Pengkhotbah

Perikop
Yosua 1:1-9

Ringkasan Khotbah

Salah satu kebiasaan manusia pada umumnya adalah sulit keluar dari kebiasaan hidup yang telah berjalan lancar dan menjadi sebuah kebiasaan yang dijalani. Fakta ini dialami oleh umat Israel ketika mereka mengalami suatu perubahan kehidupan yang sudah berjalan dengan baik yaitu di bawah kepemimpinan Musa. Keadaan yang baru ini menjadi masalah baru bagi kehidupan masyarakat dan kepemimpinan Israel. Apakah Tuhan kehabisan orang yang dapat melakukan pekerjaan-Nya? Tentu tidak, dalam ayat 1-2 ditulis bahwa Tuhan berfirman kepada Yosua: “Bersiaplah sekarang dan pimpinlah umat Israel menuju tanah perjanjian”. Yosua diperkenalkan sebagai abdi Musa. Ada hal yang perlu kita ketahui di sini: kepada Musa, disebut identitasnya sebagai hamba Tuhan=Ebed YHWH. Ini adalah status sebagai seorang hamba Tuhan. Kepada Yosua, disebut sebagai abdi Musa=Mesaret Moseh. Gelar ini lebih halus dari pada “hamba” (budak: Ibraninya: ebed; hanya gelar hamba Tuhan dan gelar kehormatan). Gelar “abdi” tsb dipakai juga sehubungan dengan pegawai raja dan isi istana atau sehubungan dengan para petugas ibadah (bdk. 1 Taw 27:1). Mengapa gelar ini dikenakan kepada Yosua? Hal ini tidak lepas dari peranannya dalam mengintai negeri Kanaan, kesetiaannya melayani sebagai orang kepercayaan Musa (lihat Kel 24:13; Bil 11:28; Bil 27:18-19).

Yosua selalu menunjukkan sikap yang berkenan kepada Tuhan yaitu ia selalu mengasihi Tuhan. Karena itu, Tuhan menilai dan menyatakan bahwa Yosua itu penuh roh. Dalam tradisi Alkitab, seseorang yang diakui penuh roh adalah mereka yang benar-benar mengasihi Tuhan. Contoh: Yusuf (Kejadian 41:38), Daniel (Daniel 4:8), Zakharia (Lukas 1:67), Stefanus (Kisah Rasul 7:55), dll. Pada intinya, setiap orang yang penuh dengan roh adalah mereka yang senantiasa hidup memuliakan dan mangasihi Tuhan. Hal ini, dimiliki oleh Yosua sehingga tidak mengherankan jika ia dipakai sebagai pemimpin bagi Israel.

Lalu, apa yang harus ia lakukan dalam menjalani kehidupan dan tanggung jawab melayani Tuhan? ❶ Kuatkan dan teguhkanlah hatimu (6), mulai ayat 1, ditulis bahwa “berfirmanlah Tuhan kepada Yosua”. Kita bisa melihat bahwa inilah dasar kehidupan dan pelayanan Yosua. Dalam perjalanan selanjutnya, prinsip ini terus menerus terjadi (Yosua 3:7, 4:1,15; 5:2,9, dll). Setelah Tuhan menyatakan Firman-Nya secara pribadi, kini Ia mendorong Yosua untuk mengikuti kehendak Tuhan bagi dirinya. ❷ Merenungkan Taurat siang dan Malam (ayat 8). Tuhan menghendaki agar Yosua menjadikan Tuhan sebagai kekuatannya. Prinsip utama yang ditekankan oleh Tuhan di sini ialah merenungkan Taurat itu siang dan malam (ayat 8). “Merenungkan” (Ibr._hagah) berarti membaca dalam hati atau bicara kepada diri sendiri sementara berpikir. Kata ini juga dijelaskan “mengulang-ulang dengan suara pelan.” Alkitab menjelaskan banyak hal tentang kuasa Firman antara lain: (a) Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17). Kita telah merenungkan bahwa Iman berasal dari Allah. Ia memakai Firman-Nya untuk menuntun tiap orang kepada-Nya. (b) Kitab Suci menuntun kepada keselamatan dan juga membentuk perilaku (2 Tim 3:15-16). Kejadian pada masa itu, ditulis oleh Paulus dalam 2 Timotius 4:3, hal yang sama juga ditulis oleh Daud di Mazmur 119:9. Dengan demikian, Firman dapat membentuk kelakuan seseorang menjadi layak di hadapan Allah. (c) Kitab Suci menyegarkan jiwa (Mazmur 19:8). Istilah “menyegarkan” menunjukkan seseorang mengalami lelah, capek. Dalam ayat 9 disebut bahwa perintah Tuhan itu murni, artinya bersih, tidak ada kesalahan. Dengan demikian, Allah telah memberikan tempat yang sangat sempurna bagi kita untuk mengenali-Nya yaitu Firman-Nya sendiri. Karena itu, renungkanlah itu siang dan malam. (d) Supaya engkau bertindak hati-hati (Yosua 1:8). Memang banyak orang yang ingin sukses, tetapi jarang memperhatikan Firman. Tetapi di sini kita melihat dasar keberhasilan Yosua yaitu merenungkan Taurat siang dan malam. Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 15:5 “sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa”.

Karena itu, marilah kita mengalami pergaulan dengan Allah melalui merenungkan taurat itu siang dan malam. Kekristenan tidak dapat mengalami pertumbuhan ke arah yang baik tanpa Firman. Agama Kristen sangat identik dengan Firman. Kristen yang mengabaikan Firman menjadi agama yang mati. Karena hanya Firman yang dapat mengarahkan kita kepada kehendak Tuhan. Bergaullah dengan Allah melalui perenungan Firman secara rutin dan konsisten.