Pengkhotbah

Perikop
Kolose 2:8-3:4

Ringkasan Khotbah

Budaya merupakan adat istiadat yang sudah berkembang secara turun temurun dan menjadi kebiasaan/tradisi. Setiap budaya memiliki cara dan aturan yang unik dan berbeda-beda, tetapi kalau dilihat lebih dalam lagi sebenarnya banyak yang identik dengan pengaruh kuasa-kuasa kegelapan.

Ada 3 sikap yang bisa dilihat ketika orang dihadapkan dengan budaya: (1) menerima segala bentuk kebudayaan dalam lingkungannya dan menganggap bahwa adat di atas segalanya. (2) menolak segala bentuk budaya yang tidak diinginkannya. (3) Dualisme/Sinkretisme: yaitu di satu sisi melakukan kegiatan keagamaan, tetapi di sisi lain melakukan juga kegiatan budaya yang berlawanan dengan agama.

Allah kita adalah Allah yang cemburu, yang tidak ingin kita umat-Nya menyembah allah-allah lain. Kita perlu melihat dan mengevaluasi lagi apakah sikap kita terhadap budaya. Jemaat Kolose juga diperhadapkan dengan kebudayaan yang ada waktu itu yaitu: (1) Filsafat yang kosong (ayat 21-23) seperti gnostisisme, asketisme, dll, campuran pengajaran agama dengan filsafat Yunani yang sudah bukan kebenaran firman Tuhan. (2) Tradisi (legalisme Yahudi) seperti sunat (ayat 11) dan hari Sabat (ayat 16). Orang Yahudi sangat bangga dengan tradisi ini tetapi kita perlu ingat bahwa Tuhan kita adalah Tuhan atas hari Sabat. Tuhan yang mengajarkan untuk melakukan perbuatan baik di hari Sabat, bukan malah tidak melakukan apapun sama sekali. (3) Roh-roh dunia. Berbicara tentang penyembahan kepada malaikat, roh-roh, arwah-arwah. Orang-orang yang terlibat dengan roh-roh dunia ini tidak ada sukacita dan damai di dalam hidupnya, dan berakhir pada kebinasaan.

Setiap budaya harus benar-benar disaring sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Karena itu sebagai orang percaya, kita bukan mengambil ketiga sikap di atas melainkan harus menyaring setiap budaya dengan benar sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Kita harus mengutamakan iman kepada Yesus Kristus di atas segalanya. Budaya bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan. Janganlah sampai kita mengutamakan budaya sampai menolak Tuhan.

Kolose 2:8: Yesus Kristus adalah Allah. Karena itu kita yang percaya kepada Yesus Kristus juga dipenuhi oleh kepenuhan Kristus (Kolose 2:10; Efesus 3:19, 4:13). Di dalam Kristuslah kita dibebaskan dari ketentuan-ketentuan hukum/adat untuk mencapai kesempurnaan (ayat 14-15). Inilah pemahaman iman kita di dalam Kristus yang harus menjadi tradisi/budaya dan ditanamkan turun temurun.

Setelah beriman, perlu ada langkah iman. Ini berbicara tentang sunat secara rohani, bukan secara lahiriah (ayat 11), yaitu penanggalan akan tubuh yang berdosa. Orang Yahudi bangga akan sunat jasmani dan mengharuskannya untuk mendapatkan keselamatan, tetapi justru sunat secara rohani, yaitu langkah pertobatan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang melawan Allah, yang harus dilakukan supaya setiap bagian yang kotor dalam diri kita dikerat dan dibuang sehingga kita dapat melakukan kehendak Tuhan. Proses sunat memang menyakitkan tetapi Tuhan yang membuat semuanya indah pada waktu-Nya.

Setelah dikerat barulah kita dapat memikirkan dan melakukan perkara-perkara rohani serta menghasilkan buah-buah rohani yang memuliakan Tuhan (Matius 6:33, Filipi 4:8). (CS/02/12)