Ringkasan Khotbah

Hari ini kita merenungkan tentang Mahkota Kekal. Mahkota Kekal ini diberikan kepada mereka yang bertahan sampai akhir. Stefanus dipilih sebagai 1 dari 7 diaken. Stefanus memiliki kualifikasi: penuh iman dan Roh Kudus (6:5), penuh dengan karunia dan kuasa (6:8), penuh hikmat dan terus dimimpin oleh Roh (6:10). Nama Stefanus berarti mahkota, dia adalah martir pertama Kristen. Dia terkenal setia dalam segala hal, dengan keberanian bersedia menanggung akibat dari panggilan serta imannya. Kalau kita melihat setelah Stefanus menghadapi persidangannya, dikatakan “lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat” (6:15b). Ia diterangi semangat dan ketenangan yang lebih tinggi. Mengapa? Yesus sendiri pernah menyatakan hal ini dalam peristiwa transfigurasi di Matius 17:2 “Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.” Tujuan hal-hal ini terjadi di PL adalah: ❶ sebagai hikmat khusus kepada Daud (2 Sam. 14:17; 19:27); ❷ Untuk menunjukkan keagungan dan kemuliaan khusus (Kej. 33:10). Ketika bertemu, Yakub melihat wajah kakaknya seperti malaikat. Karena saat itu Esau sedang menyatakan pengampunan dan damai. Musa mengalami peristiwa ini ketika ia turun dari Gunung Sinai (Keluaran 34:29-30).

Bagi orang percaya, persekutuan dengan Tuhan dapat memberi ketenangan serta meneguhkan hati untuk berserah ke dalam tangan-Nya saja, walau di tengah beban persoalan yang sangat berat. Kalau kita lihat tujuan dari penampakan wajah Tuhan kepada Stefanus adalah bahwa Tuhan ingin menyatakan kemuliaan-Nya melalui utusan-Nya untuk menyatakan keberdosaan orang duniawi. Allah sedang berperkara untuk menopang umat-Nya. Stefanus menyatakan kebenaran melalui ay. 1-53 yang merupakan pembelaan dan uraian Stefanus yang sangat lengkap. Stefanus dan jemaat mula-mula biasa rajin bersekutu dan mendengar dengan baik pengajaran para rasul (Kis. 2:42). Sebagai buahnya, mereka siap menjawab atas apa yang mereka dengar dan imani di dalam Yesus Kristus.

Kesetiaan Stefanus tidak menjamin kenyamanan dan kelancaran jalan hidupnya. Stefanus makin ditekan oleh Mahkamah Agama Yahudi hingga mereka menuntutnya untuk dihukum mati. Ayat 54 berkata “sangat tertusuk hati mereka”. Istilah “tertusuk hati” (diaprió) adalah sesuatu yang dipotong dengan cara digergaji; kesakitan yang paling dalam. Pasal 5:33 “Mendengar perkataan itu, sangat tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu”. Ibrani 4:12 juga berkata “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita”. Ayat 54b menyatakan bahwa “Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi”. Kesaksian dan kebenaran yang disampaikan Stefanus direspon dengan kemarahan sangat besar. Tetapi Stefanus tidak kendor dan terus mengarahkan matanya kepada upah sorgawi. Ayat 55 “Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah”. Dalam pergumulan, kualitas rohani Stefanus tidak kendor. Ia tetap dinilai “penuh dengan Roh Kudus”. Sebagaimana ia dipilih sebagai seorang diaken yang penuh dengan Roh Kudus dan iman, saat berhadapan dengan tekanan berat, ia tetap dipenuhi Roh Kudus. Roh Kudus tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Ia akan menyertai selama-lamanya. Yohanes 14:16 “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya”. Ibrani 13:5b “Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau”. Inilah janji Allah, Ia menyertai setiap umat-Nya. Inilah kekuatan Stefanus dalam menghadapi pergumulannya. “Menatap ke langit lalu melihat kemuliaan Allah”. Di penghujung hidupnya, ia melihat kemuliaan Allah. Inilah tanda orang yang setia. Bagaimana dengan dengan kita, apakah kita ingin melihat kemuliaan Allah dinyatakan dalam kehidupan kita?