Posted by Markus Sim

Seorang filsuf ateis berkebangsaan Inggris bernama Bertrand Russel pernah ditanya dengan sebuah pertanyaan: “Ketika engkau nanti meninggal dan ternyata Allah ada, apa yang akan engkau katakan kepada Dia?” Bertrand Russel menjawab: “Aku akan bertanya: “Kenapa Engkau tidak memberikan aku cukup bukti bahwa Engkau ada?” Orang-orang yang tidak percaya selalu mencari cara untuk menyalahkan Allah. Sebenarnya Allah sudah menyatakan diri secara nyata kepada umat manusia, baik melalui karya ciptaanNya, melalui bangsa pilihanNya yaitu Israel, dan paling puncak Allah menyatakan diri melalui pribadi Allah Anak yaitu Tuhan Yesus Kristus yang datang ke dunia dalam rupa bayi yang lemah dan tak berdaya. Peristiwa kelahiran Tuhan Yesus Kristus inilah yang orang Kristen sebut dengan Natal (dari bahasa Portugis yang berarti kelahiran). Apakah makna Natal bagi Anda? Ketika Tuhan Yesus lahir, seluruh manusia bersukacita. Mereka yang termasuk kaum ibu, yaitu Maria dan Elisabeth, begitu bersukacita. Simeon, yang mewakili orang-orang saleh pun begitu bersukacita. Para gembala, yang mewakili kaum marjinal juga begitu bersukacita. Kita pun yang ada di zaman ini bersukacita ketika memperingati kelahiran Tuhan Yesus.

Namun, ternyata tidak semua orang bersukacita. Salah satunya Herodes. Herodes adalah seorang keturunan bangsa Edom (bukan keturunan Israel). Herodes menjadi raja “boneka” yang ditempatkan di Yudea. Herodes sangat terkejut mendengar berita bahwa ada seorang raja yang baru lahir. Kata “terkejut” ini mengekspresikan kebingungan dan amarah yang meluap-luap (bahasa Inggris: troubled and disturbed) yang juga disertai dengan iri hati dan curiga. Herodes bukanlah seorang pemimpin sejati. Seorang pemimpin yang baik, bersukacita ketika ada pemimpin baru yang berkualitas muncul. Pemimpin yang baik harus berani melahirkan pemimpin baru yang berkualitas. Alkitab mencatat bahwa Herodes merasa terancam ketika Tuhan Yesus lahir karena menganggap bahwa Tuhan Yesus adalah saingan sehingga kelahiran Tuhan Yesus tidak pernah menjadi sumber sukacita bagi Herodes. Tuhan Yesus ditolak oleh umat kepunyaanNya sendiri padahal Dia adalah penguasa yang sebenarnya (Yohanes 1:11). Raja pertama Israel, yaitu Saul, juga merasa terancam ketika Daud disanjung atas keberhasilannya dalam perang. Kita harus berhati-hati apabila kita ternyata merasa terganggu ketika melihat potensi rekan-rekan kita.

Ketika Tuhan Yesus lahir, sukacita besar juga dialami oleh orang-orang Majus yang mewakili kaum terpelajar. Dalam bahasa Yunani, Majus disebut Magoi yang dalam bahasa Inggris berarti wisemen. Mereka adalah para ahli perbintangan dan ahli sihir yang berasal dari Persia (Iran sekarang) dan menganut agama Zoroaster. Ketika mereka melihat bintang yang menunjukkan kelahiran Tuhan Yesus, mereka mempelajari dengan teliti dan seksama sehingga waktu yang dibutuhkan cukup panjang. Ketika orang-orang Majus tiba di Yerusalem, mereka menanyakan keberadaan Tuhan Yesus kepada Herodes. Herodes mungkin sempat berpikir: “Mereka ini datang dari tempat jauh, kok bukan menyembahku, malah mau menyembah raja yang baru lahir?” Ketika orang-orang Majus bertemu dengan Tuhan Yesus, mereka merendahkan diri dengan menyembah. Di sinilah poin pentingnya. Ketika bertemu dengan Sang Mesias, walaupun dalam rupa bayi yang lemah dan tak berdaya, orang-orang Majus meninggalkan kepercayaan agama maupun tradisi mereka. Inilah penyembahan yang sejati. Orang-orang Majus datang membawa persembahan kepada Yesus berupa emas (sebagai lambang kerajaan), kemenyan (biasanya dibakar dan sebagai lambang doa yang dinaikkan), dan mur (merupakan lambang kematian karena biasanya dipakai untuk melumuri mayat supaya tidak mudah busuk. Mur ini melambangkan apa yang akan dialami oleh Tuhan Yesus, yaitu kematian di kayu salib untuk menanggung hukuman akibat dosa seluruh manusia). Apa yang dilakukan oleh orang-orang Majus menggenapi nubuatan Nabi Yesaya bahwa seluruh bangsa tunduk menyembah Tuhan, bukan hanya bangsa Israel (Yesaya 66:23) karena seluruh dunia membutuhkan keselamatan dari Allah.

Orang-orang Majus juga adalah orang-orang yang peka dan mengerti kehendak Allah. Ketika diperingatkan melalui mimpi supaya jangan kembali kepada Herodes, mereka taat. Kita harus meneladani orang-orang Majus. Kita tidak boleh sembarangan bernazar, tapi kita harus belajar taat kepada panggilan Allah. Teladan iman yang lain yang perlu kita teladani adalah dari Yusuf dan Maria. Yusuf dan Maria adalah orang-orang saleh. Ketika mereka bertunangan dan belum berhubungan suami-istri, Maria mengandung. Yusuf sangat terkejut dan bermaksud menceraikan Maria secara diam-diam. Namun, Allah memperingatkan Yusuf melalui malaikat dan Yusuf pun taat. Ketika Yusuf diperintahkan untuk meninggalkan Israel, Yusuf juga taat. Kita harus meneladani orang-orang sederhana seperti Yusuf dan Maria sehingga hidup kita pun sungguh-sungguh menjadi hidup yang memuliakan Allah.