Pengkhotbah

Perikop
Matius 26:57-68

Ringkasan Khotbah

Tema hari ini adalah pertanyaan tentang status Yesus sebagai Mesias, Anak Allah (ayat 62). Para murid telah mengakui dan percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Rahasia ini hanya dinyatakan kepada orang-orang yang Allah berkenan untuk menyatakannya. Mesias artinya yang diurapi. Anak Allah sehakekat dengan Allah, telah ada sejak kekekalan. Yesus adalah korban satu-satunya dan sejati bagi dosa karena diri-Nya sendiri tanpa kesalahan. Mengapa Yesus begitu menderita di atas kayu salib? Yesus dan Bapa memiliki relasi yang sangat dekat sejak kekekalan. Tetapi di tengah karya penebusan, Allah Bapa meninggalkan Tuhan Yesus, untuk menanggung hukuman atas dosa-dosa manusia. Inilah puncak murka Allah yang membuat Tuhan Yesus berteriak dengan lantang. Penderitaan yang paling berat adalah ditinggalkan Allah. Ada yang mengatakan “Allah orang Kristen secara sengaja datang ke dunia untuk mengalami penderitaan manusia. Dalam Yesus Kristus, Allah mengalami rasa sakit yang paling dalam.” Satu-satunya cara untuk menerima keselamatan adalah percaya bahwa Kristus telah membayar hutang kita, dan dengan demikian memenuhi keadilan Allah. Kematian Kristus adalah persembahan (pengorbanan sebagai pembayaran dosa) dan pendamaian (untuk memenuhi keadilan yang dirugikan).

Pembunuhan kepada Yesus, bukan terjadi secara tiba-tiba tetapi secara terencana. Ayat 3-5 mencatat bahwa istana Imam Besar telah menjadi tempat merencanakan kejahatan yang paling besar. Jabatan dan gelar Imam Besar telah menjadi tempat persembunyian kejahatan secara tersusun. Anak Allah ditindas oleh konspirasi yang paling jahat. Melalui peristiwa ini, benarlah Mazmur 118:22 – “Batu yang dibuang oleh tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Awal mula campur tangan Imam Besar, ditulis di dalam Yohanes 11:47-53. Secara historis, Imam Besar Kayafas mengetahui tujuan kematian Tuhan Yesus. Tetapi hatinya yang jahat telah ikut dalam persekongkolan untuk membunuh Tuhan Yesus.

Buah dari kejahatan yang telah menguasai hati para imam pada saat itu adalah mengumpulkan data-data palsu tentang Yesus. Kenyataan sebenarnya adalah mereka telah merancang pembunuhan Yesus. Untuk mencapai tujuan ini, mereka berusaha mengumpulkan kesaksian palsu. Pertanyaan tentang Yesus adalah Mesias, Anak Allah ini, sebenarnya hanya sekedar kepura-puraan. Pada zaman Yesus, pemimpin agama memakai agama untuk memanipulasi kebenaran. Mereka berusaha mencari kesaksian palsu agar mereka dapat menentang kebenaran. Hanya orang yang sungguh-sungguh dalam menghidupi kebenaranlah yang tetap kokoh dalam melawan pembelokan kebenaran. Yesus tidak memberikan jawaban atas tuduhan tersebut. Mengapa Yesus tetap diam? Yesus tidak mau memberi firman bagi yang keras kepala. Karena Yesus sudah mengetahui bahwa mereka semua adalah pembohong, pura-pura bertanya, padahal mereka sudah memiliki rencana yang jahat bagi Yesus.

Karena Yesus sebagai Anak Manusia, telah datang ke dalam dunia merendahkan diri-Nya,  berinkarnasi dan melakukan tugas-Nya dengan penuh kesetiaan sampai mati di kayu salib, maka Yesus mendapatkan kehormatan duduk di sebelah kanan Allah (ayat 64-66). Posisi di sebelah kanan identik dengan wewenang dan kekuasaan. Kepada Yesus yang setia inilah, patut diberi kehormatan (Fil 2:8-11). Salah satu penghiburan yang pasti kita terima dari Tuhan Yesus bahwa “di mana Dia berada, kitapun berada.” Karena Ia telah mendapat kehormatan di hadapan Bapa-Nya, kita juga akan mendapatkan upah tsb kelak. Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Ia adalah Penyelamat dan telah mengerjakan karya keselamatan demi kita. Jika Yesus telah menyerahkan segala-galanya demi keselamatan kita, marilah kita mempersembahkan kehidupan ini bagi kemuliaan-Nya. “Kristus yang oleh inkarnasi-Nya berada dalam persekutuan dengan kita dan memasuki seluruh kondisi kita, oleh penderitaan dan kematian-Nya merekonsiliasi kita dengan Allah, memulihkan kita ke dalam perkenanan Allah, yang terhadap-Nya kita telah berdosa, merekonsiliasi Bapa mewakili kita, membereskan ketidaktaatan kita dengan ketaatan-Nya, dan mengaruniakan kita pengampunan dosa dalam persekutuan iman.