Pengkhotbah

Perikop
1 Petrus 3:1-9

Ringkasan Khotbah

Bagaimana menyatukan pemahaman suami-istri agar sesuai dengan keteladanan dan kehidupan Kristus?

Dalam dunia ini hanya ada 2 institusi yang didirikan Tuhan sendiri secara langsung, yaitu Gereja (Matius 16:18-19) dan Rumah Tangga (Kejadian 1:26-28). Posisi dari kedua institusi tersebut samalah pentingnya sehingga kita perlu bijak dalam mengatur waktu kita untuk Gereja/pelayanan dan Rumah Tangga.

Seorang konselor pernah berkata, seseorang yang berkepribadian matang masuk dalam gereja tidak terlepas dari peran orangtuanya dalam mempersiapkan anak2nya untuk masuk dalam Gereja. Tetapi justru terbalik yaitu orang yang tidak dipersiapkan dari rumah masuk ke dalam gereja maka akan menghasilkan generasi yang tidak matang untuk melayani. Contohnya kepribadian orang yang manja akan terus berlanjut di Gereja, misalnya biasa meminta orang lain untuk melakukan apa yang dia inginkan karena hal itu telah terbentuk di lingkungan rumah tangga.

Kita bisa lihat dari uraian Petrus tentang pribadi yang matang: Buanglah kejahatan dan kemunafikan (1 Petrus 2:1), Menjauhkan diri dari keinginan daging (2:11), Milikilah cara hidup yang baik (2:12), Tidak mempergunakan kemerdekaannya untuk menyelubungi kejahatannya (2:16), Memiliki rasa hormat kepada Tuhan dan sesame (2:17), Rendah hati kepada tuan, bahkan kepada tuan yang bengis sekalipun (2:18), Rela menderita seperti Kristus (2:19-24)

Karakter di atas akan terbentuk jika: a) telah menerima Kristus (1 Petrus 2:9-10); b) hidup untuk kebenaran (1 Petrus 2:24); c) kembali kepada Allah sebagai gembala dan pemelihara jiwa (1 Petrus 2:25). Seorang penulis Novel dari Rusia ‘Leo Tolstoy’ berkata dalam bukunya, “Banyak orang yang berambisi mengubah dunia. Banyak orang yang berambisi mengubah orang lain. Tetapi terlalu sedikit orang yang mau mengubah dirinya sendiri dan tidak hanya mau menuntut pihak lain untuk mengerti dirinya.

Bagaimana nilai hidup yang harus kita miliki?

  1. Hidup murni dan saleh (1 Petrus 3:2), sebuah tuntutan kepada Istri di mana dia harus memiliki sikap yang rohani. NIV=purity and reverence=kemurniaan dan penghormatan. NASB=chasty and respectful=perilaku suci dan hormat. KJV=chaste conversation coupied with fear=percakapan suci ditambah dengan rasa takut, ketakutan di sini dimaksudkan adalah penghormatan (Filipi 2:5).Mengapa nasihat tersebut diberikan:
    • Konteks jemaat hidup di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi (1 Petrus 2:12)
      • Ada yang menikah dengan orang-orang kafir dan mereka baru bertobah setelah menikah
      • Ada suami-istri yang dua2nya bukan Kristen tetapi kemudian istri mereka lebih dahulu bertobat
    • Sikap hidup Kristen sejati inilah yang akhirnya Petrus tuntut dari Jemaat. Ayat 1b menulis bahwa istri yang sudah bertobat perlu menghemat perkataan jangan hanya menggurui tetapi tunjukkanlah wujud imanmu.
  2. Perhiasan yang berharga di mata Allah (ay. 4). Sebuah survey di AS (31 Maret 2008): 1 dari 3 pasangan dipastikan cerai; survey terhadap 3.792 psangan didapati bahwa 84% pasangan yang sudah lahir baru dapat bertahan. Sebuah penelitian lain mengatakan bahwa: peranan ibu dalam rumah tangga sangat besar dan memiliki kekuatan rohani. ¾ dari 10.000 jiwa ibu-ibu percaya bahwa iman sangat penting bagi mereka, sedangkan suami hanya 2/3 saja.Arti kata “yang berharga di mata Allah” ditulis dengan bahasa Yunani “πολυτελ” (polyteles) yang dipakai juga di dalam Mar 14:3 “yang mahal harganya” dan 1 Tim 2:9 “pakaian yang mahal-mahal”. Sesuatu yang bernilai tinggi, sesuatu yang bernilai dimata Allah, bukanlah menurut nilai materi tetapi dari hati yang diubah.
  3. Suami yang bijaksana (ay. 7), beralih ke tanggung jawab suami yang harus bijaksana. 1 Tes 4:4 “supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan”. Hidup bijaksana ini akan timbul jikalau suami mengalami pengudusan dan penghormatan kepada pasangannya. Kata “bijaksana” ini dikenakan kepada para suami karena ia pemimpin dalam Rumah Tangga.
  4. Menghormati kaum yang lemah, ini perlu disertai dengan kasih, jika kita tidak dapat menghormati kaum yang lemah maka kita belum bisa mengalahkan kedagingan kita. Tekad untuk membangun keharmonisan ditulis dalam 1 Pet 3:8-9 “…hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat…”

Kesimpulan:

  • Teladan hidup kita adalah Kristus, Dia menjadi dasar dan teladan kerendahan kita dalam hidup pribadi dan rumah tangga
  • Alamilah pembaharuan yang murni dan saleh yang telah mengalami proses pemurnian oleh kuasa Kristus
  • Buah roh meliputi kita untuk kita memiliki kasih kepada sesama