Pengkhotbah

Perikop
Kejadian 6:1-12

Ringkasan Khotbah

Ketika kita tahu bahwa di dalam tubuh kita ada penyakit, kita harus bertanggung jawab membatasi diri dalam makanan maupun bepergian. Dosa dapat diibaratkan sebagai penyakit rohani. Manusia bisa berdalih bahwa dia bermoral baik sehingga menolak konsep dosa, namun manusia tidak bisa membohongi Allah. Daud menyadari bahwa manusia tidak mungkin bisa lari dari hadapan Allah (Mazmur 139). Seorang pun tidak dapat menyembunyikan dosa sekecil apapun di hadapan Allah. Uskup Gereja Anglikan pertama di Liverpool, J. C. Ryle berkata: “Barangsiapa yang ingin memiliki konsep kekudusan Kristen yang benar, harus terlebih dahulu memahami apa itu dosa sedalam-dalamnya. Pandangan keliru mengenai kekudusan dapat ditelusuri dari pandangan keliru mengenai dosa dalam hidup manusia”. Di dalam Perjanjian Lama, ada beberapa istilah yang digunakan untuk menyebutkan dosa: ① Hatta: mengurangi standar yang telah ditetapkan Tuhan. Kata ini dipakai dalam Alkitab sebanyak 580 kali. ② Avon: kesalahan yang dilakukan yang membuat seseorang pantas dihukum. Misalnya seorang anak yang berkata bahwa dia pergi ke sekolah, ternyata setiap hari dia pergi bermain, bolos sekolah. ③ Pesha: melanggar batasan yang telah Tuhan berikan. Misalnya, Allah telah membatasi Adam dan Hawa untuk tidak memakan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, namun mereka melanggar batasan Allah tersebut. Sementara dalam Perjanjian Baru, ada 2 istilah yang digunakan untuk menyebutkan dosa: ① Adika: perbuatan yang tidak benar, melanggar hukum dan ② Hamartia: meleset dari target yang sesungguhnya telah ditetapkan. Allah telah menetapkan tujuan yang agung untuk menciptakan manusia yaitu agar “mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kejadian 1:26) sehingga semuanya dapat dipersembahkan untuk kemuliaan Allah, namun manusia tidak mampu mencapainya. Søren Kierkegaard, seorang filsuf Krsiten asal Denmark, berkata: “Dosa bukan hanya melakukan hal buruk, tapi meletakkan hal-hal baik untuk menggantikan Allah. Satu-satunya cara adalah bukan dengan mengubah perilaku, tapi mengubah orientasi hidup kita kepada Allah”. Lebih lanjut, seorang pendeta dari Amerika, Timothy Keller, mengatakan: “Ada 2 cara menjadi Juruselamat dan Tuhan bagi diri sendiri, yaitu dengan menetapkan jalan kita sendiri atau menjadi orang yang menjaga semua hukum moral dan menjadi orang yang sangat baik”.

Dosa telah merongrong kehidupan manusia pada zaman sekarang, bahkan jauh sebelumnya, yaitu pada zaman Nuh. Pada zaman Nuh, ada anak-anak Allah dan juga ada anak-anak yang tidak mengenal Allah. Ada beberapa akibat dosa pada zaman Nuh: ① Keinginan manusia tidak terkendali. Anak-anak Allah mencari perempuan-perempuan dari kaum yang tidak kenal Tuhan. Siapakah anak-anak Allah, siapakah anak-anak manusia? Anak-anak Allah mengacu kepada mereka yang berasal dari keturunan Set, sedangkan anak-anak perempuan manusia mengacu kepada mereka yang berasal keturunan Kain. Orang-orang percaya sebenarnya secara otomatis adalah anak-anak Allah (Ulangan 14:1, 32:5-6, Yohanes 1:12, 1 Yohanes 3:1). Pada masa Nuh, gaya hidup anak-anak Allah dipengaruhi sangat dalam oleh gaya hidup orang-orang yang tidak kenal Allah. Mereka tidak hidup berintegritas. Pernikahan dianggap bukan sesuatu yang kudus. ② Roh Tuhan tidak lagi tinggal dalam manusia (ay. 3). Kata tinggal dalam ayat 3 berarti menghakimi (judge). Akibat dosa, Roh Allah tidak lagi menghakimi isi hati manusia yang cenderung berdosa. Salah satu karya Roh Kudus adalah menghakimi (Yohanes 16:8-10). Roh Kudus bertahta dalam hati orang percaya untuk memerintah, memimpin, dan menghakimi. Apabila Roh Allah tidak lagi tinggal dalam hati manusia, maka manusia bertindak sebebas-bebasnya. Berdasarkan perhitungan para ahli Alkitab, Allah memberikan kira-kira 100 tahun kepada Nuh untuk membangun bahtera. Selama 100 tahun tersebut, manusia yang hatinya tidak didiami Roh Allah lagi, dibiarkan oleh Allah menjadi semakin jahat sebelum akhirnya mereka dibinasakan. ③ Kejahatan manusia besar di bumi (ay. 5). Dalam pengajaran gereja, ada istilah total depravity (kerusakan total). Manusia sangat berdosa sehingga manusia menjadi begitu buta dan menjadi hamba dosa. Semua manusia telah terpisah dari Tuhan. Hati manusia telah rusak, sehingga seluruh kehidupannya pun menjadi rusak. ④ Bumi telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan (ay. 11). ⑤ Bumi sungguh rusak benar (ay. 12). Apa yang keluar dari dalam hati manusia itulah yang menentukan sebenarnya bagaimana hidup orang itu. Dari yang berdosa maka keluarlah hal-hal yang berdosa. ⑥ Allah menyesal terhadap kondisi bumi (ay. 6-7). Kata menyesal sebenarnya sebagai personifikasi saja. Ini adalah respon Allah akan apa yang terjadi. Ada istilah antropopharty, yaitu bahasa yang menggambarkan Allah dengan perasaan-perasaan manusia. Allah tidak mungkin menyesal seperti manusia yang terbiasa menyesal setelah melakukan sesuatu. Allah telah mengetahui segala sesuatu sehingga Dia tahu apa yang akan terjadi setelah manusia diciptakan. ⑦ Allah akan menghapus manusia dan seluruh hewan dan binatang (ay. 7). Sebagai orang-orang yang mengaku anak-anak Allah, apa respon kita terhadap renungan firman Tuhan hari ini? Sudahkah kita bersungguh-sungguh dalam berjuang menjaga kekudusan hidup di hadapan Allah yang maha tahu? Dosa sekecil apapun, tidak tersembunyi bagi Allah. Kita perlu mengakuinya di hadapan Allah dan mohon anugerahNya, bukan membiarkannya, karena apabila dibiarkan, hati kita menjadi bebal dan Roh Allah tidak lagi diam di dalam kita.