Pengkhotbah

Perikop
Filipi 3:19

Ringkasan Khotbah

Zaman sekarang, biaya untuk memelihara binatang ternyata mahal. Bahkan banyak binatang yang diperlakukan seperti manusia. Tapi kebalikannya, banyak juga manusia yang berlaku seperti binatang. Ada orang yang makan begitu banyak, apa saja dimakan sehingga seperti babi. Inilah yang akan kita renungkan saat ini. Dosa rakus. Rakus sesuai dengan arti katanya yaitu ingin memperoleh lebih banyak dari yang diperlukan. Ini juga yang dialami bangsa Israel saat di padang gurun, ketika mereka begitu ingin makan daging sehingga Tuhan mengirimkan burung puyuh (Bilangan 11:31-34). Lalu Tuhan murka terhadap bangsa Israel karena kerakusan mereka. Saat itu bangsa Israel tiap orang mengumpulkan hingga 10 homer = 1220 kg artinya 1 orang mengumpulkan sekitar 1 ton daging.

Kita semua tahu bahwa gemuk adalah sarang penyakit. ini juga merupakan salah satu hukuman juga untuk orang-orang yang rakus. Banyak orang Indonesia jika ditanya tujuan bekerja adalah untuk sesuap nasi. ini adalah ungkapan yang ekstrim. Banyak juga orang bekerja dengan rajin hanya jika dibayar lebih, bahkan hari Sabtu dan Minggu pun bekerja. Karena mendapat bayaran lebih, mereka juga lebih memilih untuk bekerja. Dikatakan di Alkitab bahwa Tuhan mereka adalah perutnya (Filipi 3:19). Di Roma juga dikatakan, mereka hanya ingin memuaskan perutnya saja. Disini kita dapat membandingkan, jika di kasus yang pertama, akibat yang ditimbulkan adalah bersifat fisik saja, yaitu sakit penyakit. Tapi akibat yang kedua ini berakibat lebih luas lagi. Merusak kebiasaan, dll. Di surat Korintus dikatakan ada kebiasaan persekutuan sambil makan bersama. Di dalam jemaat Korintus ini ada juga orang-orang yang datang ke persekutuan hanya untuk makan saja. Dalam kehidupan sehari-hari kita pun, apakah kita ingat bahwa banyak juga orang yang menderita kekurangan makanan? Jika kita terus rakus, kita akan melupakan fakta yang menyedihkan ini. “Yang penting saya bisa makan, orang lain tidak bisa makan ya sudah. Tidak kelihatan kok!” Dan hal ini dapat berkembang lagi menjadi tidak peduli dan bahkan dengan sengaja merugikan orang lain untuk mengenyangkan dirinya.

Disini kita dapat melihat betapa kejinya dosa rakus ini. Melalui dosa rakus, kita dapat berkembang menjadi melakukan dosa yang lain juga. Selanjutnya mari kita coba merenungkan untuk bebas dari dosa rakus ini.

1. Tentukan batas makan kita.

Jangan membiarkan diri kita terlalu banyak makan dan minum. Biarlah kita makan yang secukupnya saja. Ada kiasan dalam bahasa jepang “hara hachibu” yaitu makan hingga 80%, jangan sampai terlalu kenyang. Ada cara yang lain lagi yaitu dengan menjaga waktu makan. Ini untuk mencegah kebiasaan ngemil.

2. Atur waktu untuk doa dan puasa.

Dengan doa dan puasa yang teratur dalam hidup kita, kita melatih diri kita untuk tidak makan dan minum walaupun kita lapar dan haus. Disaat kita puasa tersebut, kita mengganti jam makan siang kita dengan waktu doa. Kita doakan orang-orang yang kita kasihi, orang-orang yang kekurangan. Dengan doa ini juga, kita dapat menyadari bahwa masih banyak orang yang kekurangan. Dan ini juga dapat menjaga kita dari kerakusan. (VH/04/12)