Ringkasan Khotbah

Efesus adalah salah satu kota terpenting dan terbesar di wilayah Asia yang terletak di pantai barat Turki modern. Jemaat Efesus pernah dilayani oleh Paulus, Akwila dan Priskila, Apolos, Timotius dan Yohanes. Mereka juga bersemangat di dalam melawan para guru palsu. Di bagian ini dituliskan 7 pujian (ketekunan, jerih payah, kesabaran dalam penderitaan, dsb) bagi jemaat Efesus tetapi ada juga teguran yang sangat keras dari Tuhan. Ketika Paulus mulai melayani jemaat ini, mereka sangat berkobar-kobar tetapi setelah lewat 40 tahun, Tuhan mencela jemaat ini. Mereka sangat giat dalam pekerjaan Tuhan dan militansi mereka bagi Tuhan tidak diragukan lagi. Tetapi Tetapi Tuhan menentang mereka karena mereka meninggalkan kasih yang semula. Dari sini kita dapat melihat bahwa mungkin saja bagi orang yang giat melayani Tuhan sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Motivasi pelayanan sudah bukan lagi karena kasih yang semula, kasih yang berkobar-kobar yang mengutamakan Tuhan melainkan karena hal-hal lain seperti keinginan akan pujian dari Tuhan atau manusia, dsb. Jemaat Efesus begitu sibuk melayani sehingga mereka mengabaikan inti pemujaan kepada Tuhan sendiri. Kita pun di Tokyo ini, di kota yang begitu berkembang dengan gereja dimana kita melayani dengan begitu giat, tetapi harus berhati-hati jangan sampai kita kehilangan kasih mula-mula ini. Kita harus tetap ingat bahwa dalam setiap pelayanan dan ibadah kita, semuanya adalah tentang Yesus Kristus Tuhan. Motivasi pelayanan dan ibadah kita haruslah tetap berdasar pada kasih yang semula yang sudah Tuhan berikan. Kegagalan dalam hal ini akan mengakibatkan pelayanan dan ibadah yang dingin. Gereja yang kehilangan kasih yang semula, akan segera kehilangan terang, yang adalah sangat berbahaya. Efesus yang begitu besar dan penting pun sekarang hanyalah tinggal puing-puing belaka. Dalam Perjanjian Lama, di jaman nabi Amos, orang Israel diingatkan untuk mencari Allah dengan sungguh-sungguh. Dikatakan bahwa Allah menghina ibadah dan persembahan mereka karena kehidupan mereka yang tidak sungguh-sungguh mencari Allah. Ini adalah teguran yang sangat keras bagi orang Israel, bagi jemaat Efesus dan juga bagi kita saat ini. Marilah kita merefleksi kehidupan kita, apakah kita yang mungkin sudah terus sibuk dan rela berkorban untuk pekerjaan Tuhan tetapi sebenarnya sudah kehilangan kasih yang semula ini. Gereja tanpa kasih akan timbul perpecahan. Ingatlah apakah kita masih ada kehausan akan firman Tuhan dan persekutuan dengan Tuhan ataukah kita sudah kehilangan hal tersebut.

Beberapa penyebab kasih yang semula itu berkurang atau hilang:

–  Kemakmuran (kecintaan akan dunia): seperti Efesus ataupun Tokyo.

–  Sinkretisme: Efesus walaupun berkembang dan makmur tetapi penyembahan berhala juga terjadi di mana-mana. – Beratnya pergumulan hidup. Pergumulan berat dapat mengakibatkan hilangnya kasih yang semula, tetapi kita perlu ingat bahwa pergumulan panjang diizinkan Tuhan untuk melihat kesetiaan kita kepada-Nya seperti bangsa Israel yang berjalan di padang gurun selama 40 tahun.

–  Melayani hanya untuk kepuasan diri atau kepentingan diri (untuk dilihat orang, untuk posisi dalam gereja, dsb).

Ketika kita mengoreksi diri dan sadar akan motivasi-motivasi yang tidak benar ini maka kita harus mengambil langkah-langkah berikut agar dapat kembali pada kasih yang semula:

–  Menyadari diri akan kesalahan. Sadar bahwa kita sudah kehilangan kasih yang semula.

–  Bertobat: setelah kita sadar maka kita harus bertobat dan minta ampun di hadapan Tuhan.

–  Kembali hidup mengasihi Allah dengan kasih dan semangat yang semula yang berkobar-kobar. Mengasihi Allah dengan segenap hati dan akal budi kita.

Selain ancaman Tuhan (ayat 5) ada juga janji Tuhan ketika kita bertobat (ayat 7) yaitu Tuhan akan terus memberkati kita dan kita akan menikmati hadirat Tuhan dan kasih yang semula yang berkobar-kobar ini. Yang manakah akan kita pilih?