Pengkhotbah

Perikop
Yohanes 1:10-14

Ringkasan Khotbah

Lagu “Malam Kudus” merupakan lagu yang selalu dinyanyikan saat Natal. Walaupun kita sangat akrab dengan lagu ini, sebagian besar dari kita tidak mengetahui pencipta lagu ini. Dan sungguh amat menyedihkan lagi apabila kita tidak mengetahui siapa yang menciptakan alam semesta beserta segala isinya ini. Dunia diciptakan oleh Allah tetapi dunia tidak mengenal-Nya (Yohanes 1:10). Allah datang kepada milik kepunyaan-Nya dalam rupa Yesus Kristus, namun ironisnya orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya (Yohanes 1:11). Kisah pemilik penginapan yang menolak Yusuf dan Maria memberikan sebuah gambaran bagaimana manusia tidak mengenal dan menerima Allah.

Bagaimana dengan mereka yang menerima-Nya? Orang-orang yang menerima Yesus diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Kita sebenarnya hanyalah manusia biasa, bukan anak-anak Allah. Kita adalah orang-orang berdosa yang penuh kekotoran. Kita sebenarnya orang-orang yang seharusnya dibuang, ibarat makanan yang seharusnya dibuang karena sudah tercemar oleh kotoran. Tetapi karena kasih karunia Allah, kita yang percaya kepada Yesus diangkat menjadi anak-anak-Nya. Karya penyelamatan ini berasal dari Allah, tidak ada hasil usaha manusia sama sekali.

Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia, sementara Yohanes 1:1 mengatakan bahwa Firman itu adalah Allah. Sebuah hal yang terkesan kontradiksi dan tidak dapat diterima oleh akal sehat. Bagaimana mungkin Firman yang adalah Allah itu sendiri menjadi manusia? Dalam bahasa aslinya, kata “manusia” dalam Yohanes 1:14 diartikan “daging”, yang berarti manusia dengan segala kelemahannya. Rasul Paulus sering menggunakan kata “daging” ini dalam surat-suratnya.

Mengenai kata “menjadi”, seorang pengkotbah menekankan bahwa kita harus berhati-hati dalam memahami kata “menjadi”. Kata “menjadi” memiliki 2 arti:
1.    Perubahan esensi, misalnya nasi menjadi bubur.
2.    Penambahan esensi, misalnya Bapak Hendry yang menjadi liturgos pada ibadah Minggu. Bapak Hendry tetaplah sebagai Bapak Hendry, namun beliau mendapat penambahan esensi sebagai liturgos.
Yesus juga tidak kehilangan esensi ke-Allah-an-Nya ketika menjadi daging. Yesus tetap 100% Allah, namun terjadi penambahan esensi dimana Yesus menjadi manusia 100%. Sifat ini dikenal dengan istilah dwinatur Kristus.

Yohanes 1:1 menyebutkan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah, namun ayat 14 mengatakan bahwa Firman itu diam di antara kita. Kedua ayat ini menekankan mengenai perubahan tempat bagi Yesus. Dalam bahasa aslinya, “diam” dapat diartikan sebagai “kemah”, yang menunjukkan bahwa Yesus hanya berada sementara saja di dunia dan akan kembali ke tempat dari mana Dia berasal.

Kata “Anak Tunggal Bapa” dalam Yohanes 1:14 bukan berarti bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa. Kata “Anak Tunggal” justru menekankan esensi Yesus sebagai Allah. Pernahkan Anda memperhatikan perbedaan anak ayam dan anak bebek? Anak ayam dan anak itik sangat mirip, namun keduanya berbeda secara esensi. Anak ayam tetaplah ayam dan anak bebek tetaplah bebek. Memang Yesus lahir seperti bayi manusia lainnya, namun Dia berbeda karena esensi-Nya tetaplah Allah.

Mengenal siapakah Yesus Kristus itu, sudahkah kita menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat kita? Bagi yang sudah menerima Kristus, marilah kita memiliki kesadaran bahwa kita diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Soli Deo Gloria

(MS/12/10)