Ringkasan Khotbah

Jalan hidup setiap orang, tidak ditentukan oleh manusia itu sendiri melainkan Allah yang berdaulat di atasnya (Efesus 2:10). Jadi, Allah mempunyai tujuan dalam setiap kehidupan. Allah dapat meninggikan setiap manusia yang seolah-olah tidak memiliki “nilai lebih” di mata manusia. Melalui pembacaan Alkitab hari ini kita akan belajar dari beberapa binatang berikut yang dijelaskan oleh Alkitab: Semut (ay. 25) dalam Bahasa Ibrani: nemalah. Dalam pepatah Arab, mereka selalu memakai jenis binatang ini untuk memanggil  seseorang yang dianggap lemah dalam bekerja atau apapun. Semut memiliki prinsip hidup: menyediakan makanannya untuk masa depan, tujuannya tentu saja untuk mempertahankan kehidupan. Dalam Kejadian 1:28, melalui perintah ke-5: “berkuasalah”= menguasai, memerintah. Melalui perintah ini manusia diberi sebuah dominasi atau kekuasaan untuk menguasai ciptaan lain yang bertujuan untuk mengusahakan, memelihara kelangsungan kehidupan.  Kata ”menaklukkan” berarti mengusahakan atau memelihara. Dalam Amsal 6:6-8 menjelaskan juga prinsip hidup semut ini: (i) Mereka punya perilaku yang baik. Perilaku yang paling baik dari binatang ini adalah memandang ke masa depan, mereka seumpama pengelola industri yang luar biasa. Mereka memberi pelajaran berarti bagi seseorang pemalas dalam Amsal 6:4-5. Di sini berbicara sebuah perjuangan, melawan kemalasan. Semut ini juga jarang sekali putus asa. (ii) Tidak punya pemimpin tetapi mereka tetap rajin bekerja. Dalam ilmu kepemimpinan, semua lembaga atau organisasi, termasuk keluarga yang berhasil adalah ditentukan sejauh mana setiap orang memiliki kepatuhan kepada pemimpinnya. Istilah “pemimpin” ditulis di dalam kata Ibrani: qatsin. Kata ini juga ditulis di dalam Yosua 10:24 dengan kata “panglima tentara”. Jadi, benar-benar seorang yang telah ditunjuk untuk menjadi pemimpin. Semut tidak memiliki pemimpin, pengatur dan penguasa seperti itu tetapi mereka tetap bersatu.

Pelanduk (26). Pelanduk punya kelebihan yaitu membangun rumahnya di bukit batu (Mazmur 104:18b). Mengapa ia menaruh rumahnya di bukit batu? Untuk memastikan keamanannya dari ancaman musuhnya. Tuhan Yesus pun memakai perumpamaan tentang orang bijaksana dengan membangun rumah di atas batu (bdk. Matius 7:24-27). Umat Tuhan sering diperhadapkan terhadap persengketaan dengan musuh kita yaitu Iblis. Supaya umat Allah dapat memiliki kekuatan  mengalahkan Iblis ini, perlu membangun rumah di atas batu karang yang kuat yaitu Firman Allah dan tinggal di atas kekuatan dasar kehidupan yaitu Firman itu sendiri. Jikalau seseorang berdiri sungguh di atas dasar ini maka ia akan mengalahkan berbagai godaan Iblis/dosa.

Belalang (27). Tidak punya raja tetapi berbaris teratur. Dalam riwayat hidup belalang, mereka banyak jumlahnya dan bergerak ke arah yang sama, namun binatang ini cukup cerdik sehingga mereka dapat berjalan dengan teratur, tertib tanpa ada yang membimbing. Mereka tidak berdesak-desakan satu sama lain, tidak merusakkan barisan mereka. Belalang juga digambarkan sebagai binatang yang suka tinggal dalam keharmonisan dan satu ikatan. Paulus menulis dalam Efesus 4:3-6 bahwa Gereja telah diikat dalam satu Roh, satu ikatan, dst. Dunia ini sekarang membutuhkan orang-orang yang membawa damai. Karena itu, Tuhan Yesus berkata “Berbahagialah orang yang membawa damai” (Matius 5:9). Seseorang harus didamaikan dengan Allah terlebih dahulu.

Cicak (28), dalam bahasa Ibrani: semamith. Ini juga binatang yang lemah dan setiap saat dapat saja ditangkap oleh manusia, dia tidak diperhitungkan di antara jenis binatang. Binatang ini dapat disebut sebagai penghuni 2 tempat yang berbeda tanpa merasa ada masalah. Dia dapat ditemukan di istana raja tetapi juga di rumah orang-orang miskin. Dia tidak pernah merasa sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kata semamith juga diartikan sebagai spider/laba-laba. Dari binatang ini, kita menemukan sebuah pola hidup yang baik. Ia selalu tekun membuat sarangnya, sekalipun rumahnya sering dirusak oleh manusia namun ia berusaha untuk membuatnya lagi. Artinya: makhluk seperti ini, ia tidak pernah patah semangat. Ada masalah, ia tetap berusaha bangkit. Ia ingin memperbaiki situasinya.

Allah menciptakan setiap ciptaan-Nya dengan kelebihan dan keunikan masing-masing. Ia telah meletakkan setiap kelebihan yang ada di dalam diri mereka sebagai karunia khusus dengan tujuan untuk melayani Tuhan. Allah yang telah memberi potensi dalam diri kita adalah Pribadi yang menghendaki agar kita mempertanggungjawabkannya dengan sungguh-sungguh di hadapan-Nya. Satu-satunya cara untuk dapat menghidupi kehendak Allah adalah dibangun oleh firman Allah sendiri. Marilah kita berjuang dan hidup melayani Allah atas karunia kehidupan ini.