Pengkhotbah

Perikop
Keluaran 20:4-6

Ringkasan Khotbah

Titah kedua yang menyatakan agar kita tidak menyembah Tuhan secara sembarangan berisi 2 larangan:

  1. Larangan membuat patung untuk disembah. Tuhan tidak melarang membuat patung (contoh: Bilangan 21:8). Larangan ini berlaku bagi hal membuat patung yang tujuannya untuk disembah. Keluaran 32:2-4: Yang pertama kali melanggar titah kedua ini ternyata Harun, kakak dan juru bicara Musa sendiri, yang ditetapkan sebagai imam. Kita yang sudah percaya pun bisa jatuh ke dalam dosa ini dan akibatnya adalah murka Tuhan yang luar biasa artinya Tuhan tidak kompromi akan dosa. Patung untuk disembah dibuat berdasarkan pengertian dan imajinasi pembuat mengenai Allah sedangkan tidak ada orang yang pernah melihat rupa-Nya. Jadi bila seseorang menggambarkan Tuhan berdasarkan pengertian dan imajinasinya, itu pasti penggambaran tentang Tuhan yang salah. Yohanes 4:24: karena Allah adalah Roh maka tidak bisa digambarkan dengan benda seperti patung yang berwujud. Dari esensi ini kita bisa mengerti bahwa meski kita tidak membuat patung pun, bisa saja kita melanggar titah kedua ini. Segala sesuatu bentuk penyembahan yang berdasar pada imaginasi kita itu adalah pelanggaran akan titah kedua. Contoh: doa orang yang meminta Tuhan menampakkan diri bila benar-benar ada, atau doa janji serius melayani kalau Tuhan menyatakan diri, dsb. Sebaiknya kita berdoa supaya Tuhan menolong mata rohani kita agar bisa melihat Tuhan.
  2. Larangan menyembah dan beribadah kepada patung. Kita harus beribadah, yaitu menyembah dan melayani Tuhan. Tapi aspek kedua ini mengajak kita untuk lebih jauh lagi, yaitu untuk menyembah dan melayani Tuhan dengan tidak sembarangan. Dengan adanya patung dapat membantu kita untuk mengimajinasikan Tuhan sehingga lebih mudah menyembah tetapi Tuhan ingin kita menyembah-Nya sesuai dengan cara yang Tuhan inginkan. Allah kita adalah Allah yang cemburu (Keluaran 20:5). Ada 2 jenis cemburu, yaitu cemburu tanpa alasan tepat, dan cemburu dengan alasan tepat. Cemburu yang dimiliki Allah adalah cemburu dengan alasan tepat, cemburu kudus, benar, yang hanya dimiliki Allah. Patung sebagus apapun tidak mungkin menggambarkan Allah dan jauh lebih rendah dari keberadaan Allah sesungguhnya. Kalau kita menyembah patung, kita merendahkan Allah. Itulah sebabnya Allah cemburu. Keluaran 20:5: murka Tuhan sedemikian besar atas pelanggaran ini dan Tuhan bahkan mengatakan bahwa orang yang menyembah patung adalah orang yang membenci Dia. Jangan menyembah dan melayani Tuhan sesuka hati, tetapi kita harus terus mengoreksi diri akan pengertian yang kurang sempurna mengenai Tuhan atau pelayanan yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan.

Pemahaman dan penyembahan yang salah terhadap Allah akan diteruskan dari generasi ke generasi sehingga bisa dimengerti tentang bagian mengenai murka Tuhan sampai ke keturunan keempat. Tetapi di sisi lain dinyatakan tentang kemurahan Allah yang menunjukkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang yang mengasihi-Nya dan berpegang pada perintah Tuhan. Kemurahan Allah jauh lebih besar, tinggi dan dalam dibanding kecemburuan Allah. Itulah sebabnya kita bisa diampuni Allah. Mari kita memelihara titah kedua dengan cara mengasihi Tuhan dan berpegang pada perintah-Nya bukan karena Allah cemburu dan akan murka, tapi karena Allah adalah Allah yang menunjukkan kasih setia-Nya kepada kita. Sudahkah kita menyembah dan melayani Tuhan baik secara pribadi maupun bersama-sama di gereja?
(JW/06/10)