Pengkhotbah

Perikop
Ibrani 12:1-14

Ringkasan Khotbah

Bertekun dalam panggilan merupakan suatu tantangan, ajakan serta motivasi penting untuk kita merenungkan bahwa kekristenan adalah perjalanan menuju tempat yang jelas yaitu Surga, dimana untuk mencapainya perlu ketekunan. Kenapa kita bertekun karena sang Guru dan Teladan kita, Yesus, meskipun adalah pribadi yang kudus dan agung tetapi Ia sendiri bertekun. Dalam Efesus pasal 6 kita telah mempelajari bahwa kekristenan adalah sebuah peperangan dan dilanjutkan pada perikop ini yaitu kekristenan adalah perlombaan (ay. 1). Penulis kitab Ibrani menyatakan menjadi orang Kristen maka menjalani suatu pertandingan yang begitu serius dan menegangkan yang taruhannya adalah nyawa. Dan sifat perlombaan itu wajib bukan pilihan, orang Kristen harus ikut perlombaan atau tidak disebut sebagi murid. Kalau tidak, mungkin seseorang hanya menjalani rutinitas keagamaan. Cara berlomba adalah dengan bertekun di dalam Tuhan dan harus aktif, mulai dari mendengar Firman, membaca Firman, berdoa, dan menyaksikan siapa itu Yesus. Memasuki perayaan Natal ini apakah kita sedang aktif menyaksikan Yesus atau memuaskan keinginan sendiri? Mari kita mengingat kembali dalam momen Natal ini, bahwa kita harus bertekun dan aktif mengerjakan kehendak Allah dalam kehidupan kita.

Ketekunan orang Kristen bergantung pada ketekunan Allah/kedaulatan Allah. Maksudnya Allah tekun/setia memelihara ciptaan-Nya dengan sempurna, dan menuntun kita pada kesempurnaan di Surga kelak. Bagaimana kita bisa bertekun: ❶ ay. 1 dan ay. 14 merupakan kunci tentang ketekunan yaitu kekudusan, dalam bahasa Yunani “hagiasmos” artinya terus menerus hidup dalam kekudusan. Kekudusan dituntut Allah dari umat-Nya karena tanpa itu mustahil kita bisa memandang kepada Allah dan menikmati persekutuan dengan Tuhan. Lambat laun kekristenan kita menjadi rutinitas, membaca Alkitab seperti membaca koran dan tidak berdoa lagi. Dosa merintangi hubungan tersebut. Dalam bahasa aslinya merintangi artinya menyerang secara diam-diam/mengelilingi/menjebak. Iblis/dosa bekerja secara licik dan sistematis untuk menjatuhkan manusia. Ketika Allah membawa umat Israel keluar dari Mesir, standar-Nya begitu jelas : Kuduslah kamu, sebab Aku Tuhan Allahmu kudus (Im 19:2). Untuk kita bertekun, kerjakanlah dalam kekudusan. Kekudusan itu adalah kebiasaan untuk setuju dengan kehendak Allah, berusaha menjadi serupa Yesus (1 Kor 2, Rm 8:29), tidak memanjakan diri (Luk 21:34), mengupayakan kesucian pikiran dan hati, mempunyai rasa hormat yang mendalam kepada Allah dan jalan-Nya.❷memandang kepada Yesus (ay. 2-4). Standar kita adalah Yesus dan Ia yang memimpin kita dalam perlombaan iman. Yesus adalah perintis, Ia mengabaikan kehinaan dan rela menanggung derita menuju sukacita kemenangan. ❸ bersedia untuk dibentuk (ay. 5-11). Tuhan seperti ayah yang menunjukkan otoritas pada anaknya untuk mendidik anaknya agar anak menjadi dewasa/matang. Didikan dalam bahasa Yunani “paidea” artinya disiplin, latihan, pukulan hingga penderitaan hingga anak menjadi matang. Kata ini diulang-ulang, pada ay.5 artinya didikan atau ganjaran pada ay. 7-9,11 diberikan sehingga kita bisa semakin serius dan bertekun dalam panggilan sebagai murid. Pada waktu dididik memang tidak ada sukacita tapi hasilnya adalah buah kebenaran, damai pada yang dilatihnya.

Dalam perikop ini, kata anak yang dipakai adalah “huios” yang artinya anak adopsi. Orang Kristen diadopsi / diangkat menjadi anak Allah dan dipastikan menerima hak sebagai anak Allah saat Tuhan Yesus datang kembali. Betapa besar anugerah tersebut. Kita dianggap setara dengan Kristus sebagai anak. Maka kita pun perlu belajar dari Kristus untuk siap diganjar. Kita diganjar artinya kita dikasihi Tuhan agar tidak tetap tinggal dalam dosa. Pada Rm 8:28 dikatakan Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Tujuan pendidikan adalah supaya kita hormat kepada Tuhan. Didikan membuktikan otoritas, bila Tuhan berotoritas atas hidup kita maka tentunya kita menghormati Tuhan. Kesimpulannya, kekristenan adalah perjalanan yang menjanjikan hidup yang kekal. Taat bukan karena paksaan, tapi karena ada janji tentang hidup serta penghormatan kepada Tuhan. Maka kita harus siap dibentuk dalam perlombaan iman, mulai dari masa muda hingga masa tua belajar bertekun dalam panggilan kita, dan biarlah kita dipakai Tuhan menjadi saksi-Nya dimanapun kita ditempatkan.