Pengkhotbah

Perikop
Ibrani 10 :19-39

Ringkasan Khotbah

Orang Yahudi mempunyai pengetahuan mengenai Perjanjian
Lama (PL) namun mereka tidak mengerti bahwa sebenarnya semua cerita dalam PL
menunjuk kepada suatu pribadi yaitu Yesus Kristus yang telah membuka jalan baru
yang sebelumnya tidak dapat dijalani oleh umat Tuhan secara langsung. Hal ini
ditunjukkan dengan terbelahnya tirai Bait Allah ketika Yesus disalib. Karena
itu:

1.   Kita
perlu bertekun dalam persekutuan dengan Bapa kapan saja dan di mana saja. Ini
adalah suatu pelatihan rohani dan kebiasaan yang perlu kita tanamkan. Kita
dapat menjadi batu loncatan untuk menyampaikan injil kepada mereka yang belum
mengenal Tuhan. Setiap orang harus siap untuk diutus Tuhan, termasuk di dalam
kehidupan sehari-hari yang merupakan pelayanan dan misi. Melakukan kehendak
Tuhan berdampingan dengan penderitaan sehingga persekutuan dengan Bapa akan
memberikan kekuatan untuk menghadapi tantangan dalam tugas dan pelayanan. Dari
sudut misiologi, penderitaan itu penting untuk menyampaikan injil kepada masyarakat
yang belum mengenal Tuhan, sama seperti Yesus yang mengalami penderitaan salib
ketika menyiapkan jalan baru bagi kita. Dia telah mengalami penderitaan
sehingga dia dapat mengerti tantangan apa yang kita alami.

 Orang Israel terbiasa dengan konsep kedasyatan
hadirat Allah sehingga mereka sungkan untuk menghampiri hadirat Allah. Melalui
kristus, kita mempunyai hak istimewa untuk menghampiri hadirat Tuhan. Karena
itu, marilah kita memberanikan diri untuk menghadap hadirat Allah karena kita
aman oleh Kristus seperti Musa aman di lekuk gunung. Kegentaran yang kudus
selalu menyertai hadirat Tuhan yang akan membawa manusia untuk kembali
menyadari statusnya.

2.   Kita
bertekun dalam iman dan pengharapan. Iman adalah bukti pengharapan dan muncul
dari pendengaran akan Firman. Dalam Kristus, dianugrahkan suatu pengetahuan
sedemikian rupa, lebih dari observasi ilmiah, bahwa kita memerlukan anugerah
Tuhan untuk sampai pada keselamatan. Pengharapan kita menjadi jelas sejak kita
menerima Tuhan, bukan berdasarkan pada akal budi saja, tetapi berdasarkan janji
dalam Firman Tuhan. Berjalan dengan pengharapan, seperti pelari maraton, kita
perlu mengatur langkah kita untuk sampai ke tujuan. Kita harus siap kapan saja
Tuhan datang. Selain itu, kita harus dapat menyaring setiap penyampaian dari
sesama kita dan menerima semua yang baik dan sesuai Alkitab. Janganlah kita
melihat kelemahan dari setiap pribadi, karena bahkan tokoh Alkitab pun punya
kelemahan. Untuk itulah, Alkitab membuka anugrah kasih karunia supaya kita hidup
di dalamnya.

3.   Kita
bertekun dalam persekutan dengan umat Tuhan karena kita tidak dapat melakukan
pelayanan tanpa hal itu. Kita dapat dibentuk dalam persekutuan dengan umat
Tuhan, misalnya saling menasehati dan memperhatikan. Tanpa kebersamaan dan persekutuan,
makna gereja Tuhan dan ibadah akan hilang. Di dunia yang diwarnai dengan
individualistis ini, marilah kita saling mendorong dalam kasih dan perbuatan
baik sehingga kita punya kekuatan untuk melayani.

4.   Kita
harus bertekun dan berjaga-jaga karena godaan dan tantangan dapat datang setiap
saat. Kita dapat belajar mengenai penderitaan dan pengharapan dari gereja
mula-mula yang berada dibawah penganiayaan kekaisaran Romawi. Mereka  dapat
melewati tantangan karena iman. Perjanjian Baru mengatakan bahwa akan ada
penghakiman yang dashyat. Karena itu, mari kita mengingat kedashyatan hukuman
Allah agar kita selalu bersandar kepada-Nya.

(ML/05/09)