Pengkhotbah

Perikop
Markus 16:9-16

Ringkasan Khotbah

Minggu lalu kita merenungkan Paskah. Paskah dalam perjanjian lama merupakan peristiwa penting bagi Israel. Setelah tulah 9 kali kepada Mesir tetapi Firaun seperti mempermainkan Tuhan. Pada malam terakhir sebelum tulah ke 10 Israel mengoleskan darah pada ambang pintu dan Tuhan melewati rumah itu. Tetapi yang tidak ada darah, malaikat membunuh anak sulungnya. Kata melewati inilah yaitu Pasach, Inggris: passover. Sampai pada zaman Yesus hari raya ini diperingati sebagai hari keluarnya bangsa Israel. Pada Keluaran 12:2, dikatakan Paskah ini adalah permulaan segala bulan bagimu, yang awal, yang pertama di tahun yang baru. Jadi perintah Paskah bagi orang Israel sama seperti pada kita sekarang adalah hari pertama setelah kebangkitan bagi orang Kristen.

Zaman dulu, darah yang dioleskan adalah dari domba yang terbaik. Yesus adalah anak manusia yang darahNya tercurah untuk menggantikan kita. Yesus yang tersalib yang mati dan dikuburkan 3 hari (yang artinya benar-benar mati). Sehingga kebangkitan Yesus benar-benar nyata adanya. Setelah disiksa dari hari Kamis malam sampai disalib, Yesus benar-benar mati dan benar-benar bangkit. Maka kita juga harus menjadi murid Yesus yang benar-benar. Tetapi masih banyak orang yang hanya setengah-setengah menjadi murid Yesus.

Kebangkitan Yesus adalah point sentral pemberitaan Paulus dan gereja (1 Korintus 15:3-4; Markus 16:8). Di atas berita kebangkitan Kristus inilah kekristenan berdiri. Tuhan orang Kristen bukan Tuhan yang takluk kepada kematian. Karena kebangkitan Yesus para murid mengalami sebuah pengharapan yang baru. Tadinya mereka telah tercerai-berai dan melarikan diri, takut (Markus 14:50).

Pemberitaan kebangkitan Yesus terus berjalan tetapi melalui proses yang sulit dan melewati tembok yang besar yang justru adalah hati murid-murid. Tetapi Yesus sendiri yang menolong murid-murid percaya, dan berita itulah dibawa ke mana-mana sampai ke zaman kita.

Maria Magdalena pernah dikuasai oleh 7 setan. Murid-murid tidak mampu mengusirnya, hanya Yesus yang mampu mengusirnya. Maria ingin melihat kubur orang yang telah menyelamatkannya. Maria yang mewakili perempuan lain ingin merempahi mayat Yesus karena proses pemakaman pada hari Jumat sangat terburu-buru. Pada saat Yesus disalib, murid-murid tercerai-berai, hanya kaum perempuanlah yang setia melihat. Pada zaman itu, Yahudi sangat mengistimewakan kaum pria. Tapi Tuhan tidak terikat oleh prinsip itu. Sama seperti Yesus adalah Imam, meskipun Dia suku Yehuda, bukan Lewi. Kalau kita melihat kebangkitan Yesus, baik murid maupun perempuan, mereka semua takut. Para murid takut keluar tapi perempuan ini meskipun takut tapi mau keluar. Mereka takut karena belum mengerti kebangkitan Yesus (Yohanes 20:9). Tetapi para perempuan ini melihat kubur Yesus (Lukas 23:55), mereka setia dan Yesus yang melihat kesetiaan mereka memakai mulut mereka untuk memberitakan berita kudus ini. Yesus ingin memakai mulut orang-orang yang setia sama seperti perempuan ini, maukah kita dipakai seperti mereka. Jika Yesus sudah menunjukkan KasihNya pada kita, perempuan ini juga menunjukkan kasih mereka pada Yesus.

Kedua orang murid adalah dua orang yang ke Emaus. Ada sesuatu yang menutup mata mereka yang dibuat Tuhan ketika mereka berjalan bersamaNya. Tujuannya adalah supaya murid lebih leluasa berbicara dan menyatakan apa yang mereka ketahui tentang kebangkitan Yesus. Pada akhirnya Yesus mengecam ketidakpercayaan/kebodohan mereka. Tetapi setelah Yesus menyatakan diri, mereka begitu bersemangat untuk menceritakan kepada murid lain. Markus menulis dalam ayat 13 bahwa keduanya kembali ke Yerusalem memberitakan tentang Yesus. Tuhan tidak memakai malaikat tetapi murid.

Istilah “memberitahukan” (apologeo) dijelaskan sebagai malaikat yang memberitahukan berita Yesus. Tetapi kabar kebangkitan Yesus kepada seluruh makhluk bukan lagi malaikat tetapi orang percaya.

Kesebelas Murid adalah orang yang paling sulit diyakinkan tentang kebangkitan Yesus. Yesus sudah memberitahukan kebangkitan Yesus sampai 3 kali kepada mereka (Markus 9:32; Lukas 18:34) tetapi mereka masih belum mengerti. Sehingga pada saat peristiwa kebangkitan Yesus pun mereka masih belum mengerti, maka Yesus mengecam mereka. Kata mengecam disini sama dengan kata yang dipakai untuk mengecam kota yang tidak bertobat. Jadi ini adalah teguran yang keras pada murid-muridNya. Meskipun mereka telah hidup 3 tahun bersama Yesus tetapi tidak mengerti. Muridlah tembok besar yang harus dilewati Injil. Tetapi Yesus mau mengurus mereka dan murid pun mau diurus sehingga bertobat dan percaya dan dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil sampai rela mati. Ayat 16 merupakan suatu penghakiman pada dunia, yang percaya dibaptis dan diselamatkan tetapi yang tidak percaya akan dihukum.

Mari kita belajar hidup bagi Yesus seperti perempuan, seperti kedua murid dan kesebelas murid.