Pengkhotbah

Perikop
Amsal 11:2

Ringkasan Khotbah

Tujuh dosa adalah sebutan khusus untuk dosa-dosa berikut:

  1. sombong,
  2. tamak,
  3. nafsu berlebihan,
  4. iri,
  5. rakus,
  6. marah, dan
  7. malas.

Ketujuh dosa ini lebih bersifat kondisi daripada perbuatan. Dalam tradisi Kristen (khususnya Katholik), ketujuh dosa ini disebut sebagai 7 dosa maut atau 7 dosa utama. Disebut demikian karena ketujuh dosa ini biasanya membuat manusia melakukan banyak dosa yang lain. Hidup yang Tuhan sediakan bagi kita adalah hidup oleh Roh, yaitu hidup yang tidak dikuasai dosa lagi, hidup yang merdeka.

Sombong ialah menghargai diri secara berlebihan, sehingga memandang rendah orang lain. Ini bisa berkembang menjadi sikap dan perbuatan seseorang yang menuntut orang lain untuk memuji dan menghargai dirinya seperti anggapannya tersebut, menjadi sikap menghina, yang mengakibatkan munculnya sukuisme, rasisme, diskriminasi, politik apartheid seperti yang terjadi di berbagai tempat di dunia. Kesombongan bahkan membuat seseorang ingin menyetarakan dirinya dengan Allah seperti kejatuhan Adam dan Hawa (Kejadian 3:5). Iblis sendiri pun yang tadinya adalah panglima tertinggi para malaikat juga jatuh karena kesombongan dan pemberontakan melawan Allah. Kesombongan membuat tidak mau mendengar suara Allah (Yeremia 43:2,4) dan bahkan mau menjadi Allah. Itulah sebabnya banyak godaan iblis yang sifatnya menggoda dari sisi kesombongan. Yang menyedihkan adalah banyak orang Kristen yang tergoda dan bahkan banyak lembaga Kristen hancur karena para pemimpinnya jatuh dalam kesombongan. Sombong adalah kanker spiritual yang menggerogoti hidup kita.

Ada banyak ungkapan yang berhubungan dengan sombong: tinggi hati, besar kepala, besar mulut, dll. Seringkali hal-hal sombong bahkan kita tidak sadari sebagai kesombongan dan bisa mengakar sampai ke bagian hati kita yang paling dalam. Kesombongan bisa muncul dalam perkataan (kata-kata yang meninggikan diri atau merendahkan orang lain), bahkan terbalut dalam kata-kata rohani. Contohnya orang Farisi yang muncul dalam perumpamaan Tuhan Yesus di Lukas 18:11-12. Seperti ini, kesombongan bisa muncul dalam wujud doa ataupun sorotan mata (Amsal 6:16-17) dan bentuk lainnya tanpa suara. Kerendahan hati/ketidaksombongan yang dibanggakan pun adalah bentuk kesombongan.

Cara supaya kita bisa bebas dari kesombongan: (1) sadar bahwa kesombongan adalah dosa (Amsal 21:4), adalah kekejian di mata Allah (Amsal 6:5,16-17), adalah sesuatu yang Allah tidak senang dan bahkan benci. Banyak orang menyadari bahwa sombong itu tidak baik, tetapi tidak sadar/menyetujui bahwa itu adalah dosa. Sikap yang benar terhadap kesombongan adalah merasa itu sebagai sesuatu yang kotor dan harus segera diusir dan dilenyapkan daripada kita. (2) memiliki pengenalan diri yang sehat. Tes kepribadian mungkin bisa cukup membantu. Tetapi ada yang lebih baik yaitu membaca Firman Tuhan. Firman Tuhan mengajarkan kita betapa mulianya manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, betapa berharganya manusia di mata Allah dan dikasihi Allah. Ini dapat mencegah kita merendahkan orang lain. Firman Tuhan juga mengajarkan bagaimana manusia itu terbatas, seperti debu, sehingga dapat membantu kita tidak meninggikan diri. Ada juga nasehat dan kisah yang dapat diteladani untuk tidak sombong (Matius 11:11, Yohanes 3:30; Filipi 2:5-6, Yohanes 1:14). (3) menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Tuhan. Kalau kita tekun membaca atau mendengarkan kitab suci maka akan lebih mudah melaksanakan hal ini. Penyebab sombong kita berasal dari harta benda, pengetahuan, keberhasilan, kebaikan bahkan kerohanian kita. Tetapi bila kita sadar bahwa semuanya adalah milik Tuhan (Roma 11:36, 1 Korintus 15:10), semuanya adalah anugerah Tuhan maka kita tidak bisa sombong, melainkan justru bersyukur. Bersyukur yang sejati adalah memuji Tuhan, bukan memuji diri dan bukan merendahkan orang lain. (CS/01/12)