Ringkasan Khotbah

Gereja pada hakikatnya berkembang karena adanya pemberitaan Injil. Dasar pemberitaan Injil adalah ketaatan terhadap Amanat Agung (Mat. 28:19-20), kasih kepada yang terhilang (Mat. 9:36, Rm. 10:1), dan kasih kepada Allah. Yesus sendiri memberikan teladan dalam Luk. 8:1, yang menggambarkan Yesus memberitakan Injil bahkan hingga ke desa-desa. Ini memberikan kekuatan sekaligus dasar bagi misi ke daerah-daerah yang belum terjangkau oleh Injil, termasuk pelosok-pelosok yang sulit dikunjungi sekalipun.

Salah satu reformator Gereja, Martin Luther pernah berkata: Kehidupan orang percaya bukan untuk dirinya sendiri, tetapi di dalam Kristus dan untuk saudara-saudara / tetangga-tetangganya. Kalau tidak, ia bukanlah Kristen. Maksudnya ialah, kita sebagai orang yang sudah mendengar dan menerima Injil, tidak boleh terus hanya menjadi penerima saja, tetapi harus ikut ambil bagian sebagai pemberita Injil juga. Jadi Injil tidak boleh berhenti sampai pada kita saja, tetapi harus diteruskan pada orang-orang di sekitar kita.

Pemberitaan Injil menjadi bagian yang penting dalam kehidupan bergereja. Gereja yang memiliki pelayanan misi akan terus bertumbuh, sedangkan gereja yang tidak melakukan penginjilan akan menjadi stagnan. Ini terlukiskan dalam kitab Kisah Para Rasul, di mana pada bacaan kali ini menggambarkan contoh gereja yang bertumbuh yaitu gereja di Antiokhia. Gereja Antiokhia, melalui tuntunan Roh Kudus menjadi gereja pertama yang mengutus misionaris. Pada bagian lainnya juga, tersirat bahwa gereja Yerusalem justru tidak mengutus misionaris dan membatasi penginjilan di dalam Yerusalem; ini menjadi contoh gereja yang berhenti.

Melalui kitab Kisah Para Rasul juga, kita dapat melihat bahwa pemberitaan Injil tidak tertekan oleh ancaman-ancaman, malah justru dalam keadaan semakin tertekanlah Injil semakin tersebar. Gereja sebagai pemberita Injil harus belajar dari gereja Antiokhia, terutama dalam beberapa poin berikut:

  1. Gereja yang terus belajar Firman Tuhan

Gereja tidak boleh berhenti dalam belajar Firman Tuhan. Gereja Antiokhia, seperti gereja mula-mula yang lainnya, tekun dalam pengajaran para rasul. Dalam jemaat ini juga, terjadi adanya multiplikasi dan regenerasi Injil, di mana pada awalnya pelayanan hanya dilakukan oleh Saulus dan Barnabas, tapi hingga waktu Saulus dan Barnabas akhirnya diutus untuk menginjili daerah lain mereka telah memiliki 5 orang tokoh pengajar termasuk Saulus dan Barnabas.

  1. Gereja yang peka kepada pimpinan Roh Kudus

Jemaat yang saleh, adalah jemaat yang dipimpin oleh Firman Tuhan. Jemaat di Antiokhia memberikan teladan jemaat yang saleh: mereka rajin beribadah dan berpuasa, mereka juga peka terhadap pimpinan Roh Kudus, dan selalu meminta pimpinan Roh Kudus dalam segala hal. Penginjilan pada hakikatnya adalah pekerjaan Roh Kudus. Ini tercermin dalam tindakan yang dilakukan jemaat di Antiokhia ketika Roh Kudus mengutus Saulus dan Barnabas untuk pergi memberitakan Injil ke tempat lain. Jemaat di Antiokhia dengan rasa bangga dan sukacita mengutus Saulus dan Barnabas, bahkan menopangkan tangan ke atas kepala mereka sebagai tanda kerelaan jemaat Antiokhia dalam mengutus Saulus dan Barnabas, karena mereka berpusat bukan pada manusia melainkan kepada Allah melalui ibadah, doa, dan puasa.

  1. Gereja yang terus berdoa

Gairah kekristenan ditentukan oleh kesetiaan berdoa. Poin (1) dan (2) bergantung kepada poin ini, karena melalui doalah kita dapat memperoleh pengertian akan Firman yang kita pelajari, dan juga melalui doalah kita dapat peka terhadap pimpinan Roh Kudus.

Gereja bertumbuh dalam dua arah, ke dalam melalui pemuridan dan pertumbuhan iman jemaat, ke luar melalui pemberitaan Injil dan dukungan misi. Marilah kita mendukung pemberitaan Injil agar nama Tuhan semakin dimuliakan, dan gereja kita dapat bertumbuh di dalam Tuhan.