Pengkhotbah

Perikop
Mazmur 139

Ringkasan Khotbah

Khotbah hari ini ada kaitannya dengan khotbah 2 minggu lalu yang bertemakan “Hidup di Tangan Allah yang Kekal”. Kita akan belajar dari Raja Daud yang selalu hidup bagi Tuhan, mengakui bahwa Allahlah yang membentuk, menenun, merencanakan, menyertai dan memimpin hidupnya. Kata membentuk (dari kata “qanah” berarti membeli, yaitu Allah yang telah membeli kita dari kuasa dosa (Iblis) dengan harga yang paling mahal yaitu darahNya di kayu Salib. Allah berhak atas hidup kita karena Dia telah membayar hutang dosa kita.

Kata “menenun” diartikan seperti seseorang yang menjalin, menyambung serta menempatkan bagian-bagian tertentu untuk menjadi sebuah karya yang utuh. Setiap kita ditenun Allah dengan begitu luar biasa dengan nilai-nilai kekekalan, dengan karakteristik yang unik, tidak ada yang sama sekalipun kembar. Dalam Mazmur 8, Daud pernah bertanya kepada Tuhan: apakah manusia itu, sehingga Engkau menjadikannya hampir sama seperti Allah. Daud begitu mengagumi Allah karena menciptakan kita sampai bisa datang kepada sang Pencipta.

Pasal 139, dapat dibagi 4 bagian: Allah yang Mahatahu (1-6), Mahahadir (7-12), Mahabesar dan menciptakan (13-22), respon Daud terhadap Allah (23-24). Allah menyelidiki, mengenal, mengetahui, mengerti, memeriksa kita. Saat Allah memilih raja ke 2 Israel, Tuhan berkata “jangan melihat rupa, tetapi lihat hatinya”, Tuhan menyelidiki hati kita sampai yang paling dalam, tidak ada yang tertutupi. Kata mengenal (“yada”) dipakai di Perjanjian Lama 873 kali. Sebelum kita menguraikan diri kita, Dia sudah terlebih dahulu mengenal kita sampai yang paling dalam. Kata mengetahui berarti Allah tahu segala langkah dan gerakan hidup kita, tidak ada yang tersembunyi, sehingga Daud pun berseru dengan jujur di ayat 24. Kata mengerti (menilik, menginspeksi) berarti tidak ada jarak yang begitu jauh antara kita dan Tuhan yang membuat Ia kesulitan memahami kita (Mazmur 33:13-14). Lebih baik kita hidup jujur dan bergantung kepada Dia. Tuhan memeriksa (menyebarkan, menampi) artinya Dia menolong agar tindakan dan kehendak kita sesuai dengan tujuan yang Tuhan mau.

Allah yang mahatahu juga disinggung oleh Yesus dalam Matius 6:7-8, Dia tahu sebelum kita meminta. Roma 8:26 juga berkata bahwa Roh membantu kita berdoa dalam kelemahan kita. Tetapi kita harus tetap berdoa karena saat berdoa kita mengakui bahwa Dialah yang sempurna, kita menempatkan diri kita manusia hampa dan tidak layak, kita berjuang mencari Tuhan, mempraktekkan iman kita pada janji-janjiNya, kita menenangkan kekuatiran kita dengan mencurahkan kepada Tuhan, membuat kita semakin bergantung pada Tuhan. Kita perlu berdoa: ajarlah sehingga saya mengerti kehendakMu dalam hidup saya.

Banyak orang berdalih tidak mau percaya kepada Tuhan karena tidak pernah langsung melihat Tuhan. Ini cara pikir yang salah. Allah itu adalah Roh, yang mampu hadir dimanapun dan kapanpun seperti pengakuan Daud di Mazmur 139 ini. Ibrani 13:5 menuliskan Allah tidak sekali-kali membiarkan, meninggalkan kita. Apakah kita masih mengakui kehadiran dan pemeliharaanNya?