Ringkasan Khotbah

Orang Kristen melayani/memberi karena Tuhan telah terlebih dahulu melayani dan menebus mereka (Mat 19:27–20:28). Prinsip hidup orang Kristen harus berbeda dengan prinsip dunia yang menekankan otoritas (timbal-balik), dan jual-beli.

Dalam relasi hidup kita (pelayanan dan keluarga), terkadang kita merasa sudah memberi lebih banyak dari yang kita dapat. Ini juga dialami Petrus ketika dia bertanya kepada Tuhan Yesus tentang apa yang dia dapat karena telah melayani dan mengikut Tuhan (Mat 19:27). Tuhan Yesus menjawab dengan nasehat, perumpamaan tentang pemilik kebun anggur (Mat 20:1-15), dan pemberitaan tentang penderitaan-Nya (Mat 20:17-28).

Nasehat Tuhan Yesus agar berhati-hati supaya orang yang terdahulu tidak menjadi yang terakhir dan yang terakhir tidak menjadi yang terdahulu (Mat 19:30, 20:16) diucapkan berkali-kali namun murid-murid masih belum mengerti, dan bahkan akhirnya mengutus ibu Yakobus dan Yohanes untuk langsung meminta kepada Tuhan Yesus. Kita pun seringkali merasa sudah terlalu sering memberi dan menanyakan hal yang sama kepada Tuhan.

Kita perlu kekuatan untuk menopang kita (sustaining power) sehingga kita tidak jatuh. Perumpamaan tentang pemilik kebun anggur yang mencari pekerja dengan upah yang sama, baik untuk yang bekerja lama maupun yang hanya bekerja sebentarberkaitan dengan nasehat Tuhan Yesus dalam Matius 19:30 dan Matius 20:16.

Prinsip penting dalam pelayanan (The sustaining power):

  1. Adalah hak khusus dari Tuhan kalau kita dapat melayani-Nya (to serve God is a privilege for you). Pekerja dapat bekerja karena belas kasihan dan kemurahan pemilik kebun anggur. Orang yang bekerja lama dan sebentar, masing-masing mendapat upahnya. Orang yang bekerja lama dapat mengumpulkan hasil yang lebih banyak. Orang yang bekerja sebentar mengumpulkan hasil yang lebih sedikit, dan harus menderita dalam penantian. Orang yang bekerja lebih awal mendapat sukacita penuh, tetapi pada saat sukacita itu hilang artinya orang yang terdahulu menjadi yang terbelakang. Murid-murid tidak mengerti prinsip tersebut, dan merasa telah memberi banyak sehingga menuntut hubungan jual-beli. Kita harus sadar bahwa semua hanya karena kemurahan Tuhan semata-mata dan Tuhan akan memampukan orang-orang yang dipanggil-Nya. Itu harus menjadi inti dalam seluruh hidup kita.
  2. Paulus sadar bahwa dia dapat melayani karena kemurahan Allah, sehingga Paulus menerima pelayanan tersebut dengan tidak tawar hati (2Kor 4:1, dalam bahasa aslinya: spirit of courage/semangat yang berani). Anugerah dan kasih Tuhan datang apabila kita berusaha. Tuhan ingatkan Yosua untuk menjadi berani (be brave) sampai 3 kali sebelum bangsa Israel masuk tanah Kanaan. Tuhan berjanji akan memberikan tanah perjanjian, tapi bangsa Israel harus berjuang untuk merebutnya (Bil 13). Tuhan menolak Esau, bukan hanya karena dia meremehkan hak kesulungannya, tetapi karena dia tidak mau berjuang untuk merebutnya kembali. Ada satu semangat yang patut ditiru dari Yakub, yang mau berjuang dan tidak mau melepaskan sampai dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Banyak contoh sukses yang berawal dari kegagalan seperti Thomas Alpha Edison. Sukses bukan berarti tidak pernah gagal tetapi tidak pernah tinggal dalam kegagalan.
  3. Membentuk sesuatu menjadi indah memerlukan keberanian dan pengorbanan (Gal 4:19), namun ada sukacita yang tidak tergantikan oleh apapun saat kita dapat mencapainya (Maz 126:6). Jemaat Galatia mulai merasa jemu, surut hatinya, dan mempertanyakan mengapa melayani Tuhan. Karena itu Paulus menasehati untuk tidak jemu-jemu berbuat baik (Galatia 6:9). Paulus ingin melayani dan membentuk jemaat Galatia sampai rupa Kristus menjadi nyata. Untuk menjelaskan hal tersebut, Paulus tidak memakai perumpamaan tentang kesabaran tukang tembikar, tetapi memakai perumpamaan seorang ibu yang sakit bersalin (painful). Memulai sesuatu adalah mudah, namun yang sulit adalah mempertahankannya. Karena itu, kita memerlukan the sustaining power.

(ML/05/10)