Pengkhotbah

Perikop
Yakobus 3:16

Ringkasan Khotbah

Hati kita sering dipengaruhi oleh kondisi orang-orang di sekitar kita. Kalau mendapat untung, kita akan girang. Tapi kalau orang di sekitar kita lebih banyak untung, kegirangan kita akan hilang. Kalau punya masalah, kita sedih. Tapi kalau orang lain lebih sedih, lebih malang, kita merasa senang, bersyukur. Hal ini karena ada iri hati dalam hati manusia. Iri hati sama artinya dengan cemburu, dengki. Iri hati ini muncul dan diperkuat dengan membandingkan diri dengan orang lain, dan biasanya terhadap orang yang lebih dekat dengan kita. Kalau Presiden Obama naik gaji, kita tidak terlalu peduli. Tapi kalau kita naik gaji sedikit, tetapi orang yang dekat kita naik gaji lebih banyak, kita akan iri hati. Iri hati ini sangat dekat dengan ketamakan, keserakahan. Ketamakan berhubungan dengan kuantitas, jumlah. Tapi iri hati tidak selalu dengan kuantitas. Di Gal 5:19-21 iri hati tercantum dalam daftar dosa yang dibenci oleh Allah.

Iri hati adalah: perasaan tidak senang kalau orang di sekitar mendapat lebih; perbuatan daging; melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, hal-hal yang mengacaukan. Contohnya dapat dilihat pada: Matius 20:1-15 (pekerja anggur yang iri hati); Kejadian 26:12-15 (iri hati terhadap Ishak); Kejadian 37:24-8,11 (iri hati saudara-saudara Yusuf); Kejadian 4:8, Matius 27:18 (iri hati menyebabkan pembunuhan). Mari kita menjaga diri, berjuang agar tidak terlilit dosa iri hati. Ada 3 hal yang bisa kita lakukan supaya bebas dari iri hati:

  1. Memiliki waktu mengevaluasi diri bersama Tuhan

Ada pendeta yang mengatakan bahwa iri hati adalah dosa yang paling rahasia. Orang di sekitar kita, bahkan kita sendiri pun bisa tidak menyadari iri hati ini. Pengkhotbah 4:4: iri hati bahkan bisa menyebabkan orang bekerja sangat keras. Untuk itu kita perlu mengevaluasi, apa sebenarnya motivasi di balik berbagai usaha dan perjuangan kita. Mari kita teladani kata-kata pemazmur di Mazmur 139:23-24.

  1. Mencari kepuasan di dalam Tuhan.

Kalau kita tidak puas akan apa yang ada pada kita, saat orang lain mendapat lebih kita akan iri hati. Tapi kalau kita sudah punya kepuasan, maka kita tidak akan iri. Lukas 12:15b: Tuhan Yesus berkata bahwa kepuasan sejati bukan berada dalam kekayaan. Kekayaan dan harta sifatnya sementara. Kita diciptakan oleh Allah dalam gambar dan rupa Allah dan memiliki sifat kekekalan. Karena itu, kita tidak bisa puas oleh hal-hal yang bersifat sementara. Hidup yang kekal dalam Tuhan Yesus sajalah yang bisa memuaskan kita. Kalau kita memiliki yang kekal, walaupun tidak memiliki yang sementara, kita bisa puas dan terhindar dari iri hati. Jadi intinya adalah kita perlu lebih memandang kepada Tuhan yang kekal, supaya kita bisa melihat apa yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita. Kita jadi bisa berkata, “aku sebenarnya tidak layak tapi Tuhan memberikan banyak”, “Tuhan punya maksud baik dalam memberikan kepada saya”, “Saya bersyukur atas apa yang Tuhan rencanakan, karena semuanya indah”. Kalau kita punya perspektif seperti ini, kita bisa punya kepuasan, karena kita punya Tuhan dan itu cukup bagi kita.

  1. Mengoptimalkan yang Tuhan karuniakan.

Mata kita cenderung melihat apa yang dimiliki orang orang lain. Mungkin yang kita terima sebenarnya lebih baik, tapi karena kecenderungan ini, kita jadi iri. Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Ada teori kepribadian yang membagi orang dalam 4 kategori yang masing-masing memiliki kekurangan/kelebihan. Orang sanguin iri kepada orang melankolis, karena orang melankolis bisa melakukan segala sesuatu dengan perfect. Orang melankolis iri kepada orang sanguin, karena orang sanguin lebih mudah bergaul, lebih spontan. Orang koleris iri kepada orang plegmatik karena lebih tenang dalam segala hal. Sementara orang plegmatik iri kepada orang koleris karena lebih cepat dan agressive. Mari kita gunakan/kembangkan yang kita miliki. Kalau kita bisa mengoptimalkannya, kita bisa dicegah dari dosa iri hati. Berdasarkan Matius 25:14-30, yang dilihat adalah seberapa baik kita menggunakan apa yang sudah diberikan pada kita, bukan apa yang tidak ada pada kita. (TN/03/12)