Pengkhotbah

Perikop
1 Yohanes 2:1-17

Ringkasan Khotbah

Surat Yohanes ditulis oleh rasul Yohanes saat sudah banyak ajaran palsu/bidat yang membahayakan orang Kristen, yaitu yang tidak percaya ke-Allahan Kristus. Ada juga yang sebaliknya, tidak mempercayai kemanusiaan Kristus. Mereka mengatakan hal mengenai Yesus terjadi secara rohani bukan secara jasmani. Ada juga ajaran gnosis, yang intinya, orang yang mendapat gnosis (pengetahuan khusus) dari Allah sudah bebas, tidak berbuat dosa. Bermacam ajaran ini membahayakan.

Dalam pasal 2 ini Yohanes menyebutkan anak-anaku. Ada “ku”. Mengapa demikian, karena istilah ini sering dipakai oleh Tuhan Yesus. Jadi Yohanes juga memakai ini, karena merasa dekat, intim dengan pembaca orang Kristen. Di Indonesia sering disebut pendeta adalah bapa rohani. Kita perlu bapa rohani. Di tengah dunia yang kacau ini, betapa perlunya kita bapa rohani yang memperhatikan, menasehati kita, menolong saat susah. Yohanes mengatakan, hal ini kukatakan kepadamu supaya kamu tidak berbuat dosa. Salah satu ciri khas rasul Yohanes adalah suka menuliskan tujuan penulisannya. Tujuan penulisan surat Yohanes ada disebutkan di Yoh 20:31, yaitu mengetahui hidup kekal dalam Kristus.  Dalam 1 Yoh 5:13,  tujuan penulisan kepada orang percaya adalah agar pembaca mengetahui memiliki hidup yang kekal.

Dalam Alkitab, penggunaan dosa ada 2, dengan kata tunggal dan majemuk. Kalau kata tunggal, ini adalah dosa warisan. Tapi kalau majemuk, adalah dosa-dosa pelanggaran. Kita banyak berbuat dosa-dosa. Jika seorang berbuat dosa, kita memiliki pengantara kepada Bapa, yaitu Yesus Kristus. Semua orang Kristen yang ada dalam Kristus pun jatuh dalam dosa. Kalau kita sadar akan dosa, kita punya pengantara. Dan dialah pendamaian untuk segala dosa (ayat 2). Istilah pengantara ini artinya advokat, pengacara.

Tanda yang ada pada orang yang sudah diampuni dosanya: menuruti perintah dan juga Firman-Nya (ayat3); hidup seperti Kristus telah hidup (ayat 6). Dari ayat 7-8 kita dapat melihat ada perintah baru dan perintah lama.  Perintah lama ada di perjanjian lama, disimpulkan mengasihi saudara. Perintah baru ada di perjanjian baru,  mengasihi Allah dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatan. Dalam hukum taurat sudah ada perintah untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Ul 6:5). Dan inilah kesimpulan hukum taurat. Yesus telah menuruti kehendak Allah sepenuhnya, mengasihi murid-muridnya, mengasihi kita. Kedua hal ini sudah digabung oleh Tuhan Yesus dan diwujudkan. Maka orang Kristen wajib hidup seperti Yesus. Dalam banyak gangguan ajaran sesat, orang Kristen masih dapat jatuh dalam dosa. Tapi ingatlah kita memiliki pengantara, yaitu Tuhan Yesus.

Dalam ayat 12, disebutkan kepada anak-anak (karena dosa telah diampuni), bapa-bapa (karena sudah mengenal Tuhan), pemuda/i (sifat muda adalah kuat, sudah makin bertumbuh,  mengalahkan yang jahat). Pembagian ini bukan berdasar pada umur jasmani, tapi umur rohani.

Dalam ayat 15,  tertulis janganlah mengasihi dunia karena kalau mengasihi dunia, kasih Bapa tidak ada dalam orang ini. Kasih ini adalah agape. Kita boleh mencintai istri, suami kita. Tapi mereka tidak bisa menggantikan Allah. Kita tidak bisa mengasihi apa yang ada di dalam dunia. Daud yang setia pada Tuhan pun jatuh karena penglihatan. Pada masa ini betapa bahaya bagi yang muda melawan iblis. Betapa liciknya iblis memakai mata manusia supaya hati tertarik menjauh dari Tuhan.

Barangsiapa mengasihi Tuhan, melaksanakan Firman. Maka melalui Firman kita makin mengenal Allah, dan kita menganggap Firman ini adalah dasar, tujuan, pegangan, kekuatan kita. Mari kita menuruti Firman, melaksanakan kehendak Tuhan.