Pengkhotbah

Perikop
Keluaran 20:16

Ringkasan Khotbah

Jangan mengucapkan saksi dusta adalah perintah ke-9.  Kata ‘saksi’ berkaitan erat dengan pengadilan, yakni untuk memproses yang salah dan yang benar. Saksi adalah seseorang yang memberikan keterangan yang benar (Ulangan 19:15; 18-19). Kesaksian menjadi penentu keputusan yang akan diambil pengadilan. Karena kesaksian menjadi penentu kehidupan seseorang, maka orang yang memberikan kesaksian dusta harus dihapus dari antara umat Allah. Dan jika kita menjadi saksi dalam pengadilan maka, jadilah saksi yang benar.

Arti luas dari ‘jangan mengucapkan saksi dusta’ adalah:
1.    Perlindungan terhadap keadilan di pengadilan. Kondisi dunia sekarang lebih banyak memutar-balikkan keadilan. Pengadilan di Indonesia telah menjadi tempat yang paling tidak adil. Keadilan menjadi mainan dan dapat diperjualbelikan. Dan para pelakunya adalah para hakim dan jaksa yang juga merupakan orang-orang percaya. Komitment untuk mentaati titah ke-9 ini seharusnya dimiliki oleh semua orang Kristen.

2.    Dalam kehidupan sehari hari, tidak berdusta atau berbohong. Orang percaya harus menghapus keinginan berkata dusta dalam hati dan pikiran (Efesus 4:25). Kita harus berkata-kata yang benar, yang dapat dipegang. Dunia harus mengenal orang Kristen dalam keseharian sebagai orang yang tidak mau berdusta, yang berjuang untuk tidak berkata bohong.

3.    Ucapan dan tindakan yang tidak merusak nama baik. Tindakan bergosip dan fitnah adalah tindakan yang merugikan nama baik orang lain. Tindakan memanipulasi data dan tidak memberitahukan informasi yang benar juga merusak nama baik. Seperti yang terjadi saat perusahaan mobil Toyota harus merecall semua produksi mobil untuk diperbaiki pedal remnya. Fakta bahwa 23% kasus terjadi karena pengendara tidak menginjak pedal rem telah di manipulasi oleh petugas badan keamanan lalulintas US. Hal ini menyebabkan perusahaan Toyota mengalami kerugian yang besar secara materiil maupun nama baik. Oleh karena itu, jika kita dihadapkan pada dilema harus membuka informasi yang benar, tetapi akan merugikan orang lain yang tidak bersalah, maka sebaiknya kita meminta hikmat dari Tuhan terlebih dahulu.

(FW/2010/08/18)