Pengkhotbah

Perikop
Efesus 4:11-19

Ringkasan Khotbah

Perikop ini berisi nasihat Paulus terhadap jemaat di Efesus. Jemaat Efesus sudah kristen dan kondisi rohani sebenarnya sudah cukup dewasa. Meskipun demikian Paulus tetap mengingatkan mereka untuk bertekun. Nasihat Paulus adalah agar mereka hidup dalam kepenuhan Kristus (17-19). Nasihat tersebut berisi poin-poin sebagai berikut:

1. Kemauan keras, komitmen serius untuk meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Hal-hal yang tidak baik itu adalah: i) pikiran yang sia-sia (ay 17). Paulus mengawali dari hal pikiran, maksudnya jemaat yang sudah dewasa pun harus lebih membereskan diri mulai dari pikiran. Jemaat Efesus mayoritas adalah orang Yunani dan ada juga sebagian orang Yahudi. Orang Yunani adalah pemikir ulung, karena itu Paulus mengawali dari hal pikiran. Istilah sia-sia berarti kesesatan atau kerusakan. Pikiran yang sia-sia adalah karena mereka menganggap pemikiran mereka jauh lebih unggul, bersandar kepada pemikiran mereka, sehingga malah menjadikan hal-hal selain dari Tuhan sebagai obyek penyembahan. Pikiran perlu ditaklukan oleh kebenaran. Prinsip-prinsip yang kita pegang di masa lalu sebelum kita mengerti kebenaran Tuhan harus ditaklukkan di hadapan kebenaran Allah.

ii) pengertian yang gelap. Pengertian berhubungan dengan hal-hal yang bersifat intelektual. Banyak mengerti dan tahu akan berbagai hal mengenai Firman Tuhan pun tidak menjamin menusia takluk kepada Firman Tuhan. Banyak mengerti kebenaran, prinsip-prinsip kekristenan pun perlu takluk kepada kebenaran itu, kalau tidak malah akan membuat kita memberhalakan pengertian kita. Orang Eropa di abad 16-17 memberhalakan ilmu pengetahuan, sehingga menghakimi Firman Tuhan dengan ilmu pengetahuan. Intelektual, pengetahuan tidak salah, tapi jangan sampai membuat kita menolak kebenaran Firman Tuhan. Contohnya adalah pandangan orang terhadap Yoh 14:16 yang menyatakan tidak ada jalan lain selain Yesus, yang berdasarkan intelektual mereka berpikir bagaimana mungkin, sehingga timbul pemahaman ada jalan lain selain Yesus dan lahirlah teologi liberal. Orang kristen sejati, pengertiannya dikuasai Kebenaran Firman Tuhan, demikian pula semua pola pikir, perilaku dikuasai kebenaran Firman Tuhan.

iii) jauh dari persekutuan dengan Allah (ay 18). Ada beberapa gejala dari kejauhan dengan persekutuan dengan Allah. a) Makin jauh maka makin degil. Degil artinya kekerasan hati. Makin jauh dari Tuhan dan tidak dikendalikan oleh kebenaran maka hati makin keras. Ciri-ciri orang yang degil:  tidak mau menerima nasehat, menganggap diri paling benar, bertahan dalam kesalahan yang sudah lama dipelihara, sulitberubah dari kesalahan, mudah membenarkan diri dan menyalahkan orang lain

Dari Efesus 4:2 bisa diketahui bahwa orang-orang di Efesus suka saling menyoroti orang lain, dan itu dibawa ke dalam gereja. Seharusnya jemaat saling menolong agar saling membangun bukan berdiri sebagai hakim-hakim kecil. Bagaimana membantu supaya orang kristen tidak mengeraskan hati adalah memberikan hati untuk diubahkan oleh kebenaran. b) Perasaan makin tumpul. Perasaan tidak peka lagi dengan kebenaran

 

2. Mempertahankan hal-hal yang baik : i) terus bergantung kepada Allah. Istilah kedewasaan penuh di ayat 13 sulit untuk mencari arti dari bahasa aslinya. Ada beberapa tafsiran, di antaranya orang kristen yang sudah matang dan sempurna. Tapi tidak ada orang kristen yang sudah sempurna. Jadi bisa disimpulkan bahwa kedewasaan penuh itu adalah sebuah proses yang sedang menuju kepada kesempurnaan itu. Seorang penafsir berkata bahwa orang kristen pun kadang jatuh ke dalam dosa, atau malah sengaja memelihara satu kesalahan yang sama, bahkan memanjakan dosa itu sehingga seolah-olah dia butuh dosa itu. Orang yang dewasa adalah orang yang sadar bila jatuh ke dalam dosa, tidak mempertahankan kesalahan itu dan segera kembali kepada kebenaran. ii) terus menerus diperbaharui. Caranya adalah dengan (ay 13-15) : melawan kesesatan, dan teguh berpegang kepada kebenaran. Otak dan hati takluk pada kebenaran. Orang kristen harus rindu akan kebenaran maka ada keinginan yang harus dikekang. Kita harus hadir dalam masyarakat sebagai orang-orang yang menjunjung tinggi kebenaran.

iii) tujuan kita adalah agar kita dipakai sebagai alat Allah (Dipanggil untuk melayani, ay 11-12). Tuhan menyediakan alat bagi gereja untuk disempurnakan. Gereja ada karena pekerjaan nabi dan rasul dan pemberita injil dengan menjalankan 5 fungsi (gembala, pengajar, dll). Kekristenan dapat berkembang jika kita sadar apa panggilan Tuhan bagi kita (penggembala, penginjil, pengajar…). Tuhan menyediakan fungsi ini agar tubuh Kristus yaitu gereja dibangun. Mari berdoa, berpikir dengan serius untuk mengetahui panggilan Tuhan bagi kita.