Pengkhotbah

Perikop
Nahum 1:1-15

Ringkasan Khotbah

Apabila dari Mei-Agustus kita sudah merenungkan mengenai kehidupan berkeluarga orang Kristen, dari September-Desember kita akan merenungkan mengenai kehidupan bergereja. Kita harus menyadari bahwa dalam ibadah dan pelayanan kita, segala sesuatunya harus berpusat kepada Allah. Hari ini kita akan merenungkan bagaimana arti hidup berpusat kepada Allah dari kitab yang ditulis oleh Nabi Nahum.

Kitab Nahum ditulis sekitar 664-612 SM oleh Nabi Nahum (Nahum artinya penghibur). Nahum berasal dari Kota Elkosy, dekat Kota Galilea. Kitab Nahum bernubuat tentang kehancuran kota Niniwe yang merupakan ibukota Kerajaan Asyur (Irak sekarang), sebuah kerajaan yang begitu kaya. Kerajaan Asyur akan dihancurkan oleh Kerajaan Babel dan Kerajaan Media-Persia. Salah satu anak Nuh, yaitu Ham, adalah nenek moyang orang Niniwe. Ayat-ayat Alkitab mencatat beberapa sifat Kerajaan Asyur, yaitu kuat dan berkuasa (Yesaya 28:2), tidak sabar dan bersifat menindas (Nahum 3:18-19), bengis dan bersifat membinasakan (Yes. 10:7), serta sombong dan angkuh (Yes. 10:8, 2 Raja-raja 19:22-24).

Israel adalah bangsa pilihan Allah. Lalu mengapa Allah berurusan dengan kota Niniwe? Dari sini kita belajar bahwa segala ciptaan tidak pernah luput dari pemantauan Allah. Segala ciptaan bergantung pada Allah. Seorang bapak reformator John Calvin berkata: “Kita yang percaya pada Allah harus menyadari bahwa yang mengendalikan sejarah adalah Allah”.

Mengapa Allah ingin menghancurkan Niniwe? Asyur melawan dan hendak menghancurkan Israel, dan bukan hanya itu saja, tetapi juga melawan Allah (1:9,11). Asyur mencemooh hukum dan tatanan moral yang Allah tetapkan (2:13, 3:4). Asyur adalah bangsa yang kaya, tetapi tidak puas akan apa yang mereka miliki; Asyur serakah dan rakus (Yes. 14:24-25).

Di ay. 2 disebutkan bahwa Allah adalah Allah yang cemburu dan pembalas dan penuh kehangatan amarah. Dalam Kel. 20:5, Kel. 34:14, Ul. 4:24, disebutkan bahwa Allah adalah Allah yang cemburu. Allah yang mempunyai sifat cemburu menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang berpribadi, tetapi kecemburuan Allah berbeda dengan kecemburuan manusia. Kecemburuan Allah menunjukkan kehormatan dan kemuliaan-Nya. Kecemburuan Allah itu muncul untuk mempertahankan nama-Nya yang kudus (Yeh. 39:25). Sifat cemburu kudus ini adalah salah satu atribut Allah. Kita jangan pernah menggeser kekudusan dan kehormatan Allah dengan yang lainnya. Bangsa Israel pernah membuat anak lembu emas untuk disembah dan ini membuat Allah cemburu. Ketika mereka diancam bahwa Allah tidak akan diam lagi di tengah-tengah mereka, mereka bersedih dan berkabung. Kiranya kita juga mengevaluasi diri kita apakah kita telah membuat Allah cemburu. Apabila kita telah membuat Allah cemburu, marilah kita segera bertobat. Tidak ada seorang pun yang tahan terhadap geram-Nya.

Allah yang cemburu juga adalah Allah yang baik (ay. 7). Allah adalah pribadi yang baik. Kebaikan adalah atribut moral Allah. Akan tetapi dalam bukunya “Disappointment with God”, Philip Yancey menuliskan:” Allah yang baik ternyata bisa juga dirasakan mengecewakan. Ia kadang-kadang menutup pintu dan memalingkan muka-Nya di tengah jeritan minta tolong anak-anak-Nya. Ia seperti seolah-olah sengaja menunda-nunda waktu sehingga terlambat. Ia bahkan seolah-olah menghendaki hal-hal jahat terjadi dalam kehidupan manusia.” Inilah yang sering dipakai oleh orang-orang atheist untuk menyerang Allah: “Apabila Allah ada, mengapa terjadi perang, mengapa terjadi kelaparan, dan lain-lain.” Sebagai orang Kristen, kita harus melihat atribut Allah secara integral, jangan sepotong-potong. Untuk memahami kebaikan Allah, kita perlu mengertinya dari sisi kebenaran, kesucian, keadilan, dan kemurahan Allah. Yang jelas, tujuan semua karya-Nya bagi kita adalah mendatangkan damai sejahtera.

Nahum menulis bahwa Allah adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan (ay. 7). Kita belajar dari pengalaman Raja Hizkia ketika Sanherib, Raja Asyur, menyerang Yerusalem (2 Raja-raja 18:13-37). Hizkia berdoa dan berseru kepada Allah dan Allah menolong Hizkia dan kerajaannya (2 Raja-raja 19:15-19). Allah mengenal orang-orang yang berlindung pada-Nya dan Allah juga memberi diri-Nya dikenal. Itulah salah satu arti kedatangan Tuhan Yesus. Karena itu, kita harus menghargai hubungan kita dengan Allah. Kita harus menjadikan Allah sebagai kekasih yang utama, lebih dari segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini.