Pengkhotbah

Perikop
Roma 12:1-2

Ringkasan Khotbah

Di masyarakat dan lingkungan kita saat ini, baik di Jepang maupun di Indonesia, egoisme seringkali dianggap sebagai hal biasa/wajar. Mungkin juga kita sebagai orang Kristen juga terpengaruh pemikiran seperti ini. Tuhan mengingatkan kita lewat bagian firman Tuhan ini. Roma 11:36: orang Kristen harus memiliki hidup yang berpusat pada Tuhan, yaitu dari Dia, oleh Dia, kepada Dia. Bagaimana cara kita hidup berpusat kepada Tuhan? Bagaimana kita mengubah kehidupan yang berpusat pada diri sendiri menjadi hidup yang berpusat pada Tuhan? Yaitu dengan mempersembahkan hidup kita. Mungkin kita berpikir mempersembahkan hidup kita adalah sesuatu yang susah dan tidak mungkin, harus membuang semua impian kita. Tetapi, menurut Alkitab, bukanlah demikian, hidup berpusat pada Tuhan adalah hidup yang paling sesuai dengan natur kita, hidup sesuai talenta dan karunia yang Tuhan berikan. Kita diciptakan dengan maksud dan tujuan berpusat pada Tuhan, ini adalah kehidupan yang paling bahagia. Karena itu, Tuhan mendesak melalui Alkitab, “Serahkanlah hidupmu”. Kita mungkin berpikir kalau kita mempersembahkan hidup pada Tuhan, Tuhan yang untung, kita tidak. Tetapi sebaliknya, justru kita akan mendapat banyak ‘keuntungan’. Mendapatkan banyak barang tidak berarti kita akan bahagia, justru ketika kita memberikan hadiah bagi orang yang penting dan berarti dalam hidup kita, kita merasa senang. Begitu juga mempersembahkan diri kepada Tuhan adalah suatu sukacita bagi kita. Alkitab mengajarkan bahwa inilah cara hidup yang membawa kebahagiaan. Dan marilah kita mempersembahkan bukan hanya sebagian tapi seluruh kehidupan kita, bukan hanya hari Minggu tetapi setiap hari. Kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. (1) “Tubuh” artinya kehidupan kita. Pikiran kita, mulut kita dan juga perbuatan kita haruslah menjadi persembahan bagi Tuhan. Dalam hubungan kita di keluarga, tempat kerja/belajar, apakah sudah ada sikap mempersembahkan hidup bagi Tuhan? (2) Dan persembahan kita haruslah yang berkenan kepada Allah, menyenangkan Allah. Contoh persembahan yang berkenan kepada Allah yaitu persembahan Habel yang mempersembahkan yang terbaik, bukan yang sisa-sisa yang tidak kita butuhkan. (3) Persembahan kita juga haruslah yang kudus, artinya yang dikhususkan untuk Tuhan. Dalam Imamat dijelaskan tentang apa artinya ibadah itu, yaitu bukan tempat kita menerima melainkan membawa korban persembahan kepada pusat ibadah yaitu Allah sendiri. (4) Persembahan kita haruslah yang hidup. Bukan benda mati yang kita persembahkan, tetapi kita dalam kondisi yang hidup ini yang kita persembahkan. Bukan sekedar pujian di mulut, tapi segala perasaan kita, kita serahkan pada Tuhan. Bukan diri kita di masa lalu atau masa depan, tapi diri kita saat ini kita serahkan pada Tuhan. Dalam mempersembahkan hidup kita mungkin ada pemikiran bahwa kita tidak layak/tidak berharga, kita orang berdosa, lemah dan tidak mampu. Tetapi untuk kita orang-orang berdosa dan lemah inilah Tuhan Yesus telah memberikan diri-Nya disalib. Kita sendiri tidak mampu mempersembahkan diri kita, tetapi Tuhan Yesus yang sudah memberikan hidup-Nya bagi kita, Tuhanlah yang memampukan kita. Karena itu marilah kita menghadap Tuhan, mengaku dosa-dosa kita, minta pengampunan, dan mempersembahkan hidup kita yang kembali berpusat kepada Tuhan untuk melayani-Nya dengan talenta yang sudah diberikan bagi kita dengan semaksimal mungkin. Mari kita berdoa bertanya kepada Tuhan, apa yang dapat kita persembahkan dalam kehidupan kita, baik itu harta kita, waktu kita, talenta kita agar dapat menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan dan sesuai kehendak Tuhan. Melalui sikap inilah kita bisa dibebaskan dari hidup berpusat pada diri sendiri dan sungguh-sungguh dipakai oleh Tuhan.