Ringkasan Khotbah

Berzinah dalam arti harafiah berarti berhubungan seksual dengan wanita yang sudah menikah. Kata cabul dalam alkitab dipakai dengan arti berhubungan seksual dengan wanita yang belum menikah. Tapi kata zinah ini dalam alkitab dipakai dengan arti yang lebih luas, yaitu berhubungan seks dengan pria yang bukan suami atau wanita yang bukan istri. Bahkan zinah juga dipakai untuk menggambarkan waktu bangsa Israel menyembah selain Allah. Hukuman dari pelanggaran ini adalah hukuman mati terhadap baik pria maupun wanita yang melakukan hubungan seks dengan istri atau suami orang lain. Saat ini banyak istilah yang digunakan untuk ‘menghaluskan’ perzinahan, tetapi semua adalah usaha iblis supaya dosa kelihatan bukan dosa malah indah, sehingga kita tertarik. Ini juga taktik yang dipakai iblis terhadap Hawa. Mari kita sadari bahwa langgaran berzinah adalah dosa dan hukumannya adalah hukuman mati.

Titah ketujuh selain sebagai larangan, sekaligus juga adalah perintah. Yaitu kalau kita mau berhubungan seks, harus dengan suami atau istri kita sendiri. Dalam keluarga mungkin kita sering merasakan pria atau wanita lain kelihatan lebih baik seperti pepatah “rumput tetangga terlihat lebih hijau”. Tetapi kalau kita tanya ke tetangga kita kemungkinan besar tetangga kita akan berpikir hal yang sama bahwa rumput kitalah yang kelihatan lebih hijau. Dan seandainya benar-benar terbukti bahwa rumput tetangga kita itu lebih hijau, walaupun tidak kita lihat tentunya itu karena tetangga kita lebih berusaha merawat sehingga rumput mereka lebih baik. Pelajaran yang bisa diambil bagi para suami yaitu perlu lebih menghargai, mengasihi dan memelihara istrinya, dan bagi para istri yaitu suami akan kelihatan lebih bijaksana dan perhatian bila istri-istri banyak memuji dan mau berkorban untuk suami. Hal yang penting adalah jangan menuntut dulu, tapi berusahalah terlebih dahulu.

Untuk yang belum menikah, titah ketujuh ini adalah larangan total untuk berhubungan seks dengan siapa saja. Yusuf adalah teladan yang baik. Dia yang dijual oleh saudara-saudaranya sendiri sebagai budak tetapi kemudian berhasil di rumah Potifar, tidak menerima ajakan istri Potifar untuk tidur bersama. Secara manusia, dengan dia menerima tawaran ini dapat mengokohkan posisinya di rumah Potifar tetapi kita dapat lihat integritas iman Yusuf yang menolak hal ini. Ketika kita menghadapi masalah, kita harus menghadapi dan tidak boleh lari, tetapi ketika kita menghadapi tawaran untuk berzinah, kita harus lari seperti Yusuf yang lari ketika dipaksa istri Potifar. Orang yang merasa kuat dalam hal seks justru adalah orang-orang yang jatuh dan malah terperangkap dalam kecanduan akan dosa seks ini.

Matius 5:27-28: Orang Israel hanya memahami titah ketujuh sebagai perbuatan fisik saja tetapi Yesus menuntut titah ketujuh ini diterapkan sampai dengan keinginan, pemikiran dan hati kita. Beberapa cara menjaga diri dari dosa seks supaya kita tetap kudus dalam hal seks ini yaitu:
1.    Ayub 31:1,9: bagian ini menuliskan standar yang ditetapkan Ayub yaitu dia membuat perjanjian dengan matanya supaya tidak melihat wanita lain yang bukan istrinya sehingga dia tertarik untuk melakukan hubungan seks dengan orang tersebut. Komitmen ini memang terutama bagi pria, tetapi perlu juga kerjasama dari wanita agar tidak mengenakan pakaian yang bisa menggoda kaum pria.

2.    Kita perlu menghindari situasi berdua di tempat tertutup. Waktu istri Potifar menuduh Yusuf berusaha menodainya, tidak ada yang membela Yusuf. Dan istri Potifar berani memaksa Yusuf sampai memegang bajunya karena tidak ada orang lain yang melihat (Kejadian 39:11), sehingga tidak ada saksi yang bisa membela Yusuf.

3.    Menyadari bahayanya pornografi. Perkembangan teknologi (internet, dll) membuat pornografi makin berkembang dan banyak orang terjerumus. Pornografi mengajarkan banyak hal yang salah mengenai seks (merendahkan wanita menjadi hanya objek untuk memenuhi kepuasan pria; mengajarkan seks sebagai sesuatu yang tidak berhubungan dengan Tuhan).

Seks sebenarnya ciptaan Allah yang sangat baik dan mulia karena dalam Kejadian 2 setelah Allah memberkati manusia, Allah memberi perintah untuk bertambah banyak. Dan Allah sudah menentukan setelah laki-laki dan perempuan meninggalkan orang tuanya dan bersatu dalam pernikahan barulah seks diizinkan. Marilah kita menjaga diri baik-baik agar bisa menikmati ciptaan Tuhan ini sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah.

(AS/07/10)