Pengkhotbah

Perikop
Filipi 1: 27-30

Ringkasan Khotbah

Zaman sekarang adalah zaman humanis dan atoposentris dimana manusia berfokus pada dirinya sendiri serta bangga hidup mandiri tanpa Tuhan sehingga merasa tidak butuh Tuhan bahkan menjadikan diri sebagai Tuhan. Segala sesuatu yang tidak sesuai, ditolak. Bagaimanakah respons kita yang hidup di tengah zaman ini? Apakah hidup kita sesuai dengan kabar sukacita, dan mencerminkan identitas seorang kristen yang sejati yang telah menerima anugerah kesalamatan dari Kristus? Ada 3 pokok yang dapat kita pelajari sehubungan dengan tema khotbah hari ini: ❶ Hidup Berpadanan Injil, hidup berpadanan dengan injil adalah inti dari ayat 27-30. Berpadanan dalam bahasa Yunani axios artinya layak (worthy). Maka sebagai orang yang telah menerima Injil atau dilahirbarukan maka hidup kita harus menghidupi Injil sehingga hidup kita berbeda dengan orang yang belum menerima kabar sukacita tersebut, dan orang-orang dapat membaca Injil dari sikap hidup dan karakter kita. Kata hidup dalam bahasa Yunani, politeomai artinya adalah pola hidup yang sesuai dengan susunan atau tatanan tertentu, biasa digunakan merujuk pada kehidupan seorang warga negara dalam keikutsertaannya dalam pemerintahan dalam segala peraturan dan kebajikan yang perlu diperbuat. Sebagaimana gaya hidup warga romawi berbeda dengan seorang budak maka kita harus hidup sesuai status kita sebagai orang yang telah ditebus dan menerima Injil sehingga memberi dampak pada orang di sekeliling kita. Kita tidak boleh puas hanya dengan status sebagai orang kristen, tiap minggu ke gereja dan sebagainya, namun tidak memberi dampak baik pada orang sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari melalui Injil yang kita dengar dan renungkan. ❷ Hidup Beriman kepada Kristus, iman bukanlah slogan semata namun seperti yang diingatkan Paulus, kita perlu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil. Kita perlu merenungkan Firman itu hari lepas hari karena iman tumbuh dari pendengaran dan perenungan Firman. Kita perlu rindu dan bergairah untuk lebih mengenal Kristus sebagaimana layaknya orang yang sudah dilahirbarukan, orang yang percaya dan beriman. Hidup beriman kepada Kristus bukan hanya di awal saja saat kita menyatakan iman kita tersebut melainkan terus menerus berjuang hidup dalam berita sukacita dan menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Walau sulit sekalipun tapi kita harus mempertanggungjawabkan tentang iman kita kepada orang sekitar melalui sikap hidup kita. Firman yang kita dengar merubah sikap kita dan itulah yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang dapat merasakan atau melihatnya. ❸ Teguh Berdiri dan Sehati Sejiwa dalam Berjuang Untuk Injil, yaitu supaya jangan goyang / gentar saat menghadapi musuh atau tantangan dalam perjuangan mengabarkan injil. Sehati sejiwa berarti kita perlu punya komitmen bersama apapun resikonya. Kata berjuang sendiri menggambarkan semangat gladiator dalam gelangang pertempuran yang tetap kerja keras meskipun menghadapi penderitaan. Kita juga diingatkan agar tetap setia dan semangat dalam mengabarkan injil apapun tantangan yang dihadapi. Kehidupan kita yang telah diubah oleh Kristus perlu kita nyatakan dan saksikan dengan kerelaan menderita bagi Kristus.

Ini bukan merupakan suatu pilihan tapi konsekuensi bagi kita sebagai orang yang telah menerima Kristus. Apapun profesi kita, keahlian kita, dan dimanapun kita ditempatkan, hendaklah hidup kita senantiasa berpadanan pada berita sukacita / Injil, dalam kehidupan sehari-hari. Firman Tuhan perlu menjadi bagian dalam kehidupan kita sehari-hari yang perlu kita saksikan apapun tantangannya.

Kesimpulan: Kekristenan adalah respons awal pertobatan dan iman yang diikuti dengan respons terus menerus dalam pertobatan dan iman. Ini adalah sebuah keputusan dan pemuridan. Kesejatian iman bukan diukur berdasarkan kekayaan dan kesuksesan melainkan kesetiaan untuk berjuang dan berkorban bagi kebenaran. Keyakinan kepada Tuhan tidak diukur dari klaim verbal dan pernyataan iman yang murahan tetapi dari penyerahan diri kepada Dia yang memanggil kita untuk menderita. Kiranya keberadaan kita dapat menjadi jawaban mengenai Injil dan siapakah Yesus bagi orang-orang di sekeliling kita.