Pengkhotbah

Perikop
Keluaran 20:17

Ringkasan Khotbah

Setiap kita memiliki keinginan, dan hal memiliki keinginan itu sendiri tidak salah karena Tuhan mencipta kita sebagai makhluk yang punya keinginan. Tapi bila keinginan itu tidak terkontrol akibatnya kita sudah dikuasai olehnya dan akhirnya keinginan itu membawa kita jatuh ke dalam pencobaan dan berdosa (Yakobus 1:14).

Keinginan yang dapat membawa kita jatuh ke dalam dosa yaitu keinginan terhadap milik orang lain (harta benda, talenta, dsb). Kalau kita terpikat keinginan ini akan membuat kita melakukan banyak dosa seperti Raja Daud yang mengingini Batsyeba, isteri Uria, lalu jatuh dalam dosa perzinahan, kemudian dia berusaha menipu Uria dan akhirnya jatuh dalam dosa pembunuhan Uria (2 Samuel 11:1-27). Raja Ahab yang mengingini kebun anggur milik Nabot sehingga membiarkan Izebel, isterinya mengatur fitnah tentang Nabot sehingga Nabot mati dilempari batu (2 Raja-Raja 21:1-16).

Titah kesepuluh adalah pengaman bagi kita, tetapi bila kita langgar maka tanpa disadari kita sudah melanggar titah-titah yang lainnya. Titah-titah Tuhan ibaratnya jaket pelampung yang adalah alat penyelamat di kapal. Bila di tengah laut, gerakan kita akan terbatas dengan jaket ini dan kurang nyaman, tapi kita aman. Tanpa jaket pelampung, sebelum sampai daratan maka kita akan habis tenaga berenang dan akhirnya mati tenggelam.

Mengingini milik orang lain timbul karena ketidakpuasan di dalam hati. Ketidakpuasan ini tidak dapat dipenuhi dengan harta yang berlimpah (Lukas 12:15b). Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa Allah sehingga ada sifat kekekalan yang ditaruh di dalam diri kita (Pengkhotbah 3:11) sehingga kita merindukan sesuatu yang bernilai atau bersifat kekal.

Cara menjaga diri agar tidak melanggar titah kesepuluh ini:
1.    Menemukan kepuasan sejati. Yohanes 5:11-13: Manusia bisa mendapat kekekalan dan kepuasan sejati hanya di dalam Tuhan Yesus yaitu dengan percaya kepada nama Yesus Kristus.
2.    Menggunakan dan mengembangkan apa yang kita miliki. Matius 25:24-30: Kita perlu belajar dari hamba yang baik yang menggunakan dan mengembangkan talenta yang diberikan oleh tuannya. Di mata Tuhan, bukanlah siapa yang memiliki talenta lebih banyak atau lebih baik, tapi siapa yang sudah menggunakan dan mengembangkannyalah yang dinilai.
3.    Mencukupkan diri dengan apa yang ada (Ibrani 13:5). “Besar pasak daripada tiang” yang artinya “lebih besar pengeluaran daripada penghasilan” bukanlah yang Tuhan inginkan. Tapi banyak orang Kristen mengalami kondisi ini. Bahkan waktu pemasukan bertambah, ternyata pengeluaran juga lebih bertambah lagi. Karena itu kita perlu menerapkan prinsip di Ibrani 13:5 yaitu tidak menjadi hamba uang, cukupkan diri dengan apa yang ada. Orang yang percaya Tuhan ada dan menyertai serta tidak membiarkan dan meninggalkan dia, tidak perlu menjadi hamba uang. Justru sebaliknya menjadi tuan uang yaitu dapat mengatur uang dengan baik, sehingga uang yang banyak juga cukup, uang sedikit juga cukup. Cara ampuh untuk dapat mencukupkan diri yaitu dengan memberikan persembahan secara rutin.

Dengan membiasakan diri memberi persembahan secara teratur maka kita akan benar-benar sadar uang yang kita miliki dan dapat mengaturnya dengan baik tentang apa yang perlu dan apa yang tidak. Ini juga merupakan salah satu wujud janji Tuhan dalam Maleakhi 3:11 dimana Tuhan akan menghardik belalang pelahap, artinya Tuhan menjauhkan kita dari pengeluaran/keinginan yang tidak perlu.

(AS/08/10)