman kita bisa disatukan dengan Kristus. Allah memiliki standar kekudusan dan kehendak, dan kita perlu belajar dari Firman Tuhan untuk mencapai standar tersebut. Tidak ada cara lain selain yang dilakukan Hizkia yaitu datang berbalik kepada Tuhan melakukan yang benar. Pembaharuan apa yang dilakukan Hizkia? Pertama, Hizkia membuka pintu-pintu rumah Tuhan dan memperbaikinya (ay.3). Sungguh kontras dengan Ahas ayahnya karena dialah yang menutup bait Allah. Kemudian ia menguduskan rumah Tuhan dan imam (ay.5). Lalu Hizkia mengembalikan peran para imam (ay.11-12). Kalau suatu pekerjaan dikerjakan oleh orang yang serius maka orang sekitar akan turut serius. Dalam keluarga bila ayahnya serius untuk beribadah maka ibu dan anak-anak akan mengikuti. Kita perlu serius menggumuli segala sesuatu agar Tuhan memberkati. Tapi masalahnya sering kali kita tidak serius menggumuli dan mendoakan. Waktu kita menjaga ibadah biarlah kita serius agar tidak mudah terombang ambing. Dalam 2 Taw 26:16-18, Raja Uzia tidak serius, tidak setia mempersiapkan ibadah sehingga dihukum Tuhan dengan sakit kusta. Sementara keseriusan Hizkia membawa sukacita bagi bangsa Yehuda karena ibadah kembali dilaksanakan (29:35-36). Kata ibadah di sini sama dengan pelayanan. Ibadah dan pelayanan adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Waktu kita beribadah kita sedang melayani, menghambakan diri kepada Tuhan. Bila sudah mengalami ibadah dengan Tuhan, mengalami relasi secara pribadi dengan Tuhan, berikutnya kita perlu melayani.

Hizkia setia seumur hidup (31:20-21). Hizkia melakukan apa yang baik, jujur dan benar di hadapan Tuhan. Kata benar sebelumnya kata aslinya adalah yazar, tapi di ayat 20 ini kata aslinya adalah aman, sumber dari kata iman. Sampai akhir hidup Hizkia tetap beriman. Melakukan apa yang benar adalah perilaku orang beriman. Hizkia adalah orang yang menghasilkan buah iman, yaitu jujur, baik dan benar. Hendaknya kita nanti dikenang sebagai seorang yang mewariskan kesaksian hidup beriman yang baik, jujur dan benar. Memang Hizkia pernah jatuh juga dalam kesombongan, ketika orang-orang Babel datang diperlihatkan semua kejayaannya, tapi setelah itu ia berbalik kembali.

Pada waktu kita dihadapi dengan pencobaan, apakah kita bisa bertahan setia kepada Tuhan? Marilah kita belajar dari Hizkia, serius mengikuti panggilan Tuhan kepadanya dan setia sepanjang hidupnya.