Pengkhotbah

Perikop
Yohanes 8:37-47

Ringkasan Khotbah

Dalam tradisi Ibrani kata “kebenaran” berasal dari kata “tsedeq” yang dapat diartikan kejujuran. Menurut seorang penulis, orang yg memiliki kebenaran berarti ia hidup tegak, lurus dan jujur, ikhlas.

Kita mewarisi konsep bergereja dari orang tua, gereja/ persekutuan kita. Tetapi sering sekali tanpa sadar terjadi kita tidak tunduk kepada otoritas Firman, lebih condong untuk tunduk pada paham Gereja. Contoh: menjaga kekudusan dengan cara tidak merokok. Mayoritas Gereja berkata bahwa tidak boleh. Tetapi ada yg berkata: tidak masalah. Jadi, kita sering dibingungkan. 2 Timotius 3:16 menulis bahwa Firman Allah bermanfaat untuk: mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik orang dalam kebenaran. Jadi mari kita kembali melandaskannya pada firman Tuhan

Perikop ini adalah kelanjutan perbincangan Tuhan Yesus kepada orang Yahudi yang telah percaya pada-Nya (ayat 30). Tuhan tidak berhenti di situ saja, tetapi masih mengajarkan prinsip-prinsip yang penting. Sedangkan sebagian orang menganggap kalau sudah mengaku percaya Kristus saja sudah selesai, tidak ada lagi yang perlu dikerjakan. Fakta ini mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran itu harus menjadi sebuah penekanan dan perbincangan yang tidak boleh diabaikan di antara kita dengan Tuhan dan sesama. Bagi Kristus, kebenaran adalah sebuah dasar pembebasan karena kebenaran membawa seseorang kepada kesadaran untuk menyenangkan, mengasihi Tuhan dengan segala ketulusan, dan membuat seseorang mampu mengalahkan segala tabiat dosa. Kebenaran menghasilkan 2 hal, yaitu ketenangan dan damai sejahtera (Yesaya 32:17). Inilah kerinduan kita bergereja, kita ingin menikmati ketenangan dan sukacita. Rahasianya adalah kita masing-masing belajar untuk ditaklukkan kepada kebenaran.

Pada saat Tuhan Yesus berbicara kebenaran, Ia mengangkat topik tentang perilaku/pekerjaan Iblis. Bahwa ia adalah penipu (Kejadian 3:4), pembunuh manusia sejak semula, pendusta dan bapa segala dusta (Yohanes 8:44), berbuat dosa dari mulanya (I Yohanes 3:8), menyesatkan seluruh dunia dan akan dihukum (Wahyu 12:9). Dari rangkuman tentang setan ini, kita dapat melihat bahwa sebenarnya orang yang berada di bawah kendali iblis ini adalah orang yang kehilangan banyak hal, termasuk sukacita kehidupan, kebenaran dan upah hidup kekal nanti. Buah dari seseorang yang hidup dalam kebenaran:

1. Ia memberi tempat kepada Firman (ayat 37)

Supaya seseorang mengalami kebebasan, ia harus mengalami kemerdekaan secara rohani (ayat 32). Yesus menghubungkan antara kebenaran dan kebebasan. Dosa itu berkuasa, tapi kuasa dosa itu dapat ditaklukkan oleh kebenaran. “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran.”(ayat 31-32) . Jadi, satu-satunya cara kita menaklukkan perbudakan dosa adalah dengan tetap pada Firman. Firman Allah berkuasa, “Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun.” (Ibrani 4:12). Ayat 47 mengatakan bahwa ‘barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan Firman Allah’.

2. Membongkar kepalsuan (ayat 44)

Allah kita bukanlah Allah hasil dari pikiran atau hasil refleksi imajinasi manusia tetapi Dia adalah Allah yang berada dalam diri-Nya tanpa dipengaruhi oleh siapapun. Orang-orang Yahudi ini mengaku sebagai keturunan Abraham tetapi perilakunya menentang kebenaran. Inilah kepalsuan dalam beragama. Mereka mengaku keturunan Abraham tetapi tidak mengikut iman Abraham. Inilah kepalsuan. Bagaimana kekristenan kita?  Apakah kita mirip-mirip Kristen? Mirip-mirip bukanlah Kristen sejati. Yang sejati harus belajar dari Tuhan Yesus. Karena itu, Tuhan Yesus menyebut bahwa bapa mereka adalah iblis. Mengapa Tuhan Yesus menyatakan hal ini? Karena Tuhan Yesus tidak mau kepalsuan itu ada di dalam diri orang-orang Yahudi yang percaya itu. Kalau seorang pengkhotbah berkata kepada pendengarnya: ‘kamu anak-anak setan’. Apa respon kita? Kita pasti marah bukan? Yesus tahu bahwa orang-orang itu harusnya marah pada waktu itu tetapi Ia tidak membiarkan kepalsuan itu melekat pada mereka. Ia mau kemurnian iman mereka.

Yesus datang  membawa pembebasan. Datanglah dan Ia akan memerdekakan (Luk 4:18-19)!