Pengkhotbah

Perikop
Efesus 5:1-10

Ringkasan Khotbah

Tema GIII di tahun 2011 adalah “Bangkitlah, jadilah terang” yang diambil dari Yesaya 60:1-2. Renungan hari ini mengingatkan bagaimana kita dapat menjadi anak-anak terang secara konkrit.

Ayat 1 menasehatkan kita untuk menjadi penurut-penurut Allah yang berarti menjadi peniru-peniru atau pengikut-pengikut Allah, seperti anak-anak yang kekasih, sebuah istilah yang hanya ada dalam kekristenan, tidak ditemukan dalam agama lain.

Ayat 3 mengingatkan kita untuk meninggalkan percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan, bahkan kita dilarang untuk menyebutkan hal-hal tersebut. Apa yang diucapkan oleh mulut dapat menjadi sebuah hal yang dipikirkan dan apa yang dipikirkan dapat memimpin kepada perbuatan. Karena itu Tuhan Yesus berkata: “Jangan kuatir”, karena orang yang kuatir akan mengeluarkan kata-kata penuh kekuatiran yang akan merusak hati dan pikirannya. Oleh sebab itu, sebagai anak-anak terang, kita jangan mengucapkan hal-hal negatif, tetapi menggantinya dengan mengucapkan syukur (ayat 4).

Ayat 5 menyebutkan bahwa orang sundal, orang cemar, orang serakah adalah penyembah berhala karena orang-orang seperti ini menuruti hawa nafsu dan memuaskan keinginan hati mereka. Mereka mengikuti nafsunya yang berarti memberhalakan nafsunya.

Ayat 6-7 menasehatkan kita untuk tidak mendengarkan kata-kata yang tidak berdasarkan berlandaskan kebenaran firman Tuhan dan tidak membangun persahabatan dengan orang-orang yang mengucapkan kata-kata yang jauh dari Firman Tuhan.

Ayat 8: kegelapan berarti keadaan manusia yang akan menuju ke kebinasaan dan terang adalah keadaan manusia yang sudah diselamatkan.

Ayat 9: kata berbuahkan pada ayat ini berarti menghasilkan buah (bukan buah-buah) yang dalam bahasa aslinya menggambarkan sebuah oknum atau pribadi, sebab itu kita harus menjadi oknum yang melakukan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.

Ayat 10 menasehatkan agar anak-anak terang menguji hal-hal yang berkenan kepada Allah, yaitu hal-hal yang menjadi kehendak Allah. Kata “berkenan” berelasi erat dengan persembahan, yaitu agar anak-anak terang mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1). Contoh praktisnya adalah apabila kita datang beribadah, datanglah tepat waktu. Banyak orang yang datang tepat waktu untuk interview pekerjaan, tapi tidak untuk ibadah.

Ayat 11 menasehatkan kita untuk menelanjangi perbuatan-perbuatan gelap dengan terang, sebuah hal yang sangat berbeda dengan prinsip orang Jepang yang menyebutkan: “Apa saja dapat dilakukan dengan penuh kebebasan asalkan tidak mengganggu orang lain.”

Ayat 14 mirip sebuah kutipan dari Perjanjian Lama, tapi sebenarnya ayat ini kemungkinan besar adalah puji-pujian yang dinyanyikan pada zaman Rasul Paulus. Ada kesamaan antara orang tidur dan orang mati, yaitu sama-sama dalam keadaan tidak sadar, tidak dapat berespon. Demikian halnya dengan orang yang tidak mempunyai respon terhadap Firman Tuhan. Orang ini akan berpikir bahwa Firman Tuhan yang dibaca atau didengarnya, cocok sebagai teguran bagi orang lain, bukan bagi dirinya. Roma 13:11 mengajak kita untuk “bangun dari tidur” kita. Oleh sebab itu, marilah kita bangun dari tidur rohani kita, bangkit dan menjadi anak-anak Allah yang memancarkan terang Allah kepada sekitar kita.

(MS/02/11)