Ringkasan Khotbah

Perikop ini bermula dari percakapan seorang ahli Taurat dengan Yesus. Dia ingin menguji Yesus dengan menanyakan konsep keselamatan menurut hukum Taurat yang sebenarnya sudah diketahuinya. Meski sudah tahu isi hati ahli Taurat tersebut, Yesus meresponinya. Ketika ahli Taurat menanyakan tentang siapa sebenarnya sesama manusia menurut Yesus, Yesus memberikan jawaban yang mengejutkan bagi orang-orang Yahudi. Dalam Perjanjian Lama, kita belajar bagaimana kerajaan Israel pecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Yehuda (Israel bagian selatan dengan ibukota Yerusalem yang dijajah oleh bangsa Babel) dan Kerajaan Israel (Israel bagian utara dengan ibukota Samaria yang dijajah oleh bangsa Asyur). Di daerah Samaria, bangsa-bangsa asing dimasukkan oleh bangsa Asyur sehingga banyak terjadi kawin campur. Inilah yang menyebabkan orang-orang Yahudi (Kerajaan Yehuda) tidak menyukai orang-orang Samaria.

Orang yang dirampok kemungkinan besar adalah seorang Yahudi. Tujuan orang Samaria dalam perikop ini tidak disebutkan, tapi kita simpulkan bahwa orang Samaria ini telah melewati batas-batas geografis. Ketika orang Samaria ini menolong orang Yahudi yang dirampok tersebut, dia murni menyatakan kebajikan tanpa mempedulikan penghalang-penghalang yang mungkin ada antara orang Yahudi dan orang Samaria. Kita juga seringkali berpikir: ”Bagaimana saya bisa berbuat baik di Jepang ini?” Galatia 5:22-23 menegaskan bahwa tidak ada hukum yang menentang perbuatan2 baik berdasarkan buah roh yang disebutkan dalam ayat tersebut. Kita sebagai orang Kristen seringkali membatasi diri kita dengan pikiran2 dan asumsi2 yang tidak tepat. Misalnya ketika ada orangtua yang berdiri sementara kita duduk dalam kereta, kita cenderung segan mempersilahkan orangtua tersebut untuk duduk karena berasumsi bahwa dia akan menolak. Kita berdosa apabila kita tidak melakukan apa yang kita sudah ketahui sebagai benar. Orang Samaria ini telah melakukan kebajikan yang menerobos batas geografis. Orang Samaria ini juga telah melewati batas-batas etnografis dan egosentris (ay. 30-33).

Yesus juga menyebutkan tentang seorang imam dan Lewi yang melewati jalan tersebut dan melihat sang korban perampokan. Imam dan orang Lewi ini mengetahui secara konsep siapa sesama mereka dan apa yang harus mereka perbuat, namun pemahaman mereka tersebut begitu sempit. Menurut para imam dan Lewi, sesama manusia adalah keluarga inti, sanak saudara, teman-teman, suku-suku sebangsa. Para imam dan Lewi juga seringkali mempedulikan status mereka. Ada kemungkinan mereka terlalu menghargai status mereka sehingga mereka tidak menolong sang korban perampokan.

Orang Samaria dalam perikop ini juga telah menerobos ikatan emosional, melampaui latar belakang hubungan yang buruk antara orang Yahudi dan orang Samaria. Ahli Taurat menjawab pertanyaan terakhir Yesus dengan tanpa menyebutkan kata “orang Samaria” (ayat 36-37) menunjukkan rasa tidak sukanya kepada orang Samaria, namun orang Samaria ini telah memberikan kasih kepada suku bangsa yang menganggap suku bangsanya musuh. Orang Samaria ini telah melakukan tindakan kasih berdasarkan kemurnian hati, tidak ada mengharapkan imbalan atau jasa timbal balik supaya nantinya dia mendapatkan balasan dari si korban. Kita melihat semua perbuatan-perbuatan bajik dari orang Samaria ini kepada si korban yang disebutkan dalam ayat 33-35. Orang Samaria ini juga mengorbankan harta yang dia miliki demi menolong si korban. Ketika Yesus melihat orang banyak, orang lumpuh, orang buta, termasuk kita, Yesus menaruh belas kasihan. Mari kita mengingat bahwa karena belas kasih Tuhan-lah kita mendapatkan kesempatan beribadah pada hari ini, kita dapat menapaki tahun 2013, dan juga diberi kesempatan melayani-Nya. Kiranya kita senantiasa setia melakukan kebajikan mengikuti teladan orang Samaria ini dengan mengingat cinta kasih Tuhan bagi kita.