Posted by Markus Sim

Melalui Alkitab, kita mengetahui bahwa Allah menciptakan manusia dengan 3 peranan penting: ①Menjadi nabi: manusia diciptakan oleh Allah untuk mengetahui kebenaran; ②Menjadi raja: menaklukkan alam semesta dan menjadi wakil Allah untuk menggenapi kehendak Allah di dunia; ③Menjadi imam: mempersembahkan kepada Allah apa yang telah dikerjakannya di dunia. Saya mengajak Bapak, Ibu, Saudara/i untuk memikirkan hidup menurut tujuan akhir. Seorang teman saya yang lama tinggal di Jepang pernah berkata bahwa paling tidak ada 2 hal yang sangat berpotensi membelokkan kehidupan orang-orang Kristen Indonesia yang datang ke Jepang, yaitu minuman beralkohol dan seks/pornografi. Saya tidak tahu berapa banyak di antara Bapak, Ibu, Saudara/i yang kehidupannya telah dibelokkan oleh kebudayaan Jepang. Tujuan hidup kita sebenarnya adalah didasarkan pada maunya Tuhan, bukan maunya kita ataupun maunya pendeta di gereja. Hidup yang tanpa tujuan tidak akan mempunyai arah, loyo, dalam pekerjaan pun mubazir atau sia-sia, waktunya seperti terbuang percuma, potensi hidup tidak maksimal, dan tidak ada perencanaan (planning), sementara hidup yang mempunyai tujuan akan terarah dan spesifik, memberikan semangat dan motivasi, dalam pekerjaan pun akan berhasil, penggunaan waktu efisien dan efektif, potensi hidup maksimal, serta adanya rancangan dan perencanaan yang baik. Mungkin salah satu pertanyaan serius yang jarang atau tidak pernah ditanyakan kepada Bapak, Ibu, Saudara/i adalah: “Kapan Bapak, Ibu, Saudara/i meninggal?” Mayoritas mungkin menjawab: “Terserah Tuhan”. Allah kita adalah Allah yang berencana dan bertujuan. Sudah seharusnyalah kita mempunyai rencana dan tujuan yang jelas dalam hidup kita, tidak tergantung berapa lama lagi kita hidup di dunia. Di sisi lain, kita boleh berencana, tapi kita harus sadari bahwa rencana-rencana dalam hidup kita sering sekali begitu rapuh.

Hidup menurut tujuan sorgawi berarti ada hal-hal mulia dan agung yang harus dicapai di dalamnya. Bapak, Ibu, Saudara/i ada di Jepang untuk apa? Apakah hanya untuk bekerja, mencari gaji tinggi, bisa membeli rumah dan mobil? Kita diciptakan untuk kemuliaan Allah. Bagaimana cara mengetahui kehendak Allah? Satu-satunya cara mengetahui kehendak Allah adalah dengan membaca Alkitab baik-baik. Ketika kita mendapati bahwa hidup kita sejalan dengan firman Tuhan, maka kita sedang berada dalam rencana-Nya, tapi apabila tidak, pastilah kita sedang melawan Allah. Rasul Paulus adalah seorang yang sangat memahami panggilan dan tujuan hidupnya di dunia ini. Panggilan Paulus adalah panggilan sorgawi / panggilan yang berasal dari Tuhan dan tujuan hidupnya adalah menjadi seperti yang Tuhan mau.

Setidaknya, ada tiga teladan yang bisa kita pelajari dari Rasul Paulus: ①Paulus adalah seorang yang mengenal diri dan mengenal Tuhan. Apabila kita menganggap diri terlalu tinggi, maka kita menjadi sombong. Apabila kita menganggap diri rendah, maka kita menjadi minder. Apabila kita tidak mengenal siapa diri kita, maka kita tidak akan menjadi apa-apa dalam koridor Kerajaan Allah. Bisa saja kita kaya, terkenal, jenius, tapi kalau tidak berguna untuk Kerajaan Allah, untuk apa? Rasul Paulus seorang yang sangat pandai (dididik di bawah bimbingan Gamaliel, seorang ahli Taurat terkemuka), terkenal, sangat taat hukum Taurat, tapi setelah bertemu Kristus secara pribadi, Paulus menganggap semuanya sampah. Mengapa semua menjadi sampah? Karena kepintaran, popularitas, dan ketaatan pada hukum Taurat ternyata menjauhkan Paulus dari Tuhan. Apabila engkau kaya, apabila engkau pintar, apabila engkau bertalenta musik, muliakanlah Tuhan dengan semuanya. ②Paulus adalah seorang yang memaksa diri. Kita cenderung suka yang tidak benar. Ketika kita sudah menerima Kristus, tidak serta-merta hidup kita menjadi kudus. Kita masih terus bergumul melawan dosa. Tapi kita harus memaksa diri, melawan berbagai keinginan daging kita bukan dengan bersandar pada kekuatan kita, tapi dengan menghubungkan hidup kita dengan Kristus yang telah mengalahkan berbagai pencobaan di dunia. ③Paulus adalah seorang yang memfokuskan diri, fokus pada maunya Tuhan. Kita harus belajar memfokuskah pemikiran, waktu, tenaga, talenta, dan harta kita untuk Kerajaan Tuhan. Saya dipanggil menjadi hamba Tuhan secara khusus untuk melayani pemuda/i. Mungkin banyak orang menganggap bahwa pelayanan kepada pemuda/i adalah pelayanan kelas dua (second class), tapi saya tahu bahwa pelayanan kepada pemuda/i sangatlah penting karena akan menentukan masa depan sebuah generasi. Kebaktian untuk pemuda/i yang saya pimpin seringkali membutuhkan dana yang begitu besar, bisa mencapai ratusan juta. Tapi bagi saya, jiwa pemuda/i begitu berharga, lebih berharga dari uang. Bapak, Ibu, Saudara/i, kenalilah dirimu, kenallah Tuhan, dan penuhilah panggilan hidupmu bagi kemuliaan Tuhan. Amin.