Pengkhotbah

Perikop
Efesus 2:11-22

Ringkasan Khotbah

Tema di bulan Mei mengarahkan kita untuk menjadi keluarga Allah yang hidup dalam kasih Tuhan. Ini menjadi dasar penting bagi setiap kita baik suami, istri, dan anak untuk menyadari panggilan Tuhan sebagai gereja-Nya yang kudus. Ayat 22: Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh, ini adalah tujuan kita menjadi umat Allah yaitu untuk menjadi tempat kediaman Allah yang kudus.

Paulus memulai bagian ini dengan kata “Karena itu ingatlah”, apa yang perlu diingat? Ayat 1-10 bahwa mereka semua sudah mengalami keselamatan. Situasi dan latar belakang gereja Efesus adalah terdapat golongan Yahudi dan non Yahudi dalam gereja, serta golongan Yahudi menyebut non Yahudi tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel, tidak mendapat bagian dalam ketetapan, tanpa pengharapan, dsb sehingga sulit bagi golongan non Yahudi masuk dalam kesatuan gereja. Tetapi Paulus menjelaskan di ayat 13 oleh darah Kristus kita semua telah menjadi umat Allah, yang jauh menjadi dekat. Dan bahwa Kristus mempersatukan semua golongan (ay. 14) maka setiap orang yang sudah menerima atau dibaharui oleh curahan darah Kristus bisa bersatu walau berbeda suku, bahasa, dan karakter. Kuncinya adalah kelahiran baru (ay. 15).

Bagaimana bisa keluar dari perbedaan-perbedaan yang ada? Ingat akan posisi kita sebagai gereja / umat yang telah ditebus dan dibawa sebagai kawan sewarga Allah tanpa ada pembedaan. Salib menjadi tempat mempersatukan semua perbedaan (ay. 16) sehingga orang bisa menghadap Tuhan. Ia yang adalah sumber damai sejahtera itu (Fil 4:7) memberikan kepada kita damai sejahtera (bhs Ibrani: shalom, bhs Yunani: eirene). Yesus menerima orang non Yahudi yang ditolak orang Yahudi maka kita perlu meneladani sebagai wujud kasih. Semakin dekat Allah, semakin bisa menerima perbedaan. Seorang penafsir berkata sering terjadi percekcokan di dalam gereja disebabkan karena kurang dekat dengan Allah. Kita perlu koreksi diri masing-masing dan perlu ingat bahwa kita buatan Allah untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah (ay. 10). Dalam ilmu seni, hasil karya menggambarkan karakteristik pembuatnya,, maka kita sebagai buatan Allah yang bernilai baik di mata Allah perlu menggunakan hidup kita untuk memuliakan-Nya. Melalui proses Kalvari kita diperbaharui dan diarahkan untuk menjadi gereja yang kudus.

Gereja yang kudus: ① Harus dibangun di atas para rasul dan nabi (ay. 20a). Para rasul adalah orang yang diutus Allah untuk memberitahukan kebangkitan Kristus sehingga orang-orang boleh percaya dan menjadi umat Allah. Demikian juga nabi dalam PL bertugas menyampaikan apa yang Tuhan firmankan kepada umat-Nya. Rasul dan nabi identik dengan firman Allah, maka gereja yang kudus adalah geraja yang dibangun di atas kebenaran Firman Allah, bukan gedungnya atau sistem pemerintahan. ② Kristus sebagai batu penjuru / dasar gereja (ay. 20b). Batu penjuru adalah fondasi dari sebuah bangunan yang menjadi kekuatan bagi batu yang disusun diatasnya. Paulus menggambarkan gereja sebagai tubuh Kristus dan kepala jemaat adalah Kristus dan di bagian ini batu penjuru adalah Kristus. Maka dasar dan pusat dari gereja adalah Kristus sehingga antara gereja dan Kristus tidak bisa dipisahkan. Calvin berkata gereja adalah sarana yang diberikan Allah kepada orang-orang percaya yang lemah untuk membina dan memelihara mereka dalam iman. Sarana itu adalah masing-masing kita sendiri sehingga bisa saling menguatkan. Maka orang Kristen tidak boleh jauh dari persekutuan agar tidak melemah. ③ bertumbuh di dalam Dia (ay. 21-22). Gereja dalam bahasa Yunani: ek-klesia artinya dipanggil keluar. Kita tidak dipanggil hanya untuk mengalami perubahan status tetapi setelah dipanggil sebagai umat Allah, kita diarahkan bertumbuh dalam Tuhan sehingga kita bisa dipakai untuk membawa berita damai sejahtera kepada yang belum mendapatkannya. Maka tujuan dan arah hidup kita adalah untuk melayani Tuhan kita melalui keluarga, profesi, dan gereja sehingga kita bisa menjadi gereja-Nya yang kudus.