Pengkhotbah

Perikop
Yesaya 55:1-13

Ringkasan Khotbah

Renungan hari ini kita mulai dengan sebuah ilustrasi dimana seorang anak kecil yang pulang ke rumah dengan membawa banyak anggur. Lalu Mamanya bertanya bagaimana dia bisa mendapatkannya. Anak kecil itu berkata bahwa dia mendapatkan banyak anggur tersebut langsung dari ibu penjual anggur. Karena tangan anak itu kecil, ibu penjual itu yang langsung memberikan banyak anggur kepada si anak kecil. Inti daripada cerita ini adalah karena si ibu sudah bersedia memberi, biarlah dia yang memilihkan dan menggenggamkan anggur terbaik untuk si anak kecil. Dalam Roma 8:31-32, dituliskan: “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Ayat ini menekankan “jika Allah di pihak kita”, bukan “kita yang memihak Allah”, artinya Allah sendiri yang aktif memihak anak-anakNya walaupun jemaat Roma pada waktu itu mengalami penderitaan, kesulitan, dan penganiayaan besar (digergaji, dibakar hidup-hidup).

John Calvin, seorang tokoh reformator gereja, berkata bahwa apabila Allah sudah memberikan yang terbesar daripadaNya, yaitu anakNya sendiri, bukankah tidak mungkin Dia tidak nemberikan yang lebih kecil kepada anak-anakNya? Dalam perikop hari ini, Nabi Yesaya berkata: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” Ini adalah seruan kepada bangsa Israel untuk bertobat yang disampaikan jauh sebelum Tuhan Yesus datang ke dunia menjadi manusia. Mengapa kita harus mencari Tuhan?

① Karena tanpa Tuhan, hidup kita sia-sia. Hidup dengan kekayaan melimpah tanpa memiliki Yesus tidak ada artinya karena semuanya akan binasa. Apabila kita melihat kehidupan orang Jepang, mereka bekerja dari pagi sampai malam, tapi pada Jumat atau Sabtu malam mereka berpesta karena mereka tidak mengerti arti hidup dalam Tuhan. Gaya hidup yang sebinal-binalnya, yang penuh pesta pora, yang hidup dengan seks bebas, hidup berlimpah harta, tidak pernah menjadi jaminan membuat manusia hidup berarti.

② Karena tanpa Tuhan, kita tidak berdaya menjalani hidup. Mungkin ada yang berkata: “Mayoritas orang Jepang hidup tanpa Tuhan tapi mereka bisa hidup berdaya”. Justru, sebagai orang Kristen, tugas kita adalah membuktikan bahwa hidup orang Jepang tidak berdaya tanpa Tuhan. Salah seorang ibu berkata: “Saya bersyukur saya percaya kepada Tuhan sehingga saya tidak perlu bunuh diri seperti yang dilakukan oleh orang Jepang”. Seorang wanita asal Swiss mengaku menabung uang banyak untuk berjalan-jalan ke Bali dan Yogyakarta untuk menikmati hidup. Wanita tersebut mengaku bahwa dia tidak memerlukan Tuhan karena dia merasa cukup kuat menjalani hidup. Tapi dalam hatinya, dia mengaku bahwa dia sebenarnya tidak merasakan kebahagiaan sejati (joy). Apabila manusia ingin mencari kebahagiaan, manusia harus mencari sumbernya, yaitu Allah. Manusia tidak pernah bahagia dengan mencari isi dunia. Tuhan itu sumber segala sesuatu, jangan cari dunia, tapi milikilah sumber hidup itu, yaitu Allah sendiri.

③ Karena bersama Tuhan kita memiliki masa depan yang baik. Yeremia 29:11 berkata: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. Untuk mendapatkan masa depan yang baik, kita harus mencari Tuhan, bertobat dari segala dosa kita, dan mengalami rencana yang Tuhan rancangkan bagi kita (Yesaya 55:7-9). Tidak ada seorang manusia pun yang berdaya mengalahkan dosa-dosanya. Manusia harus datang ke hadapan Tuhan dan berkata: Tuhan, aku tidak kuat membereskan dosa-dosaku. Tolong aku”. Setelah bertobat, kita perlu berdoa kepada Tuhan: “Tuhan, bawalah aku ke dalam rancanganMu yang mulia”. Apabila kita ingin maju dalam studi, dalam pekerjaan, dalam hal apapun, kita harus datang kepada Tuhan dan mengerti apa rancanganNya bagi kita. Marilah kita mempercayakan hidup kita kepada Allah yang merancangkan yang baik kepada kita anak-anakNya.