Ringkasan Khotbah

Pada perikop ini, Yesus berkata bahwa perintah untuk mengasihi itu bukanlah perintah baru. Sejak lama sudah ada perintah mengasihi (Imamat 19:18). Namun kita diminta untuk melakukannya dalam kondisi yang baru, mengasihi tanpa memandang bulu. Sama seperti kasih Yesus kepada kita.

Jika seseorang belum sungguh percaya Kristus, dan tidak mengasihi sesamanya, mereka hidup dalam kegelapan, dan kegelapan itu membutakan mata mereka. Tetapi saat kita sungguh-sungguh percaya, Tuhan akan membuka mata kita. Pertanyaan untuk kita: adakah kita saat ini membenci saudara kita? Janganlah kita tinggal terus dalam kegelapan, yang membutakan mata. Meskipun kita pernah disakiti, dan itu sangat menyakitkan, kalau kita sungguh-sungguh dalam Kristus, Tuhan akan memberikan kita kekuatan, memampukan kita untuk dapat mengampuni. Seperti Kristus, meskipun dihina, disiksa, tidak membalas, hendaknyalah kita tidak menuntut balas. Pembalasan adalah sepenuhnya hak Tuhan.

Ayat 12-14: ada beberapa tingkatan dari pembaca surat ini yaitu anak-anak, orang muda, bapa-bapa.
1.    Dalam ayat 12, anak-anak yang dimaksud adalah anak-anak dalam arti rohani, orang yang baru diampuni dosa, masih labil. Sementara dalam ayat 14, kata anak-anak dalam arti yang sebenarnya, yaitu tubuhnya masih kecil. Anak-anak butuh bapa untuk mengajarnya. Ketika kita sungguh-sungguh percaya ada 2 hal terjadi: mata kita terbuka dan kita diampuni. Orang yang sudah percaya bukanlah orang yang mencari pengampunan, tetapi orang percaya adalah orang yang sungguh tahu bahwa dosanya sudah diampuni. Kalau kita ingat terus akan dosa kita dan kuatir apakah itu diampuni atau tidak, kita berada dalam kesedihan atas dosa kita, kita tidak bisa bertumbuh.

2.    Pada ayat 13 tertulis anak-anak muda yang kuat. Sementara pada ayat 14 juga ditulis anak-anak muda karena mereka kuat dan Firman Allah diam dalam mereka. Kita kuat karena Allah yang telah memberi kekuatan kepada kita. Kita berada dalam peperangan rohani bersama seluruh orang-orang yang percaya kepada Kristus. Tidak bisa santai-santai saja. Secara pribadi kita tidak bisa melawan dosa, tetapi karena Firman Allah bersama kita, kita jadi kuat, dan kita dapat melawan dosa.

3.    Tingkatan yang berikutnya adalah bapa-bapa yang sudah mengenal Dia sejak awal, sudah bertumbuh.

Dengan kata lain, dalam tingkatan usia, kita mengalami hal ini:
1.    Kita diampuni.
2.    Kita diberi kekuatan untuk melawan dosa.
3.    Kita sungguh-sungguh beroleh pengenalan yang benar akan Allah.

Kemudian pada ayat 15 kita diajak untuk sungguh-sungguh mengasihi Allah, tidak mengasihi dunia. Ini bukan dalam pengertian kita tidak boleh mengasihi keluarga atau pekerjaan kita. Tetapi yang dimaksud mengasihi dunia adalah hidup dimana tidak ada Allah dalamnya. Kita harus berusaha supaya kita sungguh-sungguh mengakui Allah dalam setiap hal dalam kehidupan kita. Contohnya adalah jangan mengikuti keinginan daging, jangan mengikuti keinginan mata, baik barang maupun wanita, jangan angkuh, dll.

Apakah ada hal duniawi yang membuat kita tidak mengutamakan Tuhan? Marilah kita berusaha agar dalam setiap kegiatan kita selalu mengakui Allah.

(TN/04/11)