Pengkhotbah

Perikop
Yakobus 1:2-8

Ringkasan Khotbah

Mari kita merenungkan praktek hidup yang Bergaul dengan Allah melalui satu hal yang selalu dialami oleh setiap manusia yaitu pencobaan. Bagi semua orang pada umumnya, menganggap bahwa penderitaan adalah sebuah hukuman, tetapi bagi orang Kristen, pengalaman penderitaan ini justru sebagai bagian untuk terus menghidupi pergaulan dengan Allah. Penderitaan juga dapat dimengerti sebagai akibat proses pembelajaran firman dan sebagai bagian proses memikul salib. Yakobus menulis dalam ayat 13 bahwa “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ‘Pencobaan ini datang dari Allah!’ Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun”. Arti “dicobai” di sini adalah: ‘tidak terpengaruh oleh kecondongan dosa’. Jadi, Allah tidak memberikan keinginan yang berdosa kepada siapapun. Bahkan ditulis dalam ayat 17 bahwa Allah itu adalah sumber segala yang baik. Tetapi Ia mengizinkan ujian agar seseorang dapat mengalami makna hidup bersama Tuhan. Istilah “PENCOBAAN” (ayat 2) dalam kata Yunani “peirazo”, memiliki dua pengertian. Pertama, secara negatif berarti temptation = godaan. Ini biasanya timbul dari keinginan dari manusia itu sendiri (ayat 14). Sedangkan Kedua, secara positif berarti test=ujian. Penderitaan bagi orang percaya adalah suatu penderitaan “Bersama Kristus” dan “Bagi Kristus”. Bersama Kristus berarti penderitaan itu datang tatkala kita berjalan bersama Dia dengan iman dan dalam pengertian bahwa penderitan itu ditanggung di dalam kekuatan yang disediakan-Nya.
Bagi Kristus berarti penderitaan itu menguji dan menbuktikan kesetiaan kita kepada kebaikan dan kuasa-Nya dan dalam pengertian bahwa penderitaan itu menyingkapkan kebernilaian-Nya sebagai upah dan hadiah yang cukup. Mari kita lihat manfaat pencobaan/ujian ini, ❶ Menghasilkan ketekunan (3): “Allah melatih/mendidik orang percaya menggunakan penderitaan-penderitaan, dan dengan demikian memajukan keselamatan mereka”. Kata ‘ketekunan’ diartikan dalam bahasa Yunani: HUPOMONE yang berarti ‘kemampuan bertahan dalam kesukaran, bukan dengan sikap sekedar bertahan (diam/pasif), tetapi dengan sikap sedemikian rupa sehingga mampu untuk menjadikan situasi/hal yang tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang memuliakan Tuhan’. Pandangan dunia pada umumnya ialah situasi yang sakit identik dengan pahit. Tetapi secara unik, iman Kristen menganggap bahwa hal itu sesuatu yang manis. Hal yang sama dipakai oleh Petrus dalam 1:6-7 bahwa pencobaan selama di dunia ini membuktikan kemurnian imanmu. Paulus juga menulis di Roma 5:3 ‘Kesengsaraan menimbulkan ketekunan’. Jadi, sikap ini menegaskan bahwa keadaan apapun dalam hidup ini, kita tetap memprioritaskan untuk memuliakan Tuhan. Ketekunan ini, bukan saja hanya menjadi sikap yang pasif tetapi menjadi sebuah wujud dari tindakan mengikut Tuhan. ❷ Membentuk buah yang matang (4): Kekristenan itu, mengarahkan kita kepada sebuah tujuan yang kekal. Penderitaan-penderitaan kita menyaksikan jenis kasih yang Kristus miliki bagi dunia. Kekristenan itu adalah sebuah proses untuk bertumbuh ke arah yang Tuhan kehendaki yaitu dewasa/sempurna. Istilah matang ini bisa juga diartikan sempurna. Jadi, untuk menuju kematangan ini, membutuhkan proses dan waktu serta kemauan keras agar seseorang disempurnakan dalam karakter dan perilakunya (Matius 3:8, Mazmur 119:67). Allah sering menggunakan penderitaan sebagai sarana untuk mengembalikan orang-orang yang tersesat kepada-Nya. Penindasan akan melembutkan hati, membuka telinga kepada kebenaran. Contoh: Perumpamaan Anak yang Hilang (Lukas. 15:17).
Bagaimana seharusnya sikat kite dalam menghadapi pencobaan: ❶ Meminta hikmat kepada Allah (ayat 5): Dalam ayat 5 ini menunjukkan bahwa orang Kristen pada zaman Yakobus ini juga tidak semua sudah dewasa secara rohani. Di sini mereka diingatkan kembali bahwa jika di antara jemaat masih ada yang kurang hikmat menghadapi ujian ini, didorong agar meminta hikmat kepada Allah. Hal yang sama juga dituliskan oleh Yohanes dalam Wahyu 13:10, yang penting di sini ialah ketabahan dan iman orang-orang kudus”. ❷ Menganggap sebagai kebahagiaan (ayat 2): ”Nasihat pertama di sini adalah menanggung pencobaan dengan pikiran yang ceria/sukacita. Fakta duniawi adalah mustahil seseorang bisa berpikir seperti ini jika menghadapi penderitaan. Arti dari ayat ini menjelaskan bahwa bukan kesukaran/pencobaan itu sendiri yang harus kita anggap sebagai suatu kebahagiaan, tetapi hal-hal baik yang akan dihasilkan oleh pencobaan/kesukaran itu, seperti ketekunan dan kesalehan. ❸ Tidak bimbang (ayat 6-7): Ayat ini juga menegaskan bahwa sebagai orang beriman, memiliki sikap yang teguh dalam mengandalkan Tuhan. Orang percaya memliliki sebuah dasar kemenangan atas setiap ujian yaitu pemeliharaan Tuhan atas kehidupan ini. Orang yang menghampiri Allah membawa permohonan harus yakin bahwa ia memang memerlukan apa yang ia minta dari Allah itu. Tuhan mengasihi orang yang setia kepada-Nya. Orang yang mendua hati juga tidak pernah tenang dalam hidupnya. Hanya orang yang teguh imannyalah yang dikasihi oleh Dia. Kiranya kita semakin mengalami pergaulan yang intim dengan Tuhan melalui setiap pergumulan hidup ini. Jadikanlah Tuhan sebagai kekuatan di tengah hidup dan Ia akan menguatkan kita dalam mengiring Dia.