Pengkhotbah

Perikop
Roma 8:12-17

Ringkasan Khotbah

Roma 8:1-11 menyatakan bahwa orang percaya adalah orang yang dihidupkan oleh Allah. Pada ayat 12, ditegaskan bahwa kita sebagai orang percaya adalah orang yang berhutang kepada Allah. Kita perlu tunduk kepada Allah. Ketika kita datang beribadah atau melayani, lakukanlah bukan dengan tujuan meminta berkat, tapi menyadari sepantasnyalah kita beribadah dan melayani Tuhan. Sebaliknya, kita diajar untuk tidak berhutang kepada orang lain (Roma 13:8). Hutang materi kepada orang lain ini umumnya memiliki akar permasalahan pada kerohanian kita sendiri.

Pada ayat 13 ditegaskan bahwa hidup baru yang Tuhan berikan adalah hidup yang dipimpin oleh Roh. Wujudnya adalah adanya perjuangan seumur hidup kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan kedagingan yang tidak menyenangkan Tuhan (Galatia 5:24, Markus 9:43-47). Kita perlu mengevaluasi diri kita, di mana kelemahan kita, di mana dosa-dosa kita, hal-hal apa yang membawa kita kepada dosa. Kita perlu tegas, radikal dalam memutuskan semua itu, bahkan dari pangkalnya. Pertumbuhan kerohanian kita akan terhambat bila kita tidak mematikan keberdosaan kita.

Ayat 14 mengajar kita untuk ikut apa yang dikehendaki Roh Kudus. Apa yang Tuhan larang, kita tidak lakukan. Apa yang Tuhan ingin kita lakukan, betapapun sulitnya, kita tetap kerjakan, karena Tuhan sendiri pasti menolong kita. Bukan kita yang mengatur Tuhan, tapi kita yang mau diatur oleh Tuhan.

Ayat 15 mengajar bahwa kita sudah diadopsi menjadi anak-anak Allah. Proses adopsi dalam kebudayaan Romawi pada zaman Paulus memiliki prosesi yang panjang. Anak yang diadopsi harus melalui proses dijual dan ditebus, dijual kembali, ditebus kembali, dan dijual lagi kepada sang ayah yang baru. Kemudian sang ayah yang baru melaporkan hal ini kepada pejabat negara untuk menyatakan bahwa sang anak benar-benar sudah masuk dalam keluarga sang ayah baru. Dan untuk proses ini pun harus ada 7 orang saksi. Anak adopsi ini memiliki hak waris yang sama dengan anak-anak kandung. Kaisar Nero adalah contoh anak yang diadopsi, dan mewarisi takhta ayah (Kaisar Klaudius) yang mengadopsinya.

Kita dapat menyebut Allah Bapa sebagai Bapa (Abba, adalah bahasa Aram untuk panggilan kepada ayah yang memiliki nuansa kedekatan). Roh Kudus sebagai saksi memastikan bahwa kita akan menerima janji-janji Tuhan (ayat 16). Kristus sebagai Anak Tunggal Allah menjadi teladan kita, bahkan sebagai teladan dalam kita mengambil bagian dalam penderitaan Kristus (ayat 17). Sebagaimana Kristus juga, kita tidak berhenti dalam penderitaan, karena kita juga akan dipermuliakan (ayat 17-18, II Korintus 4:4). (HL/01/12)