Ringkasan Khotbah

Hakekat hidup manusia yang sebenarnya adalah hidup di dalam Kristus (en Kristo). Surat Paulus kepada jemaat di Efesus (Efesus 2:1-10) menggambarkan keadaan manusia sebelum dan setelah di dalam Kristus:

I. Hidup tanpa Kristus (ay. 1-3), yaitu:

–    Hidup dalam dosa (hamartia), secara harafiah adalah: meleset/tidak mengenai sasaran. Dosa adalah kegagalan untuk mencapai sasaran hidup.

–    Hidup dalam pelanggaran (paraptoma), secara harafiah adalah: tergelincir/jatuh. Ini adalah istilah untuk menggambarkan seseorang yang kehilangan arah jalan atau tersesat.

Hidup tanpa Kristus dapat dilihat dari ciri-ciri, sbb:

–    Hidup duniawi: hidup bermotivasi keuntungan. Hidup seperti ini berbeda dengan hasrat hidup Kristiani yang adalah untuk melayani Tuhan; mengasihi yang dikasihi Tuhan, membenci yang dibenci Tuhan.

–    Diperintah oleh penguasa-penguasa dunia: hidup yang selalu bersikap melawan Allah.

–    Ketidakpatuhan: hidup yang selalu mengikuti jalan sendiri, walaupun tahu jalan yang Allah tunjukkan.

–    Dikuasai oleh hawa nafsu (epithumia): hidup yang memiliki keinginan untuk hal-hal yang buruk dan terlarang (Kej 6:5-6).

–    Kehidupan yang ingin memenuhi keinginan daging. Keinginan daging adalah hidup dikuasai oleh hakekat kita yang lebih rendah.

Hidup manusia yang seperti ini adalah hidup yang pantas mendapat murka Allah. Manusia, yang sudah menyusahkan hati Allah, tidak layak menerima apapun kecuali penghukuman.

II. Hidup di dalam Kristus (ay. 4-10)

Bagian selanjutnya dari surat Paulus ini menunjukkan adanya peralihan dari keadaan manusia yang pantas mendapat murka Allah menuju kepada kehidupan yang mendapatkan keselamatan di dalam Kristus. Berikut adalah keadaan manusia yang hidup di dalam Kristus:

–    Dilayakkan menerima keselamatan hanya karena anugerah Allah (ay. 4-5). Keselamatan itu adalah inisiatif Allah, bukan karena usaha manusia. Manusia sudah mati dalam dosa dan pelanggaran, tetapi Allah dalam kasih dan karunia-Nya membuat manusia hidup kembali di dalam Yesus Kristus.

–    Mendapatkan kepastian keselamatan melalui iman (ay. 8-9). Manusia diselamatkan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus, bukan karena perbuatan-perbuatan baik yang dilakukannya. Namun, orang yang sudah diselamatkan (sebagai ungkapan rasa syukurnya) haruslah membuahkan perbuatan yang baik.

–    Mendapatkan kepastian hidup kekal. Tuhan Allah adalah Allah yang hidup dan pada-Nya ada sumber kehidupan (Mzm 36:10). Kehidupan terjadi oleh Firman-Nya (Kej 1:1-31; Mzm 33:9). Sehingga, orang-orang yang hidup di dalam Allah akan mendapatkan kepastian hidup kekal itu.

–    Mendapatkan kepastian kebangkitan (ay. 6). Manusia dibangkitkan di dalam kebangkitan Yesus Kristus.

–    Melakukan perbuatan baik. Namun, perbuatan baik tidak berguna atau tidak diberkati kalau tidak dilakukan karena kasih (1 Kor 13:1-3). Pekerjaan baik bias dicela oleh Tuhan, kalau pekerjaan itu membuat kita kehilangan Persekutuan yang indah dengan Tuhan (Why 2:2-4). Segala sesuatu yang kita lakukan haruslah merupakan hasil dari pergumulan di dalam Tuhan.

Bagaimana untuk kita bisa terus hidup di dalam Kristus? Berikut adalah syarat-syaratnya :

–    Memelihara Firman Allah senantiasa dalam hati dan pikiran serta menjadikannya penuntun tindakan kita (Yoh 15:7)

–    Memelihara kebiasaan persekutuan yang intim dengan Kristus

–    Mentaati perintah Tuhan

–    Memelihara kesucian hidup melalui Firman Tuhan

Gereja (yang kepalanya adalah Kristus), sebagai tubuh Kristus, haruslah berperan aktif mengikuti program penebusan Allah (yaitu: membawa umat-umat pilihan-Nya kembali kepada-Nya) dan program Kerajaan Allah (yaitu: bertarung melawan penguasa-penguasa kegelapan).