Pengkhotbah

Perikop
Ayub 1:1-5

Ringkasan Khotbah

Kita sering melihat kebahagiaan seseorang dari apa yang dilihat dari mata. Tapi orang itu sendirilah yang menilai kebahagiaannya yang sebenarnya. Ayub mendapat kasih karunia dari Allah setelah mengalami banyak masalah dan pergumulan. Kitab Ayub termasuk dalam 5 kitab hikmat. Tapi dari kitab-kitab hikmat ini, kitab Ayub menunjukkan perbedaan yang signifikan. Dalam kitab Amsal ada pepatah, dalam Pengkhotbah dan kitab Mazmur banyak kalimat puitis mengenai Tuhan. Tapi dalam kitab Ayub sangat berbeda, karena meskipun bagian dalam kitab hikmat, tapi juga ada bagian dari narasi. Ada perbincangan, tapi dalam perbincangan itu ada hikmat.

Banyak kontroversi mengenai ayat pertama. Ada yang mengatakan Ayub ini dari bangsa Arab. Kemungkinan berada di luar wilayah Yerusalam. Dia dikatakan orang terkaya di sana. Ada yang bilang masa Ayub ini setelah Salomo atau juga tulisan Salomo, karena kalau melihat sastra, sudah pada sastra Ibrani. Ada juga yang mengatakan ditulis oleh Musa. Ada yang mengatakan ini terjadi setelah Kejadian 1-11 sebelum Abraham. Ayub setelah penderitaan masih hidup lagi 140 tahun. Kalau dibandingkan dengan Abraham, Abraham saat dipanggil umur 70 tahun. Dan kita tahu setelah Musa, umur manusia tidak panjang. Musa sampai umur 120 tahun. Jadi kemungkinan Ayub hidup sebelum Musa, mungkin sebelum atau sesudah Abraham. Sampai sekarang orang tidak berani mengatakan kapan dengan tepat penulisan kitab Ayub. Tapi yang penting, kisah Ayub ini benar-benar terjadi, fakta bukan fiktif. Karena di kitab Yehezkiel disebutkan ada 3 orang yang bertahan, yaitu Nuh, Daniel, dan Ayub. Kemudian di kitab Yakobus juga disebutkan mengenai ketekunan Ayub. Kisah Ayub tidak jelas terjadinya kapan, tapi makna dari Firman Tuhan dalam hidup Ayub sangat penting.

Dalam ayat pertama, Alkitab menyebutkan Ayub itu orang yang saleh. Terbukti bagaimana dia menghadapi ujian dan pencobaan. Dan juga tanpa cacat, benar di hadapan Tuhan. Saat Iblis menghadap Tuhan, Tuhan menyebutkan tentang kesetiaan Ayub. Di tengah-tengah tantangan, Ayub menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan. Ayub begitu mengalami penderitaan, bahkan istrinya juga memaki dia. Ayub disebutkan jujur,  tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri, sekalipun lingkungannya tidak mengenal Tuhan. Ayub hidup saleh, jujur, karena dia takut akan Tuhan. Di mana ada takut akan Tuhan, di situ akan ada kejujuran, kesalehan. Ayub juga sering mengumpulkan dan mendoakan anak-anaknya, juga selalu berdoa dan memberikan korban pengampunan dosa. Dia setia mendoakan anak-anaknya. Kita sekarang ada di negeri orang. Kita tidak tahu apakah anak-anak kita dalam perjalanan atau di sekolah mereka melakukan kesalahan, karena itu perlu kita doakan. Doa bukan karena terpaksa tapi karena kebahagiaan kita hidup dengan Tuhan. Doa itu adalah kesenangan. Firman itu adalah sukacita.

Kebahagiaan Ayub kita lihat dari sikap hidupnya karena dia tidak hidup dalam dosa. Ayub memiliki 7 anak laki-laki, 3 anak perempuan, dan banyak ternak. Dia disebut orang terkaya di negeri itu. Ini juga menggambarkan kelimpahannya. Kebahagiaan Ayub bukan hanya dengan Tuhan, tapi dalam keturunan dan kekayaan. Ayub diberi banyak berkat dalam kehidupannya. Kalau Ayub tidak jujur, bisa saja dia mendapat lebih banyak. Tapi dia menundukkan diri kepada Allah. Ini adalah rahasia keberhasilan, kelimpahan Ayub. Ketika kita mendapatkan berkat dari Tuhan, mintalah kebijaksanaan untuk mengelola berkat itu. Berkat itu bisa keluarga, kekayaan. Jangan sampai berkat itu malah membuat kita terhambat dalam memuji memuliakan Tuhan. Mari kita belajar mengelola berkat.

Dari Ayub kita belajar, ketekukanan itu bukan karena tuntutan tapi karena kebahagiaan.