Ringkasan Khotbah

Sebelum dipanggil menjadi seorang misionaris, saya sangat tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan Islam maupun dunia Arab. Namun, justru Tuhan mengutus saya melayani orang-orang Islam di Timur Tengah (Yaman dan Yordania).

Dalam sebuah perjalanan misi, setiap orang yang terlibat mempunyai peran dalam tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Ada yang bertanggung jawab dalam peralatan, akomodasi, ada yang mengkoordinasi doa, dan lain-lain. Namun, dalam pelayanan, ada saja orang Kristen yang tidak mau ambil bagian. Dalam perikop hari ini, Yesus dan para murid juga sedang melakukan perjalanan misi. Kita melihat sepertinya ada ketidaksiapan di antara para murid dalam perjalanan misi ini karena mereka tidak mempunyai makanan yang cukup untuk orang banyak yang telah mengikuti Yesus selama tiga hari. Di tengah tantangan hidup yang semakin besar dimana setiap orang dituntut untuk bisa survive, orang-orang yang bahkan disebut Kristen telah kehilangan kasih sejati. Tetapi tidaklah demikian dengan Yesus. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Tuhan Yesus menanyakan kepada para murid: “Berapa roti ada padamu?” dan para murid menjawab, “Tujuh dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Orang banyak yang mengikuti Yesus ada kira-kira 4,000 orang, tidak termasuk wanita dan anak-anak. Dengan tujuh roti dan beberapa ikan kecil, Yesus dapat memberi makan orang banyak yang mengikuti-Nya. Tujuh roti dan beberapa ikan kecil mempunyai nilai yang berbeda di tangan Yesus. Setiap hal kecil yang dapat kita berikan dalam melayani Tuhan dapat dipakai oleh Tuhan menjadi sebuah hal yang besar ketika kita menyerahkannya ke dalam tangan-Nya.

Ketika tiba di Yaman untuk belajar bahasa dalam rangka persiapan pelayanan misi, kami sekeluarga merasakan culture shock, misalnya melihat bandara yang ukurannya kecil, tentara bersenjata dengan kendaraan lapis baja, tidak boleh melihat bahkan mengintip keluar jendela, untuk keamanan ketika mengirim e-mail harus dari warnet yang jauh dari rumah karena ada kemungkinan disadap, dll. Dihadapkan dengan culture shock ini, kami sempat mengalami perasaan ingin mundur. Tetapi perlahan-lahan kami mulai menikmati kehidupan di Yaman dan Tuhan semakin menanamkan belas kasihan di hati kami bagi orang-orang Islam di Arab. Setiap hari dunia semakin mengalami krisis kasih, krisis belas kasihan. Apakah kita sebagai orang Kristen melihat orang-orang yang belum mengenal Tuhan atau kita malah santai dan tidak peduli?

Tuhan menuntun kami untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri dengan meneladani Rasul Paulus yang membuat tenda. Kami membuat Chinese food yang dijual kepada orang-orang Arab dari bekal pelajaran memasak yang kami peroleh di Bali. Melalui belas kasihan yang tulus yang Tuhan tanamkan di dalam hati kami dan dengan hikmat yang berasal dari Tuhan, kami dapat membangun jembatan dengan orang-orang Arab, misalnya memberikan pengajaran bermain gitar dengan lagu-lagu berbahasa Arab yang saya karang. Lirik lagu-lagu tersebut mengandung puji-pujian kepada Tuhan. Saya juga memberikan pelajaran bahasa Inggris dan pelayanan memotong rambut secara gratis kepada anak-anak yang saya temui. Ketika anak-anak yang saya layani menanyakan mengapa saya menolak bayaran, saya mengatakan bahwa seseorang sudah membayarnya. Hal ini berlangsung sekian lama dan menimbulkan tanda tanya dan rasa ingin tahu di dalam hati anak-anak tersebut. Sampai suatu saat, salah seorang anak berkata: “Saya ingin bertemu dengan dia yang telah membayar tersebut.” Saya pun mengajak anak tersebut ke rumah kami. Anak tersebut berharap dapat melihat seseorang ketika tiba di rumah kami. Ketika anak tersebut tidak mendapati seorang pun, saya mengatakan bahwa Yesuslah yang telah membayar semuanya, semua hutang dosa-dosa anak tersebut dan saya dan umat manusia. Mendengar kata-kata tersebut, anak tersebut jatuh tersungkur dan dia menerima Yesus pada saat itu.

Modal dasar orang Kristen untuk menginjili adalah memiliki hati Bapa yang penuh belas kasihan. Ketika Tuhan mengutus kita untuk memberitakan Injil, kita tetap menaruh iman kepada Tuhan. Tujuh roti dan beberapa ikan kecil di tangan kita tidak berarti, tetapi di tangan Tuhan sangat berarti.