Pengkhotbah

Perikop
Efesus 5:1-10

Ringkasan Khotbah

Dari kondisi perbedaan latar belakang, jemaat Efesus telah menimbulkan berbagai konsep tentang kehidupan praktis mereka. Memang perilaku manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor ini: Gen orang tua/ faktor keturunan, lingkungan di mana dia dibesarkan, agama yang dianut, dan kebenaran. Oleh sebab itu, Paulus tidak memberikan dasar pertimbangan perilaku yang dari dunia ini. Ia mendorong mereka untuk menguji segala sesuatu dari sudut pandang yang berkenan kepada Tuhan. Istilah “berkenan” diartikan layak, menyenangkan. Istilah “ujilah” (dokimasai) ini sebenarnya menjelaskan bahwa sesuatu itu telah melewati sebuah proses sehingga kebenaran tersebut layak atau dapat diterima.

Paulus menulis kepada Timotius bahwa “Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga” (2 Timotius 2:5). Setiap peserta pertandingan, harus menaati setiap peraturan. Jika tidak, mereka akan dikenakan sanksi. Demikian juga dalam mengiring Tuhan, Ia menghendaki agar kita memahami standar kebenaran yang Ia inginkan sehingga kita dapat belajar menaatinya.

Kita belajar dari Paulus bahwa setiap orang dapat saja mengaku beragama, bahkan Kristen. Tetapi pertanyaannya ialah: “Apakah ia pernah bergumul secara batin bahwa ia sedang melakukan yang berkenan kepada Tuhan? Oleh sebab itu, Paulus menunjukkan prinsip-prinsip hidup Kristen yang berkenan: Jadilah penurut-penurut Allah (ayat 1), di atas tadi telah kita lihat bahwa Allah adalah sumber kebenaran. Karena itu, tidak salah jika ia menuntut umat-Nya untuk menuruti-Nya. Istilah “penurut-penurut” sebenarnya berarti peniru (imitator). Dengan demikian, kekristenan adalah sebuah agama yang dimampukan untuk meniru sifat-sifat Allah. Hidup dalam Kasih (ayat 2), Kristus telah memberi teladan kepada orang percaya yaitu menyerahkan diri-Nya sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Persembahan yang harum sebenarnya diambil dari tradisi PL yang ditulis di kitab Imamat bahwa Tuhan menghendaki persembahan yang baunya menyenangkan (Imamat 2:9, 3:16, 8:21, dst). Kristus telah menggenapi semua persembahan tersebut ketika Ia menyerahkan Diri-Nya menjadi persembahan yang menyenangkan bagi Allah (Ibrani 9:14-15). Di sana disebutkan bahwa “Kristus telah mempersembahkan diri-Nya kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat”. Bila hal ini ditelusuri, akan nyata bahwa penyerahan diri-Nya bukan karena paksaan dari pihak manapun. Semua hal ini dikerjakan oleh Kristus karena kasih-Nya. Istilah “mengasihi” di sini ialah mengasihi dengan kasih agape/tanpa menuntut balasan. Melawan setiap perilaku dosa (ayat 3-6), hidup yang kekal berarti sekarang kita sudah mempunyai hubungan pribadi dengan Allah, telah diperkenalkan dengan Allah dan Allah telah menjadi Allah kita dan kita telah menjadi umat-Nya, dan kita telah memulai bersekutu dengan Dia, kita telah mulai hidup bersama-sama dengan Dia. Oleh sebab itu, marilah kita belajar hidup melawan dosa. Paulus menguraikan beberapa hal yang harus dikalahkan yaitu: Percabulan (3). Yun: πορνεία/porneia. Istilah inilah yang diadopsi oleh bahasa Inggris dan Indonesia=pornografi. Karena itu, bahasa Inggris menulis ayat ini dengan “sexual immorality”=perilaku seks yang tidak bermoral atau penyelewengan seksual. Contoh: Yohanes 8:3 “seorang perempuan yang kedapatang berbuat zinah”. Kecemaran, sesuatu yang tidak kudus. Keserakahan. Istilah kata ini dalam bahasa Yunani: pleoneksia. Pleion=jumlah yang lebih. Exo=memiliki. Jadi, kata ini menjelaskan bahwa seseorang yang ingin memiliki lebih dari jumlah yang semestinya, ia serakah. Bagaimana ciri-ciri keserakahan? Bagaimana mengendalikan keserakahan? Ibrani 13:5 “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu”. Perkataan (ay. 4): perkataan kotor; kosong (Yunani: MOROLOGIA). Kata ini ditulis dengan dua suku kata Yunani: MOROS=membosankan, tidak berhenti. LEGO=perkatan tentang kesimpulan. Jadi MOROLOGIA berarti perkataan yang membosankan tanpa ada tujuannya; sembrono (ay. 4)

Dari semua istilah kata-kata yang diuraikan di atas, saya sangat kagum melihat penulisan kata-kata tersebut. Mengapa saya katakan demikian? Semua kata-kata mulai dari percabulan sampai sembrono dalam bahasa Yunani bersifat FEMINIM. Artinya: ia memiliki daya tarik yang sangat besar dan menggoda. Tetapi satu hal yang patut diingat bahwa godaan tersebut dapat dikalahkan dengan kekuatan dan kuasa Roh Kudus. Inilah kelebihan kekristenan. Kita dikuasai oleh Roh Kudus yang dapat mengalahkan semua godaan dosa ini. Mengapa harus dijauhi perilaku ini? a. Tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (ay. 5), b. Mendatangkan murka Allah (ay. 6).

Berbicara tentang kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, kita perlu mendasarinya dari sudut pandang Kebenaran Allah yang berkuasa menolong dan memberi kekuatan kepada kita sehingga kita. Cara pandang dunia bukan lagi referensi kita. Hanya Firman Allah yang menjadi dasar kehidupan kita. Berdasarkan kebenaran Firman Allah, kita dapat menjadi: penurut-penurut Allah, hidup dalam Kasih, mengalahkan Dosa.