Pengkhotbah

Perikop
1 Korintus 7:6-16

Ringkasan Khotbah

Di bagian yang lalu (1 Korintus 7:1-5), Paulus mengajarkan suami/isteri untuk berhubungan seks hanya dengan pasangannya dan itu merupakan kewajiban seseorang terhadap pasangannya (2-4). Di ayat 5 juga diingatkan bahwa suami isteri jangan saling menjauhi/berpisah, dan bahkan untuk alasan yang rohani yaitu berdoa juga tidak boleh terlalu lama. Di ayat 6, Paulus mengawali dengan kata “hal ini” yaitu tentang “berpisah dengan alasan rohani” merupakan suatu kelonggaran, bukanlah perintah. Jadi justru sebisa mungkin diatur supaya tidak berpisah sama sekali.

Ayat 7-9: Paulus bukan mengajarkan bahwa tidak kawin lebih baik daripada kawin (ayat 7a), melainkan bahwa setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, apakah itu karunia tidak kawin (selibat) ataupun karunia untuk kawin. Jadi yang penting bagi kita adalah merenungkan baik-baik apakah karunia yang Tuhan berikan bagi kita. Karena itu ketika kita melihat orang yang sudah berumur dan belum menikah, janganlah kita memandang rendah orang tersebut karena mungkin saja Tuhan mengaruniakan karunia selibat kepada orang tersebut. Dan janganlah kita juga terus memaksakan anak kita yang sudah beranjak dewasa untuk cepat menikah, melainkan perlu mengajar untuk menggumuli karunia yang manakah yang Tuhan berikan.

Ayat 10-11: Isteri/suami tidak boleh menceraikan pasangannya. Dan bila bercerai, pilihannya hanya dua, yaitu hidup terus dalam keadaan sendiri (tidak kawin lagi) atau berdamai kembali dengan pasangannya. Jadi sebenarnya ayat 10 bukanlah izin untuk perceraian melainkan bertujuan agar suami isteri yang bercerai dapat berdamai dan bersatu kembali. Justru kita sebagai orang percaya tidak boleh menggunakan kata perceraian sama sekali, dan harus membuang konsep ini jauh-jauh. Firman Tuhan jelas sekali berbicara bahwa Allah membenci perceraian (Maleakhi 2:16). Keluarga yang menjalankan prinsip ini akan tetap bertahan betapapun besarnya permasalahan di depan, dan bahkan akan berusaha meningkatkan hubungan antar suami isteri.

Hal ini juga berlaku bagi suami isteri yang tidak seiman (ayat 12-13, 15). Bagian ini sering disalahgunakan oleh orang-orang menjadi alasan untuk mencari pasangan yang tidak seiman, tetapi Rasul Paulus dengan tegas mengajarkan untuk tidak mencari pasangan yang tidak seiman (2 Korintus 6:14). Yang diinginkan oleh Tuhan yaitu pernikahan dimana suami isteri sama-sama percaya dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan dan menyerahkan tahta kehidupan mereka bagi Kristus. Bagian di ayat 12-15 ini adalah kasus khusus dimana pasangan suami isteri pada awalnya tidak beriman tetapi ketika Injil masuk ke kota Korintus, salah satu di antara suami atau isteri menjadi percaya. Dan ayat 15 berbicara tentang pasangan yang tidak percaya yang minta bercerai karena tidak senang dengan pasangan yang percaya Yesus. Bisa juga diartikan sebagai ancaman kepada pasangan yang percaya apakah mau tetap ikut pasangannya atau mau ikut Yesus. Dalam hal ini, jelas bahwa pilihannya adalah pada Yesus sehingga seorang percaya dalam hal ini ada kelonggaran untuk bercerai. Tetapi inipun kelonggaran dan bukanlah perintah, karena ayat 15b menekankan bahwa Allah memanggil kita untuk hidup dalam damai sejahtera yaitu dalam persatuan, bukan perceraian. Marilah yang belum menikah untuk berkomitmen membuka hati hanya untuk orang yang beriman kepada Tuhan Yesus. Jangan sampai kehidupan rohani kita hancur justru karena kita kompromi dengan membuka hati kepada orang yang tidak beriman.

Ayat 14-16: Ada satu tugas penting bagi orang yang pasangannya belum percaya, yaitu menguduskan pasangannya. Pengudusan ini tidak terjadi otomatis melainkan perlu kerja keras dari orang yang sudah terlebih dahulu percaya yaitu dengan: (1) Mendoakan pasangan supaya dapat menyadari diri sebagai orang berdosa sehingga dapat bertobat dan percaya Tuhan Yesus. Doa merupakan kuasa yang luar biasa yang dapat membuka pintu hati yang sudah tertutup lama. (2) Konsisten dalam menaati firman Tuhan dalam kehidupan kita. Melalui kekonsistenan dalam menjalankan iman kita, pasangan kita dapat mengamati dan tergerak hatinya untuk menjadi percaya. Tanpa kekonsistenan dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen maka kita akan dipandang rendah dan bahkan juga iman (dan alkitab/firman Tuhan) yang kita percayai, dan mengakibatkan kekerasan hati pasangan kita untuk menerima Tuhan Yesus.

Kedua hal ini berlaku juga bagi pasangan yang sudah percaya sehingga melalui ini kita senantiasa saling mengasah dan menguduskan pasangan kita sampai pada akhir hidup kita.