Pengkhotbah

Perikop
Keluaran 20:13

Ringkasan Khotbah

Dasa titah ke-6 memuat larangan yang sangat pendek yaitu “jangan membunuh” tetapi mempunyai cakupan yang luas. Larangan membunuh ini bukan artinya tidak boleh membunuh semua makhluk hidup tetapi hanya berlaku untuk manusia. Walaupun begitu harus diingat bahwa Tuhan memerintahkan manusia untuk mengusahakan dan memelihara dunia ini artinya kita perlu juga menjaga dan memelihara hewan dan tumbuhan di dalamnya (tidak sembarangan membunuh) (Kejadian 2:15). Larangan ini juga tidak berlaku bagi petugas yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menegakkan keadilan dengan menghukum orang-orang yang melanggar perintah Tuhan (Roma 13:4; Keluaran 21:12-17; Ulangan 20:10-18).

Larangan tidak boleh membunuh artinya kita tidak boleh membunuh sesama manusia tetapi juga diri sendiri. Cara membunuh diri sendiri dapat dibagi 2, yaitu:
1.    Secara langsung. Alasan membunuh diri bermacam-macam seperti kekecewaan, kesedihan atau sakit hati akibat hilang pekerjaan, keadaan ekonomi yang sulit, patah hati, ataupun sakit yang tidak sembuh-sembuh. Orang Kristen pun tidak kebal terhadap berbagai masalah seperti itu tetapi janganlah itu menjadi alasan untuk membunuh diri. Bahkan alasan bunuh diri apapun tidaklah diperbolehkan menurut dasa titah ke-6 ini. Kita perlu belajar dari Ayub mengenai ini. Ayub sangat diberkati Tuhan dengan banyak harta kekayaan dan anak tetapi kehilangan segalanya dalam satu hari saja. Bahkan istrinya tidak memihak kepadanya lagi dengan menyuruh dia mengutuki Tuhan dan mati. Teman-temannya yang datang untuk menghibur dia akhirnya malah menuduh dia telah berbuat dosa sehingga mengalami semuanya itu. Walaupun mengalami kesedihan yang begitu mendalam dia tidak menyerah dan bunuh diri.
2.    Secara perlahan-lahan. Ketika kita merusak tubuh kita dengan olahraga yang berlebihan atau membahayakan (memanjat gunung berapi saat mau meletus, dsb), bekerja atau belajar berlebihan sehingga sakit, ataupun makan makanan yang tidak sehat secara berlebihan, itu semua adalah tindakan membunuh diri secara perlahan dan merupakan bentuk pelanggaran titah ke-6 juga.

Mengenai membunuh sesama manusia juga dapat dibagi dua yaitu:
1.    Secara langsung, yang jelas adalah pelanggaran titah ke-6.
2.    Secara perlahan-lahan. Ketika kita menyakiti hati orang lain dengan perkataan atau perbuatan kita sehingga dia akhirnya sakit hati dan bunuh diri, artinya kita telah membunuhnya secara perlahan-lahan. Ini juga adalah bentuk pelanggaran titah ke-6.

Satu hal penting yang juga berkaitan dengan titah ke-6 ini adalah hal aborsi. Manusia berusaha menentukan sejak kapan janin di dalam kandungan disebut makhluk hidup dari segi ilmu kedokteran dan hukum. Tetapi firman Tuhan jelas berkata bahwa janin itu adalah karya Tuhan dan sangat dihargai oleh Tuhan (Hakim-hakim 13:7; Mazmur 139:13; Yesaya 44:2,24; Yesaya 49:1,5; Yeremia 1:5; Galatia 1:15). Memang ada keadaan khusus seperti keadaan yang membahayakan jiwa ibu bila tidak dilakukan aborsi tetapi ini sangat jarang sekali. Jelas bahwa tindakan aborsi adalah pelanggaran titah ke-6, tindakan yang harus kita hindari.

Mari kita taat dan setia akan dasa titah yang ada dalam firman Tuhan, belajar untuk menyerahkan setiap masalah kepada Tuhan serta mencontoh kepada para tokoh Alkitab yang sudah memenangkan ujian.

(AS/07/10)