Ringkasan Khotbah

Hari ini kita akan belajar tentang buah kasih & anugerah Tuhan (tema GIII tahun 2017). Dalam Alkitab, buah bisa berarti yang berasal dari pohon (buah anggur, ara, zaitun). Buah juga mengandung arti kiasan: Perbuatan dari sebuah ajaran. Sewaktu Yesus memperingatkan para murid mengenai ajaran sesat, Yesus menggunakan kata buah (Matius 7:17, 20); Bukti dari sebuah kebenaran. Seorang yang sungguh-sungguh bertobat sebagai hasil pekerjaan Roh Kudus, akan hidup dalam kebenaran (Lukas 3:8); Hasil dari pekerjaan atau pelayanan. Paulus berkata bahwa dia bekerja untuk memberi buah (Filipi 1:21-22); Perkataan atau pengakuan, yakni buah bibir yang memuliakan Allah (Ibrani 3:15); Visi-misi atau tugas dari Tuhan. Seperti perumpamaan Yesus mengenai kerajaan Allah. Apabila pohon ara tidak berbuah, maka akan ditebang. Ini adalah contoh-contoh dalam Alkitab.

Secara praktis dalam kehidupan iman, kita akan belajar mengenai buah dalam pekerjaan & keluarga kita. Mazmur 128:1-3 menggambarkan sebuah keluarga yang berbuah. Kasih & anugerah Allah yang tidak kelihatan dinyatakan dalam pekerjaan & keluarga. Para suami bekerja untuk menghidupi keluarga. Ini disebut buah hasil pekerjaan tangan yang mendatangkan kebaikan & kebahagiaan bagi keluarga. Dalam bahasa Inggris, pekerjaan bukan hanya disebut sebagai job, tapi juga calling (panggilan). Bekerja hanya untuk uang adalah cara pikir orang dunia. Pikiran orang Kristen berbeda: “Saya bekerja sebaik-baiknya, walaupun berat & ada air mata, tapi karena Tuhanlah yang memanggil, hasilnya Tuhan yang menentukan”. Kalau bekerja hanya untuk boss, kita akan stres. Orang Kristen sadar bahwa pekerjaan adalah dari Tuhan, oleh Tuhan & untuk Tuhan. Ketika bekerja, siapa yang kita senangkan: boss atau Tuhan? Dalam sejarah Jepang, ada seorang prajurit rendah dengan upah kecil bernama Toyotomi Hideyoshi, yang selalu berusaha menyenangkan hati tuannya, Oda Nobunaga. Nobunaga mengangkat Hideyoshi menjadi asisten pribadi. Hideyoshi menjadi salah seorang panglima yang berhasil mempersatukan Jepang menggantikan Nobunaga. Orang Kristen perlu belajar mempunyai prinsip kerja seperti Hideyoshi: bekerja keras bukan untuk uang tapi untuk menyenangkan Allah. Seorang tuan di dunia senang kepada bawahan yang berusaha menyenangkannya, apalagi Allah kepada anak-anakNya yang berusaha menyenangkanNya. Pekerjaan seorang pria berdampak bagi keluarganya. Mazmur 128:3 mengibaratkan istri seperti pohon anggur yang subur. Seorang istri dikaruniakan kemampuan multitasking, mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga bersamaan. Suami & istri yang takut Tuhan akan menghasilkan anak-anak yang baik. Anak-anak diibaratkan sebagai tunas pohon zaitun di sekeliling meja. Artinya mereka memberikan pengharapan kepada orangtua. Secara praktis, keluarga makan bersama di sekeliling meja merupakan hal yang sangat baik. Di meja makan anak-anak bisa bercerita dengan hati terbuka kepada orangtua mengenai hal-hal yang dialaminya, baik suka maupun duka & orangtua mendengarkan serta memberikan pengajaran.

Mazmur 1:2 lebih lanjut berkata bahwa mereka yang merenungkan firman Tuhan siang malam, apa saja yang diperbuatnya berhasil untuk kemuliaan Tuhan (merenungkan, memikirkan). Sekarang banyak cara meditasi. Salah satu yang berkembang di Amerika adalah metode mindfulness (sepenuh hati). Dalam meditasi ini, seseorang duduk & merenungkan sesuatu. Misalnya, hari itu minum secangkir kopi. Pikiran difokuskan untuk merenungkan kopi: apa merknya, apa rasanya, dan seterusnya. Katanya, melalui meditasi ini, rasa stres & kekhawatiran bisa hilang. Benarkah? Sejak ribuan tahun lalu Alkitab mengatakan bahwa merenungkan firman Tuhan siang malam memampukan kita mengerjakan segala sesuatu dengan terarah & mengerti untuk apa kita mengerjakannya. Yesus berkata: “Aku adalah pokok anggur & kamu adalah ranting-rantingnya. Tinggallah dalam Aku maka kamu akan berbuah”. Ketika kita berdoa & merenungkan firman Tuhan, kita merasa dipersatukan dengan Kristus & kasih Allah. Disitulah timbul dalam hati kita berbagai hal yang sesuai dengan kehendak Allah. Dari dalam hati kita keluar buah roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan & penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Mengenai buah roh damai sejahtera, seorang penulis himne bernama Horatio Spafford bisa dijadikan teladan. Anak-anak Spafford meninggal dalam kebakaran besar di Chicago. Beberapa tahun kemudian, anak-anaknya yang lain meninggal ketika kapal mereka tenggelam dalam perjalanan ke London. Spafford sangat terpukul. Spafford membayangkan anak-anaknya sedang bersama-sama dengan Tuhan Yesus dan Spafford mendapatkan damai sejahtera. Dalam pergumulannya Spafford menulis sebuah himne terkenal berjudul “Jiwaku tenanglah” (It is well with my soul). Ketika kita dipersatukan dengan Kristus, maka buah kasih karunia & anugerah Allah akan nyata dalam kehidupan kita. Sudahkah kita mengalami kasih dan anugerah Allah itu?