Pengkhotbah

Perikop
Yesaya 44:1-8

Ringkasan Khotbah

Semua yang ada di bumi akan kembali ke tangan Allah pencipta yang kekal. Hanya Allah satu-satunya yang kekal sejak dahulu sampai selama-lamanya. Kita berubah tetapi Allah tak berubah. Salah satu penyebab ketidaksungguhan kepada Tuhan karena tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan dan karyaNya. Hari ini mari kita lihat bagaimana Allah, Allah yang tidak pernah berubah tidak seperti kita yang berubah. Menurut Paul Tillcih: Allah bukan saja ada tetapi juga menjadi dasar dari segala sesuatu yg ada. Allahlah yang menopang keberadaan kita dan menjadi fokus keberadaan kita. Allah adalah pusat dan sumber dari segala sesuatu.

Seperti kehidupan kita bergaul dengan sesama yang begitu memerlukan kejujuran. Terlebih lagi relasi suami-istri bahkan relasi dengan Tuhan. Kalau tidak didasarkan kejujuran atau tertutup maka lama-lama akan ada gap. Pada zaman-Nya, Yesus pernah mengatakan kebutuhan manusia yang sesungguhnya yaitu kelaparan rohani. Karena itu, manusia bukan sekedar “human livings” (manusia yang hidup) atau “human doings” (manusia yang bertindak).

Kalau lapar fisik itu hal biasa. Kadang duduk bersama di gereja tapi belum tentu sama-sama lapar rohani. Lapar rohani adalah hati yang ingin diubahkan dan kerinduan untuk melakukan kehendak Allah. Karena itu Yesaya mengingatkan dalam ayat 6: “Raja dan penebus Israel”. Sesuatu yang menegaskan siapa Allah. Ayat ini menegaskan tentang keutamaan Allah. Dia adalah sumber dari segala kehidupan. Dia juga adalah penguasa atas kehidupan. Dengan demikian tidak ada yang lain, yang dapat memahami inti dan tujuan kehidupan selain Allah sendiri. Karena itu kita harus terpaut kepada Allah.

Menurut pengakuan Wesminster Confession, tidak ada yang terlalu besar atau terlalu kecil untuk diatur Allah, untuk memuji kemuliaan dan hikmat, kuasa, keadilan, kebaikan dan belas kasihan Allah. Salah satu buktinya adalah matahari yang tidak pernah terlalu cepat atau terlalu lambat. Yang selalu mengelilingi bumi menunjukkan siang dan malam dengan tepat. Manusia yang terbatas bisa memikirkan/mengkaji bagaimana membuat hal-hal yang besar dan indah. Apalagi Allah yang tidak terbatas. Seharusnya kita takjub dan takluk akan kuasa Allah. Pengaturan kita bisa saja meleset dari target sendiri. Karena kita merencanakan sesuatu dari ketidakmahatahuan kita. Tetapi justru itulah kedaulatan Tuhan yang membatasi kita supaya kita datang kepada Tuhan yang tidak terbatas, tangan Allah yang kekal.

Berdasar John Calvin, tetapi setiap orang yang telah diajar oleh perkataan Kristus bahwa semua rambut kepalanya terhitung, akan melihat lebih jauh suatu penyebab dan akan menganggap bahwa semua kejadian diatur oleh rencana dan rahasia Allah.

Kalau mau tahu tujuan hidup kita, kembalilah kepada pencipta, sumber hidup dan penguasa hidup kita. Ayat 1-2, ini adalah nasehat bahwa kita ada karena pencipta. Pemilihan pertama umat Allah itu sejak kapan? Sejak jatuh ke dalam dosa? Waktu pemilihan Abraham (Kej.14)? Sejak Abraham dipilih, Allah tidak berubah.

Kata “menjadikan” pada ayat 2 ini sama seperti Kej. 1:26, yaitu kata “asa”. Artinya ketika masih dalam perancangan, kata “asa” ini sudah keluar. Dalam merencanakan penciptaan dan memastikan pemilihan Israel. Hal penciptaan dan pemilihan adalah sama/sejajar dalam pandangan Allah. Hanya diinisiasi oleh Allah saja. Manusia yang diciptakan sebelum jatuh dalam dosa sama dengah karya Allah untuk menyelamatkan manusia yang jatuh dalam dosa. Karena itu kita berharga dihadapan Allah. Maka kita akan menghargai sesama manusia. Harga penyelamatan kita sangatlah mahal yaitu darah Yesus. Karena itu jangan kita sia-siakan hidup kita.

Ada 3 kata kerja Ibrani yang artinya “menciptakan” yaitu, ❶ bara: mencipta dipakai hanya oleh Allah saja; ❷ asa: membuat sesuatu yang indah (berhubungan dengan seni). Kata ini dalam ayat 2 yaitu kata menjadikan. Kita diciptakan dengan nilai yang begitu indah. Maka kita harus menghargai hidup kita dan Tuhan. ❸ yatshar: membentuk suatu yang indah dan bernilai tinggi. Kata ini dalam ayat 2 yaitu kata dibentuk dalam kandungan.

Allah yang menolong umatNya (ayat 2), kata menolong ini juga dapat diartikan sebagai menaungi serta melindungi. Kata Yesyurun artinya pribadi/bangsa yang sangat disayang. Meskipun jahat, setelah bertobat dipelihara Allah. Dan Allah berkata “dengarlah” dalam bahasa Ibrani “shema” kepada umat-Nya. Ini adalah ciri  khas Allah dibandingkan allah lain. Bangsa Israel selalu mendengar firman dari Allah. Bangsa Israel dapat mengenal Allah oleh karena firman Allah. Karena itulah kita bisa mengenal Allah karena Allah berfirman. Karena itu kita harus membangun kerinduan untuk mempelajari firman Tuhan. Ayat 3-5, air adalah istilah yang menggambarkan anugerah Tuhan, ini menunjukkan berkat yang melimpah dari Allah. Allah itu adalah mata air yang tidak pernah habis. Seperti hujan lebat ke atas padang pasir yang sangat kering bahkan menjadi sumber air yg melimpah. Ini menunjukkan Allah adalah sumber yang tidak pernah habis. Tetapi Allah lebih peduli dengan kelaparan rohani, karena itu Allah mencurahkan RohNya. Berkat rohani terlebih dahulu baru kemudian berkat secara fisik. Sehingga manusia tidak lupa siapa pemberi berkat.

Pada zaman perang dahulu yang mereka kenal bukan nama prajurit tapi nama Komandannya. Sama seperti Daud, Yoab. Karena Roh sudah diberi dan diubahkan sehingga manusia menyadari, aku ada karena Tuhan bukan karena aku sendiri atau kepintaranku. Sehingga mengaku aku “kepunyaan Tuhan”. Kalau belum mengalami kepenuhan Roh akan selalu “aku”. Hal yang sama kita akan menyebut diri kita sebagai Pengikut Kristus karena kita adalah milik Tuhan yang telah dibeli dengan darah yang mahal.