Pengkhotbah

Perikop
Markus 14:12-25

Ringkasan Khotbah

Setiap minggu kita perlu merayakan kemenangan sebagai perwujudan perayaan Paskah karena jalan menuju kekekalan adalah Jalan Salib. Domba yang menjadi persembahan dalam Perjanjian Lama adalah domba yang tidak bercacat yang melambangkan Kristus itu sendiri yang telah disalibkan (2 Kor 5:21, 1 Pet 1:18-19). Semua orang tidak mencapai standar kemuliaan Allah karena dosa, namun melalui Yesus Kristus, Allah menyingkirkan dosa kita (Roma 8:32) karena Kristus menjadi satu-satunya jalan pendamaian kita.

Ada 2 peristiwa yang terjadi sebelum Yesus ditangkap yaitu pelaksanaan makan Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi (ay. 12). Pada peristiwa Paskah di Perjanjian Lama, Tuhan menyuruh orang Israel mengorbankan domba yang tidak bercela. Darahnya dioleskan di ambang pintu agar rumah itu dilewatkan oleh Malaikat Tuhan dan anak sulungnya tidak dibunuh. Hal ini melambangkan bagaimana melalui darah Yesus yang adalah domba Paskah, kita boleh lepas dari hukuman Tuhan (1 Kor 5:7b).

Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa Yesus masih merayakan Paskah tersebut? Ada beberapa hal yang menjadi alasan yaitu:

  1. Yesus melakukan Firman Tuhan; Perjamuan Paskah di antara Yesus dan para murid (ay 12-16) merupakan bukti Yesus melakukan Firman Tuhan seperti yang tertulis di dalam Kel 12.
  2. Untuk menunjukkan kemahakuasaan Kristus; Setiap perkataan yang disampaikan kepada muridNya untuk mempersiapkan perjamuan tersebut terjadi tepat seperti yang dikatakanNya (ay 16).

Walau pada masa perayaan Paskah kota Yerusalem sesak oleh orang Yahudi, tetapi bagi Yesus dan para murid masih tetap tersedia tempat seperti yang dikatakan Yesus. Di akhir hidupNya Mesias adalah Pribadi yang berkuasa.

Kita akan melihat perbincangan Yesus dalam perjamuan Paskah; Yesus tahu bahwa Yudas Iskariot akan menyerahkanNya, selain itu ketika Maria meminyaki kepala Yesus di rumah Simon, para murid marah dan menganggap hal tersebut adalah pemborosan. Artinya mereka tidak setuju dengan tindakan Maria. Ketika Yudas tidak mendapatkan uang dari pemberian perempuan tersebut, ia pergi kepada para imam kepala untuk menyerahkan Yesus dan dari sana ia akan menerima uang. Ketamakan Yudas (Yoh 12:6) telah mengalahkan kerohaniannya dan dia berusaha menutupi itu dengan berada selalu dekat dengan Yesus. Inilah tipu muslihat Yudas terhadap rekan-rekan sepelayanan dan Gurunya. Kita sebagai anak-anak Tuhan perlu hati-hati dengan karakter dan perilaku Yudas yang mungkin saja ada di dalam kehidupan kita.

Jika melihat sejarah kehidupan Yudas, ia dipanggil bersamaan dengan ke-11 murid lainnya dan ia turut mengabarkan Kerajaan Allah ketika mereka diutus oleh Yesus (Mat 10:1-15) bahkan mungkin telah melakukan mujizat. Namun Yudas telah kerasukan Iblis (Yoh 13:27) dan sesungguhnya Yudas belum menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Kristus. Biasanya orang yang kerasukan iblis akan melakukan hal-hal aneh (Mat 8:28-34, 9:32-34), tapi tidak dengan Yudas. Setelah Yudas melakukan hal itu, ia menyesal (Mat 27:3) dan ia menggantung diri (Mat 27:5). Dalam Kis 1:18, Yudas jatuh tertelungkup dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah keluar.

Menurut Agustinus ketika Yudas menggantung diri, mungkin saja talinya putus sehingga ia jatuh tertelungkup dan perutnya pecah. Jika kita anak-anak Tuhan tidak benar-benar bertobat maka kehidupan kita mungkin saja akan berakhir seperti apa yang terjadi pada Yudas. Yudas telah jatuh ke tempat yang wajar baginya (Kis 1:25), artinya Yudas yang menyesal tidak mengalami pertobatan. Mar 14:21 “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” Marilah kita yang mungkin belum jatuh kedalam situasi kehidupan seperti Yudas, boleh memiliki kehidupan yang penuh pertobatan yang benar agar tidak mengalami akhir kehidupan seperti Yudas. Bersyukurlah karena kita telah menerima anugerah-Nya. Tetaplah kerjakan keselamatan dengan sukacita dan muliakanlah Dia.