Pengkhotbah

Perikop
1 Timotius 6:10

Ringkasan Khotbah

Kata “tamak” dalam Alkitab Indonesia berarti: serakah, loba, kikir; keserakahan, ketamakan, kelobaan, laba, untung, keuntungan, hamba uang; mengejar untung, mengambil laba. Maknanya sebenarnya sangat luas, mencakup banyak hal. Kalau dapat disimpulkan, tamak artinya keinginan untuk mendapat sesuatu lebih dari yang seharusnya kita dapat untuk kepentingan kita sendiri. Dikarenakan tamak, ada yang mengambil istri orang lain, menipu, mencuri, bekerja di hari Minggu dimana semestinya ke gereja, bersumpah dengan menyebut nama Tuhan sembarangan, dll.

Ketamakan mengakibatkan: Pelanggaran tidak hanya 1, tapi keseluruhan hukum Taurat; Bencana bagi diri sendiri (2 Raja-Raja 5:19-25); Bencana bagi keluarga (Amsal 15:27, Yosua 7:20-25); Bencana bagi bangsa (Yosua 7:20-25): Misalnya di Amerika, karena hutang di mana-mana baik di kalangan bawah maupun menengah dan atas, terjadi Lehman Shock, dan akibatnya seluruh Amerika terkena dampaknya.

Bagaimana kita bisa bebas dari dosa ketamakan ini:

  • Membiasakan diri bersyukur kepada Allah (1 Tes 5:18), kalau perlu memaksa diri untuk menaikkan syukur kepada Tuhan. Tamak membuat kita melihat apa yang tidak ada, belum ada pada diri kita, membuat kita selalu merasa kekurangan. Tapi syukur membuat kita melihat apa yang sudah ada pada kita. Mari kita menghitung berkat Tuhan. Bahkan pada saat ada topan keras melanda, di situlah kita perlu menghitung berkat Tuhan. Kebahagiaan kita itu tidak berdasarkan apa yang kita miliki, tapi seberapa bersyukur kita kepada Tuhan.
  • Menetapkan batas cukup (1 Timotius 6:6-8, Matius 6:11). Secara nyata, mungkin kita sulit kalau hanya cukup dengan makanan dan pakaian. Kita boleh menambahkannya, tetapi secara terbatas. Kita perlu menetapkan sampai di mana kita akan merasa cukup. Kalau kita tidak menetapkannya, ketamakan itu akan mempengaruhi kehidupan, pikiran dan keseluruhan pengambilan keputusan kita. Kalau ingin belanja, sebelumnya cek dulu apakah itu benar-benar butuh atau tidak. Hati-hati, ketamakan bisa membuat kita menjustifikasi bahwa keinginan itu adalah kebutuhan kita. Kita akan memiliki banyak alasan untuk memenuhi keinginan itu.
  • Berkomitmen secara teratur ( Kejadian 38:20-22, 2 Korintus 9:1, 1 Korintus 16:1-3). Pertama, memberikan pemberian kepada yang tertimpa kemalangan/pelayanan kasih (diakonia). Orang yang tamak adalah seperti bejana berkat, inginnya hanya ingin menerima berkat saja. Tetapi kalau kita berkomitmen memberi secara teratur, kita akan menjadi saluran berkat. Janganlah kita hanya mau menjadi bejana berkat, tapi marilah menjadi saluran berkat juga. Kedua, memberikan persembahan persepuluhan. Apa perbedaan orang yang berkomitmen memberikan persepuluhan secara teratur atau tidak? Orang yang berkomitmen, akan memiliki kesadaran dalam mengatur keuangannya, keuangannya akan lebih stabil. Karena dia tahu bahwa 10% itu tidaklah kecil, maka dia akan berusaha mengatur pengeluaran. Dan yang perlu diingat adalah, seperti tertulis di Kejadian 28:20-22, Yakub bernazar kepada Allah untuk memberikan perpuluhan adalah sebagai ungkapan syukur karena Tuhan menyertai, melindungi perjalanan hidupnya, memberi keselamatan. Bukan karena paksaan. (TN/02/12)