Posted by Admin GIII Tokyo

Orang-orang Jepang sangat senang melihat dan menikmati bunga sakura karena dalam satu tahun, bunga sakura hanya muncul dalam periode yang pendek yangmengingatkan kefanaan manusia. Namun sayang sekali hampir semua orang Jepang tidak mengerti bagaimana belajar melihat nilai-nilai kekekalan yang ada dalam hidup. Tema GIII 2019, “Setia berjalan dalam misi Allah”, mempunyai dua arti: (1) Memberitakan Injil, (2) Menyatakan kasih Allah dalam perbuatan, pemikiran, dan perkataan kepada sesama. Berkaitan dengan tema GIII Tokyo tahun ini, hari ini kita akan merenungkan mengenai Amanat Agung. Bagaimana situasi para murid ketika mereka mendengar Amanat Agung?

Di ayat 14, Yesus menampakkan diri kepada para murid ketika mereka sedang makan, bukan sedang berdoa atau belajar firman Tuhan. Yesus mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka. Beberapa murid bersama beberapa kaum wanita sudah menyaksikan kubur Yesus yang kosong, tapi sebenarnya mereka masih belum percaya 100%. Mereka sudah bersama-sama Tuhan Yesus selama 3.5 tahun tapi mereka belum sepenuhnya percaya. Degil artinya tidak bisa menerima, keras kepala. Kenapa penulis Injil Markus mencatat hal ini? Ini dicatat untuk memberitahu bahwa Amanat Agung sendiri disampaikan bukan pada waktu para murid dalam keadaan siap dan bersemangat. Artinya, bukan kekuatan para murid yang mendorong mereka untuk memberitakan Injil, namun karena Roh Kudus sendiri yang bekerja dalam hidup mereka (bandingkan dengan Lukas 24:49). Hanya Roh Kudus-lah satu-satunya Pribadi yang berkuasa menggerakkan para murid untuk menjalankan Amanat Agung. Masih ingat pula bagaimana Petrus menyangkali Yesus tiga kali? Bagaimana mungkin seseorang seperti Petrus bisa menjalankan Amanat Agung? Apabila bukan Roh Kudus yang menggerakkan Petrus, mungkin dia akan kembali menangkap ikan di Danau Galilea. Bagi kita, Amanat Agung bagaikan sebuah mimpi saja kalau bersandar pada kekuatan kita sendiri.

Di ayat 15, Tuhan Yesus berkata “Pergilah ke seluruh dunia”. Dalam bahasa nggris: “Go into the world” atau “pergilah ke dalam dunia”. Kenapa dicatat seperti ini? Ada seorang insinyur asal Jepang yang bekerja di Fujitsu yang terpanggil menjadi misionaris ke Nepal. Dia sadar bahwa pada masa itu Nepal belum membutuhkan teknologi-teknologi canggih karena masyarakat masih hidup bertani secara sederhana. Tapi misionaris tersebut “masuk dan berbaur” bersama masyarakat lokal di Nepal. Dengan cara ini dia berhasil memberitakan Injil dan memulai berdirinya gereja. Inilah contoh praktis ketaatan anak Tuhan dalam menjalankan “go into the world”. Apabila kita merenungkan cara hidup jemaat mula-mula, mereka sangat serius mempelajari dan menghidupi firman Tuhan, berdoa, dan saling mengasihi. Orang-orang Kristen zaman sekarang harus meneladani hal ini.

Ada tiga metode memberitakan Injil: (1) Melalui kesaksian/keberadaan kita. Cara hidup dan cara bekerja orang Kristen berbeda dari dunia. Kita harus belajar merefleksikan karakter Kristus, (2) Melalui perbuatan kasih, misalnya Petrus yang menyatakan pelayanan kasih kepada seorang lumpuh dan orang Samaria yang menolong korban perampokan, (3) Melalui perkataan. Di ayat yang sama, disebutkan kata “segala makhluk”, yang artinya mengacu kepada semua manusia, tanpa memandang suku, agama, latar belakang, miskin atau kaya. Semua orang, tanpa terkecuali, membutuhkan berita Injil.

Di ayat 16, disebutkan “siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”. Diselamatkan dalam bahasa Yunani disebut “sozo”. Kata yang sama dipakai untuk kata “tolong” yang diteriakkan para murid sewaktu angin ribut melanda mereka (Matius 8:25). “Sozo” mempunyai beberapa arti: (1) Dilepaskan dari dosa, (2) Dilepaskan dari kebinasaan, (3) Diselamatkan dari kehidupan yang jauh dari Tuhan (seperti Zakheus, pemungut cukai, yang diselamatkan dari kehidupan yang lama), (4) Keselamatan yang kekal karena nanti akan bertemu muka dengan muka dengan Allah (Wahyu 7). Sebenarnya orang-orang yang menolak Kristus pada masa saat ini sudah berada dalam penghukuman (Yohanes 3:18). Mereka yang menolak Kristus akan terus hidup dalam perbudakan dosa. Tidak bisa lepas dari dosa sudah menjadi hukuman bagi mereka yang menolak Kristus. Mereka semakin lama semakin terperosok dalam dosa sampai tidak mungkin bisa keluar lagi. Ketika hari penghakiman tiba, hukuman dalam api kekal akan dinyatakan kepada mereka selama-lamanya (Wahyu 20:14-15). Martin Luther berkata: “Apabila semua pasal di Alkitab harus dihilangkan dan hanya tinggal satu ayat saja, yaitu Yohanes 3:16, maka itu sudah cukup karena ayat ini mengandung inti daripada Injil”. Kita perlu memberitakan Injil kepada seluruh manusia supaya mereka tidak binasa.

Di ayat 17-18 disebutkan mengenai tanda-tanda yang menyertai pemberitaan Injil oleh orang-orang percaya. Para rasul telah mengalami sendiri semua tanda-tanda ini ketika mereka memberitakan Kristus. Tapi kita jangan salah mengerti bahwa tanda-tanda ini mutlak harus ada ketika seseorang memberitakan Injil. Ketika tiba di Indonesia sebagai misionaris, saya belajar bahasa Indonesia. Bayi saya, bahasa Indonesia adalah bahasa baru, bukan mutlak harus berbahasa roh. Di ayat 20, ketika para rasul memberitakan Injil, Tuhan bekerja dan meneguhkan pemberitaan mereka. Meneguhkan berarti menguatkan dan meyakinkan. Ketika kebenaran Injil diberitakan, Roh Kudus sendirilah yang bekerja menggerakkan hati orang tidak percaya menjadi percaya. Tuhan akan memberikan tanda-tanda sebagai bukti bahwa Dia menyertai pemberitaan Injil. Tanda yang paling besar yang memberikan sukacita di sorga maupun di bumi adalah bertobatnya orang-orang berdosa. Kiranya kita pun digerakkan oleh Tuhan untuk memberitakan Injil.